Ada Apa dengan TikTok? -->

Iklan Semua Halaman

.

Ada Apa dengan TikTok?

Tuesday, February 25, 2020



Oleh: Ririn
(Ibu Rumah Tangga)



Pengguna media sosial Indonesia saat ini dapat dipastikan sudah tidak asing lagi dengan layanan TikTok. Sebab dalam beberapa bulan terakhir, layanan TikTok sedang menjadi perhatian banyak pihak. Mulai dari anak-anak, remaja bahkan orang tua. Aplikasi ini begitu cepat menarik perhatian banyak pengguna. Aplikasi tersebut membolehkan para pengguna untuk membuat video pendek mereka sendiri dengan berbagai pilihan fitur-fitur yang menarik. Bahkan TikTok seringkali mengadakan kompetisi untuk menjaring banyak like dari video yang mereka unggah. Tujuannya agar semakin banyak kaum muda berkreasi dan berlomba-lomba serta mengadu kepintaran dalam mengedit video agar menjadi menarik.

Diluncurkan pada September 2016 di Tiongkok oleh Zhang Yimin. Ia adalah pendiri Toutiau, yaitu aplikasi berita untuk pengguna di Tiongkok. Berdasar dari laporan Sensai Tower, TikTok berhasil mencatatkan diri sebagai aplikasi yang paling banyak di unduh di APP Store dan diprediksi sudah diunduh sebanyak 45,8 juta kali pada kuartal pertama 2018. Yiming sendiri kini dikenal sebagai salah satu orang terkaya di Tiongkok. Menurut sumber dari majalah Forbes, Yiming berhasil masuk dalam daftar 30 orang terkaya dengan umur di bawah 30 tahun. Suatu pencapaian rekor yang luar biasa, bukan?
Seperti halnya Bowo Alpenliebe, artis TikTok yang sempat viral pada eranya saat itu, Yang dijuluki oleh netizen sebagai raja TikTok dengan followers yang sangat banyak dan sering mengadakan berbagai acara meet and greet dan selalu ramai di datangi para fanatik setianya. Bahkan si raja TikTok tersebut kerap kali di undang di berbagai stasiun televisi di Indonesia. Namun, tenarnya raja TikTok ini justru menuai kontroversi hingga menjadi perbincangan. Sebabnya karena acara meet and greet tersebut berbayar. Akibatnya, si raja TikTok tersebut mendapat nyinyiran pedas para netizen. Meskipun begitu, Bowo tetap memiliki penggemar yang setia. Buktinya akun instagram pribadinya masih memiliki 600 ribu pengikut.

Tak hanya Bowo saja yang terkenal pada saat itu. Artis TikTok seperti Nurrani yang sempat ngaku-ngaku sebagai istri sah Iqbal, penyanyi terkenal yang juga membintangi film DILAN pun sempat menjadi perbincangan netizen dengan lagu emang lagi syantik di media social.

Pada bulan Juli 2018, Kementrian Komunikasi dan Informasi Indonesia atau Kominfo pernah memblokir aplikasi ini secara sementara dikarenakan banyaknya pengaduan masyarakat karena konten tersebut bermuatan pornografi, pelecehan agama, hingga asusila yang dinilai dapat memberikan dampak buruk bagi kaum muda dan akibat dari pemblokiran sementara akun terebut membuat matinya era TikTok dan tenggelamya nama Bowo dan kawan-kawan.

Dan baru-baru ini ada berita yang lebih menghebohkan lagi. Yakni berita yang dikeluarkan oleh CNN Indonesia pada Selasa, 18 februari 2020, bahwa Presiden Indonesia yaitu Bapak Jokowi memberikan arahan kepada BPIP atau Badan Pembina Ideologi Pancasila agar dapat mensosialisasikan Pancasila melalui TikTok. Menurut Kepala BPIP, Yudian Wahyudi, dalam rapat dengar pendapat Komisi II di Kompleks Parlemen Jakarta, mengatakan, pihaknya berencana menggunakan sejumlah platform media sosial untuk mensosialisasikan Pancasila ke generasi muda mulai dari Youtube, blog, hingga TikTok.

Yudian mengatakan bahwa langkah itu diambil untuk menjawab permintaan Presiden Jokowi yang ingin BPIP fokus kepada generasi milenial. Selain Medsos, Yudian tak menutup kemungkinan mensosialisasikan dan membumikan Pancasila menggunakan media seperti film dan musik dan juga menggunakan beberapa kompetisi-kompetisi olahraga untuk mensosialisasikan nilai-nilai Pancasila.

Pernyataan Yudian pun mendapat berbagai komentar dan kritik dari netizen. Ada netizen yang mengatakan bahwa kalimat yang ada dalam Pancasila itu adalah kalimat yang sangat sakral, jadi tidak pantas untuk dibuat TikTok. Jika demikian, bagaimana dengan pendapat anda? Setujukah dengan pendapat Bapak Yudian ataukah Anda memiliki pendapat yang lain. Jika saya yang ditanya mengenai hal ini, maka saya akan memberikan pendapat bahwa hati-hati dengan manipulator Pancasila. Udah itu aja. (*)