Sangiangapi Status Waspada, ini Level Gunungapi dan Sejarahnya yang Perlu Anda Ketahui

Iklan Semua Halaman

.

Sangiangapi Status Waspada, ini Level Gunungapi dan Sejarahnya yang Perlu Anda Ketahui

Kamis, 30 Januari 2020
Gunungapi Sangiangapi Kecamatan Wera Kabupaten Bima. Foto Ist.

Bima, Berita11.com— Berdasarkan pengamatan pada 29 Januari 2020, status Gunung Sangiangapi Kabupaten Bima berada pada level II atau waspada. Hal tersebut berdasarkan data Pos Pengamatan Gunungapi Sangiangapi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi, Kementerian ESDM yang dilansir dalam laman magma.vsi.esdm.go.id, Kamis (30/1/2020).

Sesuai laporan petugas Pos Pengamatan Gunungapi Sangiangapi, Nur Hudha, A.Md, PVMBG Badan Geologi, merekomendasikan masyarakat di sekitar Gunung Sangeangapi dan pengunjung maupun wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari kawah Gunung Sangeangapi.

Selain itu, masyarakat di sekitar Gunung Sangeangapi (1949 mdpl) dan pengunjung atau wisatawan agar mewaspadai bahaya aliran piroklastik, serta tidak diperbolehkan mendekati dan beraktivitas di daerah di antara Lembah Sori Wala dan Sori Mantau hingga mencapai pantai, serta pada Lembah Sori Boro dan Sori Oi.

Masyarakat, petani, pengunjung maupun wisatawan juga direkomendasikan, tidak diperbolehkan mendekati dan beraktivitas pada semua lembah sungai yang berhulu dari pusat aktivitas atau puncak Gunung Sangeangapi untuk menghindari potensi ancaman bahaya aliran lahar yang mungkin terjadi pada saat hujan.

Sesuai pengamatan petugas, aktivitas vulkanik Gunung Sangeangapi berada pada sistem terbuka (open-system) sehingga kemungkinan terjadinya akumulasi tekanan yang besar masih kecil. Selain itu, data kegempaan dan anomali panas mengindikasikan masih adanya injeksi magma yang dapat berimplikasi pada pertumbuhan kubah lava atau aliran lava.

Secara meteorologi, cuaca Sangeangapi, cerah, berawan, dan hujan. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur dan selatan. Suhu udara 28-35 °C dan kelembaban udara 61-70 %. Volume curah hujan 0.1 mm per hari.

Adapun secara visual gunung jelas, kabut 0-I, hingga kabut 0-II. Asap kawah teramati berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tipis dan tinggi 50-150 m di atas puncak kawah. Sementara itu, aktivitas kegempaan, embusan 38, amplitudo : 3-11 mm, durasi: 29-80 detik, vulkanik dalam, jumlanya 1, amplitudo: 8 mm, S-P: 1 detik, durasi : 10 detik,



Level Gunungapi

Secara umum, terdapat empat level gunungapi yang harus Anda ketahui yaitu:

Level 1

Level 1 menandakan aktivitas gunung berapi yang normal. Pada level ini, gunung api aktivitasnya berfluktuasi, tapi tidak mengalami peningkatan. Ancaman bahaya yang dapat terjadi berupa gas beracun di area kawah.

Level 2

Waspada merupakan arti dari level ini. Pada level ini, gunung api tersebut mulai mengalami peningkatan aktivitas, bisa dapat berupa erupsi. Ancaman bahaya pada level ini adalah erupsi di sekitar kawah.

Level 3

Level ini berarti siaga. Pada level ini, aktivitas gunung api makin meningkat dan kemungkinan erupsi terjadi lebih besar. Ancaman pada level ini, yakni erupsi yang meluas, tapi tidak mengancam permukiman penduduk.

Level 4

Level berarti awas. Pada tahap ini, aktivitas gunung api terus meningkat dan erupsi terjadi. Ancaman bahaya erupsi dapat meluas dan mengancam permukiman penduduk.


Gunungapi mempunyai pengertian yang cukup kompleks, yaitu merupakan bentuk timbulan di permukaan bumi yang dibangun oleh timbunan rempah gunung api. selain itu, dapat diartikan sebagai jenis atau kegiatan magma yang sedang berlangsung. Pengertian lainnya, merupakan tempat munculnya batuan leleran dan rempah gunungapi yang berasal dari dalam bumi. Sebuah gunungapi disebut aktif apabila kegiatan magmatisnya dapat dilihat secara nyata. Leleran lava dari kawah puncak atau kawah samping, adanya awan panas guguran, lahar letusan dan lainya.

Morfologi gunungapi aktif biasanya menampakkan bentukan krucut sempurna. Sejarah dan hipotesis kejadian bumi erat kaitannya dengan asal gejala vulkanisma. Pengetahuan terhadap bumi memberi simpulan bahwa pada suatu waktu di masa lampau, bumi pernah melewati fasa cair pijar, di mana bagian terluar mengalami pengkristalan menjadi kulit bumi dan sewaktu waktu mengalami retak sehingga magma dapat menerobos ke permukaan.

Hipotesis para ahli mengatakan bahwa bumi dan planet lainnya terbentuk dari proses aglomerasi masa jagad raya yang telah mendingin (plantetisimal) atau proses pendinginan dan kondensasi gas panas matahari (nebular).


Sifat-sifat kimiawi magma

Dalam buku Pengantar Dasar Ilmu Gunungapi, Muzil Alzwar, Hanang Samodra dan Jonatan J. Tarigan menulis, senyawa kimiawi magma, yang dianalisis melalui hasil konsolidasinya di permukaan dalam bentuk batuan gunungapi, dapat dikelompok menjadi senyawa-senyawa volatil, yang terutama terdiri dari fraksi gas seperti CH4, CO2, HCl, H2S, SO2, NH3. Komponen volatil akan mempengaruhi magma, antara lain, kandungan volatil khususnya H2O, akan menyebabkan pecahnya ikatan Si-O-Si yang akan mempengaruhi inti kristal. Apabila nilai viskositas magma rendah, maka difusi akan bertambah dan pertumbuhan kristal pun terjadi. Kandungan volatil khusus H2O akan mempengaruhi suhu kristalisasi sebagai besar fasa mineral.

Senyawa lain sebagai senyawa magma melalui hasil konsolidasi di permukaan batuan gunungapi, termasuk senyawa-senyawa yang bersifat non-volatil dan merupakan unsur-unsur oksida dalam magma. Jumlahnya mencapai 99% isi, sehingga merupakan major element yang terdiri dari oksida-oksida SiO2, Al2O3, Fe2O3, FeO, MnO, MgO, CaO, Na2O, K2O, TiO2, P2O5.

Unsur-unsur lain yang disebut unsur jejak (trace element) dan merupakan minor element seperti Rubidium (Rb), Barium (Ba), Stronsium (Sr), Nikel (Ni) Cobalt (Co), Vanadium (V), Croom (Cr), Lithium (Li), Sulphur (S) dan Plumbun (Pb). Unsur-unsur jejak tersebut terdapat tidak sebagai oksida dan tak dapat digunakan sebagai dasar penggolongan magma.

Pola Kelurusan Gunungapi di Busur Kepulauan Indonesia

Tjia (1968) telah menganalisis pola kelurusan gunungapi di Indonesia, yang untuk masing-masing daerah dibuat diagram kipas kelurusannya. Arah-arah oragen atau jajaran gunungapi untuk tiap daerah ternyata berlainan, sehingga arah tegasan kompresi yang dianggap tegak lurus arah oragen, untuk tiap daerah juga berbeda. Gari lurus arah-arah orogen dianggap sebagai pencerminan dari rekahan-rekahan yang mempunyai kemeringan dari 70 derajat hingga tegak. Hal tersebut dapat dibuktikan adanya pelengkungan busur kepulauan dari Sumatera-Jawa hingga Indonesia Timur, yang merupakan Busur Banda Dalam yang bergunungapi. [US]