Setelah Rumah Dibongkar, Pemdes Rasabou Dinilai Ingkar Janji, Warga Kecewa -->

Iklan Semua Halaman

.

Setelah Rumah Dibongkar, Pemdes Rasabou Dinilai Ingkar Janji, Warga Kecewa

Saturday, February 29, 2020
Kondisi rumah Fauzi warga Desa Rasabou selama lebih kurang satu bulan. Foto ist Dok. Berita11.com
Dompu, Berita11.com - Seorang pria Fauzi 40 tahun, salah satu warga yang memiliki rumahnya tidak layak huni setelah dibongkar lantaran dijanjikan bakal diperbaiki melalui program rumah kumu oleh Pemerintah Desa (Pemdes) Rasabou Kecamatan Hu’u Kabupaten Dompu NTB.

Namun hingga saat ini, janji itu terkesan hanyalah palsu belaka alias iming-iming saja, meskipun pihaknya telas melakukan koordinasi beberapa kali dengan pihak desa. Hal itu yang membuat pria yang juga merupakan warga setempat ini merasa kecewa atas sikap Pemdes setempat.

Berdasarkan informasi yang diperoleh Berita11.com via telpon seluler, Fauzi mengaku, pada bulan November tahun 2019 lalu, pihak desa telah memprioritaskan dirinya akan mendapatkan bantuan itu, hingga dimintai Kartu Keluarga (KK) dan Kartu Tanda Penduduk (KTP) sebagai persyaratannya.

“Saya datangi kepala desa akhirnya saya dijanjikan akan dikasih anggaran, bahkan saya diperioritaskan, dengan anggaran Rp10 juta, dipotong pajak Rp2 juta, jadi sisanya Rp8 juta, tiga hari kemudian saya dimintai KK dan KTP sebagai persyaratan,” ungkap Fauzi, Kamis (28/2/20) malam.

Mirisnya lagi, akhir tahun 2019 lalu sekitar Bulan Desember Fauzi didesak untuk dibongkar rumahnya oleh Pemerintah Desa, namun pada saat itu Fauzi belum punya uang untuk biaya pembongkaran rumahnya, sementara, warga lain yang berjumlah lebih dari 10 KK rumahnya telah kerjakan hingga tuntas.

“Pada bulan Januari sekitar tanggal 28 saya mulai bongkar rumah sampai sekarang baru berdiri tiang dan atapnya dipakai seng, itu pun seng nya masih kurang sekitar 20 lembar, sehingga saya memakai seng bekas,” kecewa Fauzi.

Selama lebih kurang satu bulan setelah rumahnya dibongkar, Fauzi bersama anak dan sitrinya terpaksa tinggal numpang di rumah mertuanya. Penderitaan Fauzi semakin bertambah dangan adanya kabar yang diterima terakhir kalinya bahwa pemerintah desa mengatakan biaya itu sudah tidak ada.   

“Rumah Saya sudah satu bulan dibongkar, bedek itu, kena panas, kena hujan, bedek itu memang sudah lapuk, jika dibiarkan terus menerus kena hujan dan panas, tambah lapuk lagi. Selama rumah itu dibongkar, kami numpang di rumah mertua. Yang sakitnya lagi, Bendahara bilang anggaran sudah habis,” pusing Fauzi.
Diambil dari samping rumah Fauzi. Foto ist Dok. Berita11.com
 Sebelumnya, Fauzi mengaku, pihak desa hanya menyuplai barang berupa Pasir satu dum truck, Batu satu dum truck dan Semen tiga sak dengan total anggaran kurang lebih Rp1 juta. Sedangkan kayu, kata Fauzi, setelah ditanya ke tukang kayu, seharga Rp2.200 juta, itu pun sebagian kecilnya dibayar sama istrinya senilai Rp600 ribu, jadi sisanya Rp1.600 juta.

“Memang kemarin saya hanya dibelikan bahan, Pasir, Batu, dan semen tiga sak, totalnya sekitar Rp1 juta, kalau kayu, harganya Rp.2.200, itupun dibayar sama istri saya Rp.600 ribu,” terang Fauzi.  

Fauzi berkeinginan terhadap Pemdes, bisa melihat kondisi kehidupnya, serta membuka mata hati nuraininya untuk menepati janji yang pernah dikeluarkan oleh Pemdes. “Saya berharap rumah saya cepat selesai, apalagi sekarang musim hujan kalau terus menerus dikenai hujan tambah hancur apalagi rumah itu terbuat dari barang bekas,” pungkas Fauzi.

Sementara, Bendahara Desa Rasabou Bahrudin saat dihubungi Berita11.com via telpon menuturkan, pengerjaan rumah Fauzi seharusnya dilakukan hari ini, akan tetapi tenaga kerja terkendala dengan pekerjaan lain sehingga pengerjaan itu ditunda, bahkan pihak keluar Fauzi telah dipanggil oleh pihak desa Jumat (28/2) kemarin.

“Rencananya mau kerjakan hari ini, tapi tenaga kerja sudah pergi bajak sawah, akhirnya tertunda, bukan tidak ada anggaran hanya terkendala di situ, bahkan tadi pagi istrinya datang dan kami memberikan uang, masalahnya sudah selesai,” kata Baharudin, Sabtu (29/2) siang.

Terkait dengan anggaran yang sudah habis, Baharudin mengaku, bahwa anggaran tersebut telah dikasih bahkan sudah di ACC oleh pihak desa. Bukan hanya keluarga Fauzi, kata Baharudin, semua perangkat desa telah dipanggil termasuk Kepala Dusun (Kadus).

“Anggaran juga sudah kami kasih kemarin, senilai Rp7 juta, dan semua warga termasuk kepala dusun sudah kami panggil semua, kendala yang lain, dia (Fauzi, red) minta bata, sementara bedek di rumahnya banyak, makanya terlambat pengerjaan rumahnya,” beber Bendahara. [B-10]