Soal Atlet Silat Internasional yang Terlantar, ini Penjelasan Pemkab dan Pelatih

Iklan Semua Halaman

.

Soal Atlet Silat Internasional yang Terlantar, ini Penjelasan Pemkab dan Pelatih

Kamis, 30 Januari 2020
Foto Bersama Atlet Pecnak Silat asal Bima  dan Anggota lain Kontingen, Usai Kejuaraan Pencak Silat Internasional di Bali di Depan Spanduk Berlogo KONI Bali, Pemrov Bali dan IPSI. Foto via Dae Ko'o Chairunnas.

Bima, Berita11.com— Sebelumnya, sejumlah media merilis 30 atlet pencak silat internasional yang mengikuti kejuaraan di Bali terlantar. Menanggapi isu tersebut, pelatih silat, Dinas Dikbudpora dan Sekretariat Daerah Kabupaten Bima menyampaikan klarifikasi.

Kepala Bidang Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Nonformal, Informal, Pemuda, dan Olahraga, Dinas Dikbudpora, Drs Chaerunnas M.Pd, menjelaskan, pihaknya sebagai OPD perpanjangan tangan pemerintah daerah yang bertanggung jawab terhadap proses pembibitan, pemantauan, pembinaan dan pengembangan olahraga dan prestasi di Kabupaten Bima tidak pernah berkoordinasi dengan mereka.

“Kami berhasil memberangkatkan kontingen 52 orang dan berhasil meraih juara II umum. Kontingen berangkat dengan surat tugas kepala dinas,” katanya.

Dijelaskannya, pencak silat open internasional adalah kejuaraan yang sifatnya terbuka bagi perguruan silat, sehingga tidak masuk dalam kalender KONI. “Sifatnya menjadi tanggungan perguruan silat yang ikut seperti halnya PSBT. Tetapi dalam hal ini, PSBT tetap melakukan koordinasi dengan sekolah tempat bernaung siswa yang menjadi atlit,” ujarnya di Woha, Kamis (30/1/2020).

Selain pembiayaan sendiri, mereka berangkat dengan modal biaya dari orang tua, perguruan pencak sila, dari sekolah dan para pembina. “Mereka mengirim 52 atlet berkat koordinasi yang baik, tidak ada yang terlantar dan bisa meraih prestasi sebagai juara umum 2,” ujar mantan Kepala SMPN 3 Woha yang juga Ketua Dewan Pencak Silat Bintang Timur, ini.

Sementara itu, pelatih pencak silat, kontingen dari Kabupaten Bima, Agus Supriadi S.Pd menyampaikan apresiasi dan ungkapan terima kasih kepada Bupati Bima, Dinas Dikbudpora, para orang tua atlet, dan kepala sekolah yang telah membantu biaya akomodasi para atlet. Walaupun sebagian banyak kepala sekolah tidak mengizinkan siswa berangkat.

Menurut Agus, prestasi itu mengharumkan nama Bima di kancah internasional, membawa pulang medali emas, setelah mengalahkan pesilat-pesilat perguruan besar.  

Sebelumnya, sebagaimana kesepakatan rapat pada Jumat, 17 Januari 2020 bersama kepala sekolah, orang tua, atlet silat, dan Dinas Dikbudpora,  disepakati empat poin berkaitan rencana mengikuti turnamen internasional di Bali yaitu keberangkatan Rabu, 22 Januari  2020 pukul 10.00 Wita di Bandara Sultan Muhammad Salahuddin Bima, adapun sumber anggaran pendukung dari Pemkab Bima untuk penginapan dan makan, dari orang tua siswa untuk transportasi udara, adapun sekolah, menanggung uang saku per siswa Rp500 ribu selama lima hari.

Sementara itu, Kepala Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan, Sekretariat Daerah Kabupaten Bima, M Chandra Kusuma AP menegaskan, pihaknya telah mengonfirmasi berkaitan isu puluhan atlet silat yang terlantar.

Menurutnya, perguruan silat yang melaporkan terlantar, disebabkan tidak ada koordinasi. Karena 30 orang atlet itu, sebagian besar bukan berasal dari Kabupaten Bima. Adapun yang berasal dari Kabupaten Bima hanya empat, sehingga perguruan silat tersebut tidak melakukan koordinasi dengan Kabupaten Bima.

“Namun begitu kami mendengar kabar kesulitan yang mereka alami, maka kami melakukan koordinasi secara personal dengan Ketua Persibidom untuk mengecek, serta membantu mereka dan pagi diupayakan penjemputan dengan bus,” katanya.

Dijelaskannya, informasi yang diperoleh Pemerintah Kabupaten Bima justru para atlet yang dikabarkan terlantar, justru tidak terlantar. “Mereka sengaja memanfaatkan waktu melihat Bali sambil menunggu jadwal kepulangan dan menginap di keluarga masing-masing,” jelasnya. [CR-AD]