M16: PDIP Perlu Jajaki Parpol Alternatif di Pilkada Kota Mataram

Iklan Semua Halaman

.

M16: PDIP Perlu Jajaki Parpol Alternatif di Pilkada Kota Mataram

Selasa, 24 Maret 2020
Direktur M16, Bambang Mei Finarwanto. Foto Ist.


Mataram, Berita11.com— Koalisi PDIP dan PKS di Pilkada Kota Mataram yang konon mengusung paket Selly Andayani - TGH Abdul Manan dinilai baru sebatas tebar pesona atau belum pasti.

Mi6 memprediksi  kemungkinan langkah dua Parpol ini berubah mendekati masa pendaftaran calon kelak masih terbuka. Untuk itu, menurut Mi6 tak ada salahnya  PDIP menjajaki Parpol alternatif untuk memperkuat karakter politik Selly Andayani.

Lembaga Kajian Sosial Politik M16 menilai koalisi PDIP-PKS di Pilkada Kota Mataram akan menjadi warna baru peta politik. Di mana dua Parpol besar dengan "mahzab" berbeda bisa bersatu mendukung pasangan yang sama.

"Kalau ini terjadi sangat bagus. Tapi masalahnya sampai sekarang kan belum jelas. PDIP sudah oke, tapi PKS kan belum ada rekomendasi. Pertanyaan kemudian siapa yang diuntungkan dengan situasi ketidak-jelasan ini,”  kata Direktur M16, Bambang Mei Finarwanto, di Mataram, Rabu (25/3/2020).

Pria yang akrab disapa Didu ini memaparkan, koalisi PDIP-PKS sejumlah Pilkada di NTB sudah sempat mencuat dan hangat di media massa. Sejumlah pertemuan silaturahmi Ketua DPD PDIP NTB H Rachmat Hidayat dan Gubernur NTB yang juga petinggi PKS, juga  semakin memperkuat hal itu.

Hanya saja, hingga saat ini keseriusan yang mengikat nampaknya hanya dilakukan PDIP yang sudah menerbitkan surat rekomendasi. Sementara PKS, belum jelas.

“Dalam posisi saat ini PKS harus gentle. Terbitkan juga rekomendasi, jangan abu-abu dan membuat ambigu,” katanya.

Didu mengatakan, PDIP juga sudah saatnya melakukan pendekatan dan membuka ruang politik untuk partai lain di Pilkada Kota Mataram. Hal ini untuk menjaga kemungkinan bila akhirnya nanti koalisi PDIP dan PKS tak terealisasi.

Parpol Kawan Sekutu

“PDIP perlu menggalang dukungan politik menambah Parpol kawan sekutu sebagai upaya memperkuat citra sekaligus melebarkan basis konstituen untuk antisipasi dini,” kata Didu.

Didu menambahkan, seandainya koalisi PDIP dan PKS final mengusung Paslon, maka keberadaan Parpol lain tetap penting dan strategis menjadi perekat sekaligus menambah dukungan agar makin aware di mata publik.

Direktur Mi6  mengulas sepintas koalisi PKS dan PDIP dari sisi show of politics sebagai pilihan taktik yang cerdik dari sisi hubungan simbiosis mutualisme. Meskipun demikian apakah persekutuan politik ini kemudian dipahami tujuan strategisnya oleh pemilih dan loyalis votternya  di Kota mataram? Mengingat kedua partai ini memiliki basis pemilih yang berbeda karakter secara politik.

“Jika tidak dimanage dan dimaintance dengan baik,  tidak tertutup akan menjadi blunder bahkan mudah diinsureksi kepentingan politik lain,” ujar Didu.

Didu mengatakan letak urgensi koalisi PDIP dan PKS perlu menambah Parpol sekutu politik. Selain untuk menutup celah kepentingan politik lain memainkan sentimen atas nama perbedaan mazhab. Keberadaan Parpol lain ini tentu akan menjadi buffer atau peredam  sekaligus vote getter mendulang suara pemilih lainnya. [B-11]