Bima Ramah Salah Kaprah -->

Iklan Semua Halaman

.

Bima Ramah Salah Kaprah

Friday, February 28, 2020


Penulis: Ginanjar Gie


“Untuk membangun kesadaran masyarakat dalam berdemokrasi bukan dengan cara membangun jalan tol" Rocky Gerung.

Pernyataan pakar filsuf atau yang kita kenal dengan abang Rocky atau Profesor Rocky di atas adalah menitik beratkan bahwa di dalam politik dan berdemokrasi membutuhkan program isi kepala yang dinamakan dengan intelektual, bukan pada ranah pencitraan tahunan yang hanya waktu membutuhkan suara, lalu kita akan turun menyapa masyarakat dan berjanji untuk membawa program dari dunia antah berantah.

Para politisi yang tengah membutuhkan suara rakyat dengan mudah mengucap janji yang tak karuan untuk meraih simpatik masyarakat demi meraih kemenangan di tiap-tiap kontestasi Pemilu dan Pilkada. Dan ini adalah hal senonoh yang dilakukan oleh para politisi, karena ini merupakan praktik pragmatis yang diterapkan secara membudaya.

Tahun demi tahun, praktik pencitraan ini terus dan menggerus lalu menaungi pikiran dan opini masyarakat. Dari mobil SMK sampai pada pembagian perabotan rumah: (periuk, dandang, kipas angin, dll) lengkap.

Dari paparan di atas, penulis ingin mengajak pembaca yang budiman untuk mencermati dan mengamati dinamika perpolitikan Pilkada yang ada di seluruh Indonesia. Dalam hal ini penulis mencermati tentang bagaimana dinamika politik Pilkada Kabupaten Bima, di mana petahana dan pendatang baru beradu kekuatan dalam mewarnai kontestasi Pilkada di beberapa bulan ke depannya.

Di sini, di atas visi-misi Bima Ramah, petahana tengah membagi-bagi jatah bagi masyarakat yang mau menerimanya kembali menjadi pemimpin untuk periode 2020-2026. Bagi-bagi Sembako maupun perabotan rumah ini, tentunya bukan pertama kali dan ini merupakan pendidikan yang diajarkan oleh bapak negara kita dalam setiap kunjunganannya yang berbagi-bagi sepeda.

Tentu juga dalam hal ini, tidaklah salah dalam hal apapun ketika pemimpin berbagi. Karena di samping berbagi hadiah, pemimpin kita juga mau menyapa rakyatnya. Namun yang paling disayangkan adalah bagaimana kepemimpinan yang sering disebut sebagaimana adegiu di tiap kedai kopi berfatwa "Kemarau setahun diobati hujan sehari”. Karena memang itulah yang terjadi.

Jargon Bima Ramah yang dibawa kini menjadi Bima Salah Kaprah, di mana keramahan penduduk dibarter dengan periuk berharga puluhan ribu saja, Sementara indeks zona merah daerah Kabupaten Bima dalam ranah kejahatan dan berdarah masih terlabeli dengan indah.

Seandainya Bupati Bima sadar akan jargonnya, maka yang Bupati Bima terapkan adalah pembangunan Sumber Daya Manusia yang bertitik pada pahaman etika dan estetika agar keramahan dalam berwarga negara dan keharmonisan antarwarga kerap terjaga sebagaimana yang dicita-citakan bersama dalam pilar terbentuknya suatu kelompok atau bangsa, karena tujuan dibentuknya negara ini adalah untuk mencapai civil society atau yang kita kenal dengan masayarakat sadar akan nilai (Madani) (*)