NTB Kembangkan Empat Strategi Mengatasi Stunting

Iklan Semua Halaman

.

NTB Kembangkan Empat Strategi Mengatasi Stunting

Selasa, 04 Februari 2020
Suasana Konsultasi Publik Rencana Aksi Daerah Pangan dan Gizi Provinsi NTB yang Digelar di Mataram, Selasa (4/2/2020).


Mataram, Berita11.com— Meski angka prevalensi stunting di NTB saat ini masih tercatat 33,5%, sudah jauh lebih baik jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Namun angka tersebut masih di atas angka nasional sebesar 29,6%.

Mengatasi masalah tersebut, NTB terus mengembangkan empat strategi dan sejumlah program aksi penanganan stunting secara terintegrasi. Yakni  peningkatan SDM, peningkatan Kualitas PMBA, peningkatan Edukasi gizi, dan penguatan intervensi gizi di Puskesmas dan Posyandu.

“NTB juga fokus melakukan penguatan gizi dengan pendekatan siklus hidup 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) dan remaja,” ujar Kepala Bappeda Provinsi NTB, Wedha Magma Ardi diwakili Kabid Perencanaan Pembangunan Sosial Budaya, L. Hasbulwadi saat Konsultasi Publik penyusunan RAD-PG N di Kantor Bappeda NTB, Selasa (4/2/2020).

Dijelaskannya, keempat strategi tersebut dibarengi dengan program promosi konseling Pemberian Makanan Bayi dan Anak (PMBA), promosi dan konseling menyusui serta pemantauan terhadap pertumbuhan dan perkembangan bayi dan anak. “Juga pemberian suplementasi tablet tambah darah (TTD) ibu Hamil dan remaja serta pemberian vitamin A dan makanan tambahan lainnya bagi ibu hamil dan balita,” katanya.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan NTB, Dra Panca Yuniarti, Apt, mengungkapkan, sejatinya program-program tersebut telah berjalan cukup lama. Namun terkendala tingkat kepatuhan masyarakat yang masih rendah. Cakupan pemberian TTD di NTB, sudah cukup tinggi (92,4%), namun angka tersebut masih kontras dengan tingkat kepatuhannya masih di angka 33%.

Ia juga menjelaskan bahwa pemberian makanan tambahan pada ibu hamil dan balita serigkali terkendala dengan kejenuhan terhadap biskuit yang dibagikan. Meski begitu,  pemerintah terus berupaya menyelesaikan permasalahan tersebut dengan terus mengedukasi masyarakat dan petugas kesehatan.

Tidak sendiri, Pemprov NTB juga dibantu oleh generasi milenial. Generasi milenial tak hanya menjadi subjek dalam program ini, melainkan juga sebagai partner yang siap diajak kerja sama menuntaskan masalah gizi dan stunting di NTB.

Seperti Kaum Milenial Sadar Gizi besutan Baiq Fitria Rahmiati, runner up 2019 Sosial Enterpreneur Model Innovathon (SEMETHON) NTB yang membantu penyuluhan hidup bersih dan sehat di kalangan masyarakat dengan melakukan berbagai penyuluhan, seperti penyuluhan pemberian MPASI yang baik dan benar, penyuluhan pentingnya tablet tambah darah, serta penyuluhan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan.

Selain itu, Baiq Rahmiati yang tergabung dalam Nutriology Team, juga mengenalkan mie siap saji (mie clarias) dengan daging lele asli yang tinggi kandungan zat besi.
Menurut perempuan yang menuntut ilmu gizi di Universitas Bumi Gora tersebut, salah satu penyebab stunting adalah anemia saat masa kehamilan. Makanan olahan lele dapat menjadi jawabannya karena mengandung zat besi hingga 5,3 g/100 gram, lebih tinggi dari daging sapi, kerbau, ayam, dan kambing.

Tak heran, produk besutan Baiq Rahmiati dan timnya ini mengantar menjadi runner up SEMETHON 2019. “Milenial memiliki kemauan, kemampuan, dan daya. Kami bisa jika kami dilibatkan,” katanya saat mengisi salah satu sesi dalam rakor RAD-PG tersebut.
Sementara itu, Yuni Setianingsih, selaku perwakilan SNV Netherland Development menuturkan, draft final RAD PG NTB direncanakan akan selesai paling lambat April mendatang.


Rapat koordinasi lanjutan dengan agenda konsultasi publik adalah untuk menampung aspirasi berbagai pihak, termasuk generasi milenial, untuk penyempurnaan substansi dokumen RAD-PG. Selain itu, untuk menyamakan persepsi program, kegiatan, indikator kinerja, serta target tahunan selama periode RAD-PG pada tiap pilar.

Tujuan lainnya, meningkatkan pemahaman, penguatan peran dan komitmen pemangku kepentingan pangan dan gizi di Provinsi NTB. Serta memberikan panduan bagi pemerintah dan OPD Lingkup Provinsi dalam melaksanakan rencana aksi pangan dan gizi dengan menggunakan pendekatan multisektor, pemantauan, dan evaluasi berkelanjutan.

“RAD PG Provinsi NTB ini, nantinya juga akan menjadi acuan bagi kabupaten dan kota dalam membuat RAD PG,” pungkas Yuni. [EM]