Produksi Pertanian Menggunakan Pupuk Nonsubsidi Jauh lebih Baik, ini Testimoni Petani di Madapangga -->

Iklan Semua Halaman

.

Produksi Pertanian Menggunakan Pupuk Nonsubsidi Jauh lebih Baik, ini Testimoni Petani di Madapangga

Thursday, April 16, 2020
Penyerahan Hadiah Kuis dari PT Pupuk Kaltim dan CV Rahmawati kepada Petani di So Ntanda Ndeu, Desa Tonda, Kecamatan Madapangga, Kabupaten Bima, Kamis (16/4/2020). Foto B-11/ Berita11.com.

Bima, Berita11.com— Untuk mendapatkan hasil panen yang maksimal, masalah harga seharusnya bukan saja menjadi pertimbangan petani, namun kualitas tanaman dan potensi hasil panen dijadikan pertimbangan, sehingga penggunaan pupuk nonsubsidi lebih direkomendasikan, apalagi di tengah kondisi subsidi dari negara yang terbatas.

Direktur CV Rahmawati melalui Koordinator Admin CV Rahmawati, Asraruddin menjelaskan, jumlah produksi panen petani yang menggunakan pupuk nonsubsidi seperti pupuk NPK dan pupuk Hayati sangat dirasakan masyarakat petani pada beberapa wilayah di Kabupaten Bima, jika dibandingkan dengan penggunaan pupuk subsidi jenis urea dengan konsentrasi unsur nitrogen yang tinggi.

“Secara umum, asumsi masyarakat berkaitan penggunaan pupuk nonsubsidi sudah semakin lebih baik. Misi kami hari ini adalah untuk mencapai pupuk nonsubsidi, sama kuantumnya dengan pupuk subsidi.Targetnya kita beberapa tahun ke depan seperti itu. Untuk hari ini Alhamdulillah lebih dari 20 persen itu, kita (petani) menggunakan nonsubsidi,” ujarnya.

Kisah Sukses Petani di Madapangga Menggunakan Pupuk Pelangi Triple 16, Ecofet dan Pupuk Urea Daun Buah





Debi Irawan, salah satu petani di So Ntanda Ndeu Desa Tonda, Kecamatan Madapangga, Kabupaten Bima mengaku mendapatkan hasil melimpah dua kali lipat setelah menggunakan tiga jenis pupuk nonsubsidi yaitu 150 Kg pupu Pelangi 16 16 16, pupuk Ecofet sebanyak 10 Kg dan pupuk urea 100 Kg.

“Luas yang areal tanam saya 0,5 hektar. Jadi, untuk mendapatkan hasil jagung, saya menggunakan tiga jenis pupuk. Normalnya untuk ukuran 1 hektar, kita menggunakan urea 200 Kg, karena memang ukuran tanah saya 0,5 hektar, di sini dibagi dua, urea saya masukan 100 Kg dan kemudian Pelangi Triple 16. Kalau satu hektar 300 Kg untuk normalnya, saya menggunakan 150 Kg Pelangi Triple, kemudian saya tambahkan juga ecofet, normalnya 20 Kg, karena ukuran hanya 0,5 hektar, sehingga saya menggunakan 10 Kg saja untuk mendapatkan hasil sperti ini,” ujar Deby Irawan.

Menurutnya, pada tahun 2019 lalu hasil panen yang diperoleh di atas lahan 0,5 hektar hanya 2,5 ton ketika masih menggunakan pupuk subsidi. Namun pada tahun ini, ia mendapatkan hasil panen 5 ton setelah mengikuti ajuran dari PT Pupuk Kaltim.

“Saya melakukan pemupukan tiga jenis, kemungkinan berat ubinan ini sekitar 5 ton, ada peningkatan dua kali lipat,” ujarnya.

Sementara itu, penyuluh swadaya Kabupaten Bima untuk wilayah Kecamatan Bolo, Burhan mengatakan, untuk mendapatkan hasil panen yang maksimal, rujukan petani tak boleh hanya berkaitan masalah harga. Namun pertimbangan kualitas pupuk dan potensi hasil yang maksimal mesti menjadi pertimbangan petani, sehingga pihaknya menyarankan petani agar menggunakan pupuk nonsubsidi.

Menurut Burhan, beberapa pertimbangan petani sehingga tak mestinya menyoal penggunaan pupuk nonsubsidi, mengingat kuota pupuk subsidi dari negara yang terbatas. Selain itu, penggunaan pupuk bersubsidi secara berlebihan khusunya jenis urea dengan kandungan nitrogen yang tinggi dalam waktu lama tidak baik untuk tanah.

“Negara ini sudah banyak hutan, sehingga tidak perlu lagi kita menambah beban negara. Masa petani baru yang PNS mau menggunakan pupuk bersubsidi. Beli pupuk nonsubsidi, ada juga selain urea. Kalau kebanyakan urea, itu yang menyebabkan jagung itu akar dan batangnya tidak kuat, sehingga mudah roboh diterpa angin, karena nitrogen dalam urea itu sifatnya mengikat,” ujarnya. 


Kuiz dan Penyuluhan Terbatas kepada Kelompok Tani oleh CV Rahmawati, PT Pupuk Kaltim, PT Bisi dan PPL di So Ntanda Ndeu, Desa Tonda, Kecamatan Madapangga, Kabupaten Bima, Kamis (16/4/2020).

Direktur CV Rahmawati, H Ibrahim menyatakan, kerja sama produsen, ditributor dan BNI dalam program KUR Tani akan tetap berjalan. Sistem program itu dilaksanakan secara berkelanjutan, dengan model penyaluran dari produsen ke ditributor yang melaksanakan kerja sama KUR Tani dengan BNI, kemudian dilanjutkan oleh pengecer ke tingkat petani. Sistemm pengembaliannya oleh petani jagung dari pengecer ke distributor, kemudian dari distributor ke produsen.

Sebagaimana diketahui, Urea ialah pupuk kimia yang mengandung Nitrogen (N) berkadar tinggi. Unsur Nitrogen adalah zat hara yang sangat diperlukan tanaman. Pupuk Urea berbentuk butir-butir kristal berwarna putih, dengan rumus kimia NH2 CONH2, adalah pupuk yang mudah larut dalam air serta sifatnya sangat mudah menghisap air (higroskopis). [B-11]