Cemas Wabah Korona dan Trauma Janji Efek Positif TPA, FORMAPP Waduwani Aksi Tolak IPLT

Iklan Semua Halaman

.

Cemas Wabah Korona dan Trauma Janji Efek Positif TPA, FORMAPP Waduwani Aksi Tolak IPLT

Senin, 30 Maret 2020
Massa Tolak Proyek IPLT
Aksi Massa Forum Mahasiswa, Pemuda dan Pelajar Desa Waduwani Menolak Proyek IPLT di Desa Setempat, Senin (30/3/2020). Massa Menutup Ruas Jalan Raya dan Menyandra Truk Sampah yang Hendak Menuju TPA di Desa Waduwani Woha, Kabupaten Bima.

Bima, Berita11.com— Lebih kurang 20 massa Forum Mahasiswa, Pemuda dan Pelajar (FORMAPP) Desa Waduwani, Kecamatan Woha Kabupten Bima yang dipimpin Yusuf Hakim menggelar aksi penolakan proyek Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) di desa setempat, Senin (30/3/2020).


Massa beralasan menggelar aksi penolakan karena cemas terhadap wabah Corona. Selain itu, warga dan para pemuda setempat memiliki trauma terhadap janji pemerintah tentang program pemberadayaan, penyerapan tenaga kerja atas dampak pembangunn Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di desa setempat pada tahun 2011 lalu.

Dalam aksinya, massa membawa bendera merah putih, spanduk dan sejumlah pamflet berisi narasi tentang penolakan IPLT di Desa Waduwani.


Dalam orasinya, Yusuf Hakim menyatakan, hadirnya proyek atau program pemerintah di desa sejatinya memajukan desa dan menjadi nilai positif desa. Hal itu adalah salah satu harapan yang diimpikan setiap desa yang menjadi sasaran program pemerintah. Pada tahun 2011 yang lalu, proyek TPA hadir di di Desa Waduwani Kecamatan Woha.

“Pada awal kehadiran (TPA), Pemkab Bima dan pihak terkait mensosialisasikan banyak dampak positif dari proyek TPA tersebut. Antara lain akan menyerap banyak tenaga kerja lokal, meningkatkan ekonomi masyarakat setempat, sampah organik akan diolah menjadi pupuk, dan lain-lain. Namun yang terjadi tidak demikian,” katanya.

Diungkapkannya, hampir 10 tahun ini dampak negatif yang dirasakan masyarakat setempat. Bau menyengat dan lalat berkeliaran di area-area pertanian masyarakat Desa Waduwani. Belum lagi banyak muatan sampah yang jatuh di tengah jalan dan dibiarkan begitu saja.

“Tahun ini, proyek Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) hendak dimasukkan oleh Pemkab ke Desa kami lagi dengan dalih proyek lanjutan dari TPA. Proyek ini masuk tanpa melalui mekanisme dan prosedur, baik sosialisasi proyek dilakukan setelah pekerjaan pematokan lokasi selesai,” katanya.




Menurut dia, sosialisasi itu harusnya dilakukan pada tahap perencanaan proyek, bukan pada tahap pelaksanaan proyek. Itu sebagaimana buku utama IPLT yang dikeluarkan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Tahun 2018) Pada buku petunjuk itu dijelaskan bahwa proyek IPLT harus memerhatikan aspek teknis dan nonteknis di lapangan.

“Proyek tersebut haruslah disosialisasikan secara jujur dan terbuka kepada masyarakat Desa Waduwani. Namun yang terjadi, proyek ini diduga dijalankan sembunyi-sembunyi dan diam-diam,” katanya.


Melihat berbagai kondisi itu, demi memperjuangkan dan menyelamatkan petani serta masyarakat Desa Waduwani dari limbah pada masa mendatang. Selain itu, memertimbangkan dan demi menjunjung tinggi nilai- nilai kemanusiaan, kebudayaan, keadilan dan kebenaran, pihakna menolak IPLT.

“Pemerintah hari ini tidak pro rakyat. Hari ini kami turun ke jalan guna menolak hadirnya IPLT di desa kami. Kami pemuda peduli kesehatan rakyat dan kami turun kejalan atas niat yang tulus. Melalui proses TPA saja belum maksimal berdasarkan janji pemerintah daerah untuk mengutamakan fisik Desa Waduwani di antaranya pembangunan mesjid dan hotmix gang yang ada,” katanya.


Dalam aksinya, massa memblokade jalan raya dan menahan laju truk sampah yang menuju TPA di desa setempat. Massa kemudian menggelar orasi di atas kendaraan tersebut.

Kapolsek Woha, IPTU Prayitno yang tiba di lokasi berupaya menegosiasi massa aksi.

Kapolsek menyampaikan tentang situasi daerah dan negara yang tengah menghadapi wabah Corona.


“Secara nasional kegiatan ini adalah unjuk rasa yang tidak di berikan izin oleh pihak kepolisian. Untuk sementara ini adik-adik yang taat aturan, mari silakan hentikan kegiatan. Kalau bisa kita ngomong baik-baik, namun jaga jarak, jangan pernah melanggar apa yang dikeluarkan oleh pemerintah melalui maklumat dan imbauan Kapolri untuk menghindari keramaian atau kerumunan massa,” pesanya.

Menanggapi arahan dan negosiasi Kapolsek Woha, Korlap massa menyatakan, aksi massa dilatar belakangi keresahan karena pihak pekerja proyek IPLT terus melanjutkan pekerjaan tanpa ada surat kesepakatan masyarakat setempat dengan Pemkab Bima.

“Sebelum ada surat dari Pemkab terkait kesepakatan kemarin, tidak boleh dilanjutkan pekerjaan tersebut,” tandas Yusuf.


Setelah sempat dihadang massa, dua truck sampah melanjutkan trayek menuju TPA. Awalnya massa menunggu Sekda Kabupaten Bima hadir di desa setempat untuk menyampaikan tanggapan. Tak lama, sekira pukul 12.00 Wita, Kapolsek Woha bersama Kepala Desa Waduwani dan Ketua BPD setempat menyampaikan imbuan kepada massa.

Kades dan Ketua BPD Waduwani diarahkan agar berkoordinasi dengan OPD berkaitan untuk melaksanakan pertemuan lanjutan. Massa kemudian membubarkan diri. [B-11]