Serukan Ciptakan Suasana Damai, Toma KSB Ajak Masyarakat Tunggu Putusan Akhir tentang Omnibus Law -->

Iklan Semua Halaman

.

Serukan Ciptakan Suasana Damai, Toma KSB Ajak Masyarakat Tunggu Putusan Akhir tentang Omnibus Law

Monday, March 2, 2020
Ustadz Daud. Foto B-25. Berita11.com.


Taliwang, Berita11.com— Tokoh masyarakat yang juga guru ngaji di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) asal Kecamatan Seteluk, Daud Zabur mengajak para pemuda, serikat pekerja, tokoh, aktivis dan masyarakat umum agar bersama-sama menunggu putusan akhir dan pengesahan Undang-Undang Omnibus Law, khususnya berkaitan lapangan kerja. Masyarakat harus menciptakan ketertiban dan suasana aman serta damai yang selama ini sudah tercipta Bumi Pariri Lema Bariri.

Menurut Ustadz Daud, kita sudah memiliki perwakilan di legislatif atau Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) yang dihasilkan melalui proses yang legal dan demokratis. Yakni melalui Pemilu 2019 lalu, sehingga tepat bila masyarakat atau publik mempercayakan dan memberikan kesempatan kepada legislatif untuk membahas maupun mengesahkan undang-undang dan regulasi-regulasi turunannya seperti UU Omnibus Law.

Dikatakannya, jika ada hal yang dianggap tidak tepat dari UU dan regulasi itu sudah ada mekanisme maupun prosedur yang dapat ditempuh oleh publik termasuk aktivis buruh maupun pihak-pihak berkaitan. Yaitu kanal di Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia (MK RI) untuk menguji undang-undang  yang menjadi produk legislatif sebagaimana usulan pemerintah.

Ia mengatakan, seluruh elmen di daerah tidak perlu membuat gaduh. Apalagi secara berlebihan menyikapi UU Omnibus Law. Karena ada mekanisme atau kanal yang telah disediakan pemerintah.

“Tidak perlu kita membuat gaduh, apalagi menggelar aksi yang berpotensi mengganggu ketertiban umum, kenyamanan berlalu lintas maupun aktivitas lainnya,” katanya di Seteluk, Senin (02/3/2020).

Ia pun menaruh harapan besar UU Omnibus Law dapat mewakili ekspektasi publik atau kepentingan rakyat Indonesia. Karena produk itu yang akan dikenang dan diingat generasi mendatang sebagai “kue termanis” dari seorang pemimpin atau rezim. [B-25]