Demi Bangun Ponpes dan Ciptakan Generasi Qurani, Kakak-Adik Rela Jual Harta -->

Iklan Semua Halaman

.

Demi Bangun Ponpes dan Ciptakan Generasi Qurani, Kakak-Adik Rela Jual Harta

Saturday, February 29, 2020
Tahap pengerjaan Ponpes Hadnurlaili di Dusun Pali Desa Keramat Kecamatan Kilo Kabupaten Dompu. Foto ist.

Dompu, Berita11.com - Sungguh mulia niat seorang kakak dan adik yakni Hadasi pria 47 tahun dan Hasanuddin pria 44 tahun warga Dusun Pali, Desa Kramat, Kecamatan Kilo Kabupaten Dompu NTB. Mereka rela menjual harta mereka ternak sapi enam ekor, kambing enam ekor dan lahan 10,03 hektar.

Hal itu mereka lakukan demi membangun sebuah Pondok Pesantren (Ponpes) di desa mereka dengan tujuan agar terciptanya generasi millennial yang Qurani, yang bisa bertilawah dan yang bisa menghafal Alquran. Ponpes diberi nama Hadnurlaili dibangun dua lokal dengan ukuran 9x8 meter.

"Kami berkeinginan untuk membangun Ponpes ini adalah menjadikan ajang mengasah dan meningkatkan keterampilan membaca dan menghafal Alquran secara baik, dan benar, terlebih dalam mengaplikasikannya dikehidupan sehari-hari," ungkap Hasanuddin, kepada Berita11.com, Sabtu (29/2/20) siang.

Selain itu, generasi millennial yang Qurani dan bersyiar Islam diharapkan membuming khususnya di wilayah Kecamatan Kilo dan generasi millennial kedepannya bisa berguna baik untuk orang lain, bangsa maupun negara, lebih-lebih untuk kedua orang tuanya.
Tahap pengerjaan Minggu kedua. Foto ist.
Menurut Hasanuddin, membangun Ponpes harus memiliki modal pribadi, dalam hal ini bisa memahami ilmu-ilmu Alquran atau bisa memahami hukum-hukum bacaan Alquran dengan baik. Modal itu telah dimilikinya.

"Saya harus bisa membagun yayasan sendiri apalagi saya mempunyai modal untuk itu, walau saya harus korbankan harta, tenaga, pikiran dan lain-lain dan semua itu, saya lakukan semata-mata demi membangun genersi-generasi yang milenial," terang Hasanuddin.

Di sisi lain, lanjut Hasanuddin, mereka termotivasi untuk membangun Ponpes karena selalu ditawarkan untuk memimpin pesantren hingga ditawar untuk menjadi kepala yayasan, akhirnya berpendapat, dari pada dimanfaatkan oleh orang lain lebih baik membangun Ponpes sendiri.

"Saya selalu diminta untuk memimpin Ponpes oleh yang punya yayasan, terakhir, saya diminta menjadi kepala sekolah yayasan Islam yang bertempat di Kore Kecamatan Sanggar Kabupaten Bima, jadi perasaan saya, kenapa orang lain bisa memanfaatkan saya, kenapa saya sendiri tidak," imbuh pria kelahiran 13 Januari 1976 ini.

Tak hanya itu, motivasi lain yang mendorongnya untuk membangun Ponpes tersebut adalah dukungan dari para ulama, para ustadz, para sahabat, jiran dan tetangga beserta keluarga sehingga mereka semakin tekad untuk membangun Ponpes.
Samping kanan yang menggunakan kaos belang seorang kakak dan sebelah kiri menggunakan baju biru seorang adik Hasanuddin saat di tempat pembangunan Ponpes. Foto ist
"Pihak yang mendukung saya diantaranya Al Ustadz Ikraman M. Pd, Ustadz A. Rajak Ahmad, Ustadz H. usman H. A. Hamid, Ustadz Abdul Haris, S.Pd.I, dan Dr Hc. H. Abdul Arsad," beber Hasanuddin.

Selain mendukung pembangunan Ponpes, para ustadz tersebut yang membimbing Hasanuddin sehingga diutus untuk ikut Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ) dengan mata lomba qirod mujawab, perwakilan Kabupaten Dompu yang digelar di Lombok Timur pada tahun 2010 dan 2017 lalu.

Terkait dengan pembangunan Ponpes ini, Hasanuddin menambahkan, tentu sangat membutuhkan bantuan atau spirit dari beberapa pihak seperti Pemerintah Desa, Pemerintah Kabupaten dan Pemerintah Provinsi. Untuk itu pihaknya sangat berharap dukungan dan suport sangat dibutuhkan.

"Mudah-mudahan pembina TPQ husnul khotimah ini, yang santrinya sebanyak 115 orang walau yang rajin 78 orang, bisa menjadi Ponpes uswatun hasanah atau bisa menjadi contoh sekolah-sekolah lain yang bernuansa agama khususnya di wilayah Kecamatan Kilo," pungkasnya. B-10]