Ini Catatan KOBAR terkait Dampak Covid-19 Terhadap Perempuan, Lansia dan Anak

Iklan Semua Halaman

.

Ini Catatan KOBAR terkait Dampak Covid-19 Terhadap Perempuan, Lansia dan Anak

Minggu, 12 April 2020
Ilustrasi/ Dampak Pandemi Korona. Foto Ist.

Semarang, Berita11.com— Wabah virus Corona berdampak banyak terhadap sosial ekonomi dan perekonomian masyarakat. Salah satu kelompok yang sangat rentan terdampak adalah kelompok perempuan, anak-anak, dan orang lanjut usia.

Hingga kini, wabah virus corona baru masih terjadi di Indonesia. Menurut data terbaru
per Jumat (10/4/2020), kasus-kasus infeksi SARS-CoV-2, virus penyebab Corona Virus Disease 2019 (Covid-19), telah dikonfirmasi terjadi di seluruh Provinsi di Indonesia.

Adapun jumlah kasus yang telah dikonfirmasi dan diumumkan oleh pemerintah Indonesia mencapai 3.512 kasus. Jumlah ini mengalami peningkatan sebanyak 219 kasus baru dari hari sebelumnya. Sementara jumlah pasien meninggal menjadi 306 orang. Kemudian, untuk pasien yang telah dinyatakan sembuh kini berjumlah 282 orang. Dari 34 Provinsi yang telah terkonfirmasi terinfeksi Covid-19, Jawa Tengah masuk ke dalam 6 besar provinsi dengan pasien positif terkonfirmasi ada 144 kasus, pasien sembuh ada 18 orang, dan pasien meninggal 22 orang.

Presiden Jokowi sudah mengeluarkan Keppres Nomor 11 tahun 2020 tentang Penetapan
Kedaruratan Kesehatan Masyarakat Corona Virus Disease (Covid-19), PP No. 21 tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial berskala Besar dalam rangka percepatan Penanganan Corona Virus Disease (Covid-19). Di Jawa Tengah, Ganjar juga sudah mengeluarkan keputusan gubernur nomor 360/3/ taahun 2020 tentang penetapan status tanggap darurat bencana Corona Virus Disease (Covid-19) di Provinsi Jawa Tengah.

Koalisi Rakyat Bantu Rakyat (KOBAR) melalui press release yang disampaikan narahubung, Cornel Gea, menilai, sebagian kaum perempuan, baik mereka yang melakukan kerja domestik maupun kerja-kerja di luar rumah, langsung terdampak secara sosial, ekonomi, sampai psikologis atas wabah virus Corona.

“Situasi ini jelas sangat berdampak pada sosial ekonomi dan perekonomian masyarakat.
Salah satu kelompok yang sangat rentan terdampak adalah kelompok perempuan, anak-anak, dan orang lanjut usia. Sebagian kaum perempuan, baik mereka yang melakukan kerja domestik maupun kerja-kerja di luar rumah,” katanya.

Dikatakan, dalam situasi pandemik Covid-19 ini, misalnya, tenaga medis perempuan yang sedang bekerja di rumah sakit, sementara ia mempunyai anak yang harus dirawat, tidak dapat memantau bagaimana proses pendidikan anak-anaknya selama hampir satu bulan terakhir. Kaum lanjut usia atau lansia, terutama yang bekerja di sektor informal seperti pasar tradisional, menjadi salah satu kelompok masyarakat yang sangat rentan terpapar Covid-19.



Dampak yang langsung diterima perempuan adalah dampak ekonomi. Berdasarkan hasil
diskusi LRC-KJHAM bersama kelompok perempuan survivor korban kekerasan, kelompok
perempuan miskin di perkotaan dan komunitas buruh migran di Kabupaten Grobogan, Jawa
Tengah, hampir semua perempuan mengeluhkan situasi ekonomi rumah tangganya karena
adanya Covid-19. Pemasukan rumah tangga berkurang drastis, bahkan ada yang tidak memiliki pemasukan. Para perempuan yang bekerja sebagai tukang pijat (go massage) dan guru les tidak bisa bekerja seiring dengan semakin gentingnya situasi yang diakibatkan oleh Covid-19.

Usaha-usaha ekonomi kecil yang menjadi sumber pencahariaan utama bagi sebagian besar kaum perempuan juga sepi pemasukkan. Yang termasuk dalam usaha ekonomi kecil tersebut di atas adalah pedagang sayur, pedagang buah, penjual makanan di kantin sekolah, jasa laundry, jual pulsa, jual sandal, jual mainan, dan sebagainya. Bersamaan dengan keadaan yang sulit tersebut, harga kebutuhan pokok semakin mahal.

Selain itu, muncul kebutuhan baru bagi ibu-ibu rumah tangga berupa kuota internet yang digunakan oleh anaknya yang harus menjalani proses belajar dari rumah secara online. Persoalan bagi ibu-ibu rumah tangga yang menyediakan kebutuhan kuota untuk belajar ini kemudian melahirkan masalah baru berupa kecanduan pada gawai di antara anak-anak.

“Dalam situasi ini perempuan dituntut harus mampu mengatur dan mengelola keuangan
rumah tangga. Mereka juga harus bisa mengatur anak-anaknya agar tidak sampai kecanduan gawai selama berada di rumah dan memiliki kesempatan berinteraksi dengan gawainya,” kata Cornel Gea.


Menurut dia, berbagai tuntutan-tuntutan baru yang lahir sebagai dampak Covid-19 ini bukan hanya menciptakan kesulitan bagi perempuan dalam mengelola perekonomian domestik, namun juga dampak sosial-psikologis. Covid-19 juga membuat perempuan rentan terdampak secara psikologis. Kebijakan yang berkaitan dengan pembatasan sosial mengharuskan pembelajaran sekolah dilakukan di rumah dan pekerjaan dikerjakan dari rumah atau work from home (WfH). Kebutuhan kuota internet semakin besar bagi keluarga yang memiliki anak dengan sistem pembelajaran online dari rumah. Anak-anak rentan stress, ibu-ibu rumah tangga pun juga merasakan stress serupa.

“Änak stres, orang tua ikut stres,” tutur salah seorang anggota komunitas di Kota Semarang.

Dalam situasi ini perempuan mengalami multiple burden atau beban yang berlapis-lapis. Kaum perempuan harus bekerja, bertanggungjawab dalam hal pengasuhan anak dan mendampingi proses belajar anak, dan tanggungjawab untuk urusan rumah tangga yang lain seperti memasak, membersihkan rumah, dan sebagainya.

Situasi ekonomi yang sulit, meningkatnya beban perempuan dalam rumah tangga,
terbatasnya ruang gerak, dan situasi sulit lain sebagai dampak dari pandemi ini membuat
perempuan rentan mengalami kekerasan. Sepanjang masa pandemi Covid-19 atau sejak bulan Maret hingga saat ini, LRC-KJHAM menerima pengaduan kasus kekerasan terhadap perempuan sebanyak 7 kasus. Laporan yang diterima LRC-KJHAM ini belum merepresentasikan resiko kekerasan dalam rumah tangga yang diterima oleh perempuan di masa Covid.

Pihaknya menduga laporan tersebut hanya puncak dari gunung es kekerasan terhadap perempuan di masa pandemic Covid-19. Salah satu persoalan dari tidak tampaknya gunungan persoalan perempuan di zaman Covid-19 ini adalah karena proses untuk mengakses keadilan perempuan semakin terbatas.

Keadaan yang menyulitkan bagi kaum perempuan, anak-anak dan orang lanjut usia ini
harus ditemukan dan dipikirkan solusinya bersama-sama. Pada situasi yang tidak
memungkinkan mobilitas sosial dan fisikal yang tinggi, misalnya, LRC-KJHAM melakukan
penanganan secara online. Korban mengadukan permasalahannya lewat WA dan konseling
dilakukan lewat WA dan telpon. LRC-KJHAM berkoordinasi dengan rumah sakit dan kepolisian.

Hanya dalam keadaan mendesak LRC-KJHAM bisa melakukan pendampingan secara langsung. Di sisi lain, dalam menghadapi situasi sulit ini kelompok perempuan survivor saling membantu dan saling menguatkan dan saling berbagi strategi menghadapi situasi sulit ini. Dari diskusi melalui WA group, ada survivor yang memiliki keahlian membuat mainan mengajari ibu-ibu lain untuk membuat mainan untuk dijual. Ada juga yang banting stir ke usaha buat masker dan jualan jamu.

Menanggapi bencana yang menimpa kaum perempuan ini, Kementerian PPPA telah
melakukan refocusing kegiatan dan realokasi anggaran sebesar Rp3,6 M untuk materi
komunikasi, informasi dan edukasi tentang pencegahan dan penanganan Covid-19.


Kementerian PPPA juga menyediakan kebutuhan spesifik perempuan dan anak yang terdampak Covid-19, juga bekerja sama dengan kementerian/lembaga, dunia usaha, lembaga masyarakat, dan organisasi perempuan, khususnya terkait dengan perlindungan sosial dan pemberdayaan ekonomi perempuan di saat pandemi Covid-19.1 Komitmen ini tentu perlu dikawal agar bisa tepat sasaran dan mampu merespon kerentanan perempuan yang terdampak pandemi Covid-19. 

Di Jawa Tengah, berkaitan dengan kebijakan, Pemerintah Kota Semarang mengalokasikan bantuan perempuan korban kekerasan yang terdampak ekonomi oleh Covid-19. Sayangnya, sampai dikeluarkannya rilis ini, Dinas Sosial belum memberi konfirmasi siapa yang punya hak menerima bantuan sosial. Institusi pemerintah ini juga belum mengeluarkan rilis berkaitan dengan Instrumen-instrumen apa yang perlu ditambahkan agar korban penerima bantuan sosial di luar data dinas sosial ini tercover.

“Yang menjadi catatan KOBAR, banyak kaum perempuan yang memiliki kesulitan dalam hal kartu identitas untuk mengakses bantuan tersebut. Misalnya para perempuan di wilayah pinggiran dan buruh migran yang ketika dalam proses keberangkatan tidak memiliki identitas atau kevalidan identitas,” kata Gea.

KOBAR meminta, pemerintah harus membuka diri terhadap berbagai masukan informasi tentang data penerima bantuan sosial dari berbagai lapisan masyarakat agar bantuan yang telah dialokasikan tersebut lebih tepat sasaran dan tidak berpijak dari basis data kependudukan saja.

Selain itu, di sektor orang lanjut usia atau lansia, pemerintah perlu menyiapkan langkah-langkah yang harus dilakukan agar bisa memastikan para lansia tersebut tidak terpapar Covid-19. Pemerintah bisa memikirkan pembuatan protokol antisipasi keterpaparan lansia dari Covid-19. Sementara di sektor anak-anak, Pemerintah perlu menyiapkan protokol tentang proses belajar di rumah bagi anak-anak. Sampai sejauh ini, misalnya, Pemerintah mulai memanfaatkan badan penyiaran yang seperti TVRI untuk memperlancar proses belajar di rumah bagi anak-anak.

“Gubernur di Jawa Tengah sendiri sudah mengeluarkan imbauan untuk tidak menambah beban proses pembelajaran bagi anak-anak selama di rumah,” pungkasnya. [B-11]