Tugas Jurnalis Dihalangi, AJI Mataram Biro Bima Klarifikasi Lurah Tanjung

Iklan Semua Halaman

.

Tugas Jurnalis Dihalangi, AJI Mataram Biro Bima Klarifikasi Lurah Tanjung

Selasa, 11 Februari 2020
Sejumlah Pengurus AJI Mataram Biro Bima Mengklarifikasi Lurah Tanjung, Senin (10/2/2020).


Kota Bima, Berita11.com— Aliansi Jurnalis Indenpenden (AJI) Mataram Biro Bima, menemui Lurah Tanjung Kecamatan Rasanae Barat Kota Bima, Faisal meminta klarifikasi soal dugaan menghalangi tugas jurnalis.

Lalu M. Tudiansyah, anggota AJI Mataram Biro Bima, yang merupakan jurnalis Radar Tambora, mendapat perlakuan tidak etis dari Lurah Tanjung saat melakukan wawancara beberapa waktu.

Lurah diduga mengeluarkan bahasa tidak etis sebagai pejabat publik. Bahkan yang bersangkutan emosi hanya karena tidak ingin diwawancara mengenai program kelurahan tahun 2020.

Dalam pertemuan di ruangan Lurah Sarae, Ketua AJI Mataram melalui Biro Bima, Sofiyan Asyari yang didampingi sejumlah anggota AJI menyampaikan beberapa hal ke Lurah terkait persoalan tersebut.

“Dasar tugas dan fungsi kami sebagai jurnalis yakni UU Nomor 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP) dan UU nomor 40 tahun 1999 tentang Pers,” katanya.
Pada kesempatan itu, ia menegaskan seorang jurnalis yang memahami UU KIP dan UU Pers akan menjalankan peran dan fungsinya dengan baik. Seperti mengenalkan diri (identitias) kepada narasumber.

“Kita juga tidak memaksa ataupun mencari kesalahan narasumber, karena dalam menjalankan tugas kami memiliki kode etik jurnalistik,” katanya.

Ia berharap, persoalan tersebut tidak akan terjadi ke depan, mengingat media massa sebagai mitra kerja pemerintah atau pihak yang menyangkut dan berurusan dengan publik (orang banyak).

“Mitra kerja di sini yakni tugas mengawal kinerja serta mengaprasiasi program-program yang berhasil dijalankan,” katanya.

Selain klarifikasi, Sofiyan menambahkan pertemuan tersebut sebagai wadah untuk literasi media kepada Lurah. Yakni mengenalkan lebih luas peranan dan fungsi pers sesuai UU Pers.

“Sejatinya seorang jurnalis hanya mencari berita dan menulisnya. Kalau ada yang mengancam itu bukan sikap jurnalis,” katanya.

Lurah Tanjung Faisal menerima baik proses klarifikasi yang dilakukan AJI. Surat advokasi yang disampaikan pun, diterimanya. Hanya saja, Faisal belum memastikan akan menjawab surat klarifikasi dan advokasi yang dilayangkan terhadap dirinya atau tidak.

“Terima kasih. Tentu kita akan bersinergi. Sekali lagi terima kasih,” katanya. [US]