Sat Pol Airud Polres Dompu Lakukan QW Program 1 di Pesisir Pantai Kilo -->

Iklan Semua Halaman

.

Sat Pol Airud Polres Dompu Lakukan QW Program 1 di Pesisir Pantai Kilo

Thursday, January 23, 2020
Kasat Pol Airud Polres Dompu IPDA Lalu Muhammad Iksan saat menyampaikan materi kepada warga yang hadir dalam mengikuti giat tersebut. foto ist

Dompu, Berita11.com – Satuan Pol Airud Polres Dompu melakukan kegiatan Quick Wins (QW)  Polri program 1, penertiban dan penegakan hukum bagi organisasi radikal dan anti pancasila bersama para nelayan di pesisir pantai perairan Dusun Selayar Desa Lasi 1, Kecamatan Kilo Kabupaten Dompu, Kamis (23/1/20) dimulai sekira pukul 09.30 Wita hingga 12.05 Wita.

Giat dipimpin Ps. Kasat  Pol Airud IPDA Lalu Muhammad Ikhsan dan didampingi dua orang anggota yakni Banit 1. unit patrol, Brigadir Muhammad Alauddin dan Ba Sat Pol Airud Briptu Zulkifli Putra Utama.

Pada kesempatan itu, turut hadir Kepala Desa Lasi, diwakili Sekertaris, Bhabinkamtibmas, Kepala Dusun, Tokoh Masyarakat, Tokoh agama, Tokoh Pemuda dan puluhan masyarakat nelayan pesisir yang ada di dusun selayar, desa setempat.

Kegiatan tersebut bertujuan untuk menyampaikan kepada warga nelayan berkaitan dengan bahaya penyebaran faham radikalisme dan anti pancasila kepada masyarakat, agar mereka dapat mewaspadai dan mengantisipasi keberadaan faham itu.

IPDA Lalu Muhammad Ikhsan menyampaikan materinya terhadap masyarakat bahwa radikalisme dan anti pancasila tidak hanya terjadi di luar negeri seperti kelompok ISIS saja. Melainkan juga telah merasuk dalam tatanan kehidupan masyarakat di Indonesia, termasuk di Kabupaten Dompu.

“Beberapa waktu lalu, Kabupaten Dompu pernah terjadi eksodus kelompok yang dilarang berada di Indonesia khususnya di dompu, tapi kita bersyukur, keberadaan faham tersebut dapat ditangani hingga tidak berkembang ke masyarakat,” katanya.

Karenanya, Lalu Muhammad Ikhsan mengingatkan kepada seluruh elemen masyarakat, agar meningkatkan kewaspadaan terhadap keberadaan dan pengaruh faham-faham radikalisme dan anti pancasila ini. Masyarakat selalu mawas diri dan melakukan kontrol sosial terhadap lingkungannya.
 
usai kegiatan QW Polri Program 1 di pesisir pantai kilo. foto ist
“Makanya, ketika masyarakat menemukan adanya kelompok-kelompok atau ormas yang menyimpang hendaknya segera dilaporkan kepada aparat yang berwewenang, agar segera dilakukan penanganan dan penindakan,” imbuhnya.

Terkait penanganan terhadap kelompok radikalisme dan anti pancasila itu sendiri, Kasat Pol Airud mengingatkan, masyarakat selalu mengedepankan proses hukum. Masyarakat jangan mudah terprovokasi dan main hakim sendiri. Karena, tindakan itu tidak mencerminkan perilaku masyarakat yang taat hukum.

“Kita serahkan kepada aparat penegak hukum Polri dan TNI untuk menanganinya dengan baik sesuai aturan dan ketentuan hukum yang berlaku di negeri ini. Tidak boleh main hakim sendiri, sebab hanya akan merugikan masyarakat sendiri,” sebutnya.

Usai menyampaikan materi sosialisasi dan berdialog, Ps. Kasat Polairud, masyarakat menyapaikan dan mengikrarkan deklarasi pernyataan sikap, paham radikal dan anti pancasila. Kemudian, menyerahkan bantuan kepada masyarakat yang hadir mengikuti kegiatan tersebut.

“Bantuan yang diberikan berupa paket life boy, teks pancasila, bendera merah putih, dan paket sembako,” punkasnya.

Berikut beberapa kriteria terhadap seseorang dikategorikan menganut faham radikalisme dan anti Pancasila antara lain:
( 1 ). Tercatat sebagai pengurus organisasi yang memiliki faham radikal dan anti pancasila atau pro khilafah.

( 2 ). Terdaftar sebagai anggota organisasi yang memiliki faham radikal dan anti pancasila. 

( 3 ). Tidak terdaftar  sebagai pengurus dan anggota tetapi aktif (hadir) mengikuti kegiatan yang dilakukan organiasasi yang memiliki faham radikal dan anti pancasila. 

( 4 ).  Mendukung atau memfasilitasi kegiatan yang berisi faham radikal dan anti pancasila seperti, memberikan sumbangan, ikut mensosialisasikan kegiatan, menyuruh orang lain atau mengajak untuk hadir dalam kegiatan, memperbolehkan rumah atau kantornya dijadikan lokasi kegiatan.

( 5 ).  Menulis atau mensosialisasikan pendapatnya yang mendukung faham radikal dan anti pancasila.

( 6 ).  Mengkoleksi dan atau memposting tulisan atau pendapat orang lain yang mendukung faham radikal dan anti pancasila. [RIS]