Cerita Haru dr. Husni Detik-detik Sang Istri Tutup Usia saat Tangani Pasien Covid-19 -->

Iklan Semua Halaman

.

Cerita Haru dr. Husni Detik-detik Sang Istri Tutup Usia saat Tangani Pasien Covid-19

Thursday, April 30, 2020
Almarhumah Nurkomalasari, SE dan Suaminya dr. Husni Mubarak.

Dompu, Berita11.comSiapa yang tidak sedih ketika kehilangan seseorang yang kita cintai, lebih-lebih tak bisa berada di sampingnya di saat-saat menghembuskan nafas terakhir. Seperti yang dialami seorang dr. Husni Mubarak yang terpaksa tidak bisa berada di samping sang istri saat detik-detik sakaratul maut, lantaran ia harus menangani pasien yang positif terjangkit Covid-19.

Pria yang dipercaya sebagai direktur Rumah Sakit (RS) Pratama yang merupakan tempat karantina pasien positif covid-19 ini, sepertinya sulit untuk menerima kenyataan dan hatinya sangat terpukul setelah mendengar kabar bahwa sang istri tercinta telah mengahadap sang kahalik.

Sang istri Nurkomalasari, SE merupakan putri terbaik daerah yang saat ini menjabat sebagai anggota Badan Pengawasan Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Dompu tutup usia pada, Selasa (28/2/20) dini hari sekira pukul 02.00 Wita di RSUD Kota Mataram setelah 1 tahun penuh mengalami penyakit ginjal. 

Husni mengungkapkan, selama sang istri menjalani pengobatan dan perawatan, hanya bisa berkomunikasi via telpon video coll untuk mengetahui perkembangan kesehatan sang istri, meskipun sebelumnya ia bisa menemani hanya satu minggu di RSUD Kota Mataram. Namun tugas dan kewajiban, ia harus meninggalkan sang istri untuk kembali ke Dompu.

Selang beberapa hari kemudian berada di Dompu, dr. Husni menerima telpon dari dr. Alif yang merupakan Direktur RSUD Dompu yang menyatakan bahwa RS Pratama ditunjuk sebagai tempat karantina pasien yang positif terjangkit covid-19. Setelah mendapat kabar tersebut, ia merasa ragu dan cemas, sementara sang istri tempat dia curhat dan tempat mengadu tidak ada di sampingnya.

“Pertamanya saya dihubungi dr. Alif, kagetnya itu, konfirmasinya secara tiba-tiba, apalagi tempat karantinanya telah disebarkan melalui media, semalaman saya berpikir, termasuk efek positif dan negatifnya jika menerima RS Pratama sebagai tempat karantina,” ceritanya, Rabu (29/4) malam di rumahnya.

Menurut Husni, sebagai Direktur, sebenarnya bisa untuk menolak atas penetapan itu, namun kembali ia berpikir dan mempertimbangkan untung dan ruginya bagi warga Kabupaten Dompu yang jika dibiarkan tentunya virus yang mematikan itu akan menular ke orang lain.  

“Akhirnya saya shalat di pertigaan malam, untuk meminta petunjuk kepada Allah, kemudian muncul hidayah bahwa teman-teman jamaah tabligh saya putuskan untuk dikarantina di RS Pratama dan kalau dibiarkan saya merasa berdosa,” terangnya.

Hal itu juga, Husni sempat menceritakan kepada sang istri melalui via telpon dan sang istri memberikan dukungan dan menyetujui, meskipun sang istri akan terus berjuang melawan penyakit yang dideritanya tanpa seorang suami, hal itu yang membuat pria ini tak tahan dengan semua kenyataan yang ada.

Apalagi sang istri, menurut dia, sangat komplit, bisa dijadikan teman, saudari, tempat curhat, dan tempat ia mengadu, lebih-lebih tempat dia bermusyawarah atau berdiskusi apabila dihadapkan suatu permasalahan yang ia hadapi juga yang berkaitan dengan pekerjaan.

“Saya coba kasih tau ke istri, sesuai pertimbangan tadi, mungkin nanti jika tidak dikarantina, kita akan berdosa, karena nanti pasti akan menular ke teman-teman lain, beliau (almarhumah, red) mengatakan, iya, itu sudah menjadi tugas dae, apalagi menjadi soerang dokter, bismillah aja dulu, semoga kedepan dae bisa datang menjenguk,” ceritanya dengan nada sedih.

Masuk hari ketujuh, pasien yang psotif terjangkit covid-19 semakin meningkat, sementara sang istri kondisinya semakin parah, tetapi wanita yang begitu tegar ini (almarhumah) terus berusaha untuk memberikan yang terbaik berupa dukungan dan suport terhadap suaminya meskipun sakit yang dialaminya semakin memburuk.

“Memang rutin almarhumah melakukan cuci darah, seminggu ada dua kali, setelah cuci darah almarhumah merasakan nyeri, dan kami tetap video coll dan memberikan dukungan ke saya, dan dia pun tau melalui media-media gimana suasana gentingnya di sini, mungkin akibat terbebani oleh pikiran karena mengetahui kabar di sini tentu sangat terganggu psikolongnya,” tuturnya.

Tiba di hari terakhir, Husni menerima pesan singkat dari sang istri melalui WhatsApp yang mengatakan “Ndadi mai dae, mada wati du wa’u ku, mai pabua pu” yang artinya, “jadi datang dae, saya sudah nggak kuat, harus datang” kurang lebih seperti itu, ketika membaca pesan tersebut, perasaan pria ini merasa sangat terpukul dan bergejolak.

Sementara di sisi lain, ia harus bertanggung jawab penuh terhadap pasien yang dikarantina, dan harus berada di RS Pratama selama 24 jam. Apalagi saat itu, pemerintah baik pusat maupun provinsi telah mengeluarkan edaran bahwa penerbangan maupun penyebrangan untuk sementara waktu ditutup.

“Sekitar jam 11 siang, saya dikasih tau keluarga saudari kandung maupun sepupu dari istri yang menemani di rumah sakit kota mataram, saat itu sitri rencananya ada jadwal hemodialisa, akan tetapi tiba-tiba beliau mengeluh, tidak bisa menggerakan kaki dan tangannya,” beber Husni.

Sebelum meninggal, sekira pukul 20.00 Wita, kata Husni, sang istri menginginkan adanya seseorang untuk dia bersandar dan menginginkan tidur di paha baik sang ayah atau pun sang suami sekaligus mengatar kepergiannya.

Namun semua itu sang khalik berkata lain. Hal itu juga yang membuat Husni ingin sekali berada di dekatnya, seperti pesan-pesan istrinya saat melewati hari-hari bersamanya, bahkan ia telah menyusun rencana untuk bagaimana supaya berada di sampingnya.

“Saya mempunyai skenario saat itu, dengan pura-pura membawa pasien yang sakit pakai ambulance bahkan mau menggunakan mobil pengangkut barang biar bisa menyebrang, dan berada di sana, tetapi semua itu Allah punya rencana lain,” urainya.

Sekira pukul 00.20 Wita, Husni dikejutkan dengan masuk telpon nomor istrinya, sejenak, pikiran yang tak menentu tadi hilang seketika karen pikirannya bahwa sang istri sudah mulai membaik, akan tetapi kabar itu malah terbalik yang membuat hatinya semakin terpukul dan sedih hingga jatuh air matanya.

“Tengah malam, masuk telpon video coll, ketika saya melihat nomornya, hati saya merasa gembira, saya berpikir, berarti sudah bisa pegang Hp lagi, setelah diangkat, ternyata bukan dia yang telpon, melainkan sepupunya Mimin, yang memberitahukan bahwa saat itu sedang memberikan bantuan pernafasan, saya menangis, nggak tahan hingga teriak sendirian di sini,” sedihnya.

Pada saat itu juga, Husni memberitahukan kepada keluarganya di Dompu tentang kondisi sang istri dan merasa menyesal, sehingga mengeluarkan kalimat tidak ada guna sang suami seorang dokter namun tidak bisa menolong sang istri.

“Saya menelpon keluarga di sini dan sempat bilang, padahal saya seorang dokter tetapi saya tidak bisa meringankan sakit istri saya sendiri,” tandasnya

Ia merasa menyesal, karena tidak bisa berusaha untuk yang terbaik atas sakit yang diderita sang istri, setidaknya, keinginan Husni, sedikit memperpanjang usianya. Hal itu, yang membuatnya menyesal dan merasa sedih yang begitu mendalam.

“Allah berkata lain, allah lebih mencintai dia, sekitar jam 1 liwat, beliau dinyatakan meninggal dunia, semakin saya nggak tahan dan teriak sekencang-kencangnya di sini (di rumah, red),” sambungnya.

Usai peristiwa yang dialaminya, pria yang berprofesi sebagai dokter ini melampiaskan amarahnya melalui status facebook miliknya dengan menulis bahwa covid-19 membawa keburukan bagi dirinya.

“Covid 19 hanya keburukan yang kamu bawa, seorang dokter menjadi “JAHAT” bagi istrinya sendiri karena kamu covid 19,” tulis Husni.

Sedangkan almarhumah tengah menjalani penyakit yang dideritanya, sempat menulis dalam sebuah buku diari pada tanggal 16 Januari 2020 lalu, yang mengatakan bahwa dirinya ingin sembuh dan ingin sekali memiliki keturunan, dan tulisan itu tertuju kepada penyakit yang dideritanya.

“Kau tau, aku ingin punya anak, berharap ada pewaris dari darah ini, dan jika pun harus menjauh, aku siap, mudah dan selalu merasa lelah, tidak maksimal untuk bekerja, energi ini rasanya semakin menipis dan terus menipis,” tulis almarhumah.

“Aku ingin sehat, aku ingin selincah dulu, ingin gesit seperti dulu,” sambung tulisannya yang diakhiri dengan tanda tangan almarhumah. [B-10]