Puasa di Depan Mata dan Wabah Corona masih Menghantui, jangan Tambah Beban Warga dengan Unjuk Rasa -->

Iklan Semua Halaman

.

Puasa di Depan Mata dan Wabah Corona masih Menghantui, jangan Tambah Beban Warga dengan Unjuk Rasa

Wednesday, April 22, 2020
Ketua PMII KSB, Asmi Listari. Foto Ist.

Taliwang, Berita11.com— Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Kabupaten Sumbawa Barat (PMII KSB) Asmi Listari meminta semua pihak untuk selalu mentaati edaran pemerintah maupun imbauan Majelis Ulama Indonesia dan Maklumat Kapolri untuk menghindari kegiatan yang melibatkan banyak orang, termasuk aksi unjuk rasa.

Ketua PMII KSB meminta seluruh OKP agar membantu masyarakat mewujudkan kesehatan masyarakat dalam mencegah penyebaran virus Corona dengan tidak melakukan unjuk rasa. Apalagi bulan suci Ramadan tinggal menghitung hari.

“Kami meminta tidak usah ada aksi unjuk rasa. Upaya memutus penyebaran virus corona adalah untuk kepentingan banyak orang. Jadi kami mengimbau kepada siapapun, tidak usah demo. Baik terkait hari buruh maupun terkait Omnibus Law,” katanya di Taliwang, Rabu (22/4/2020).

Pihaknya menyadari bahwa di alam demokrasi penyampaian aspirasi dijamin dalam Undang-Undang. Akan tetapi di tengah pandemi corona yang tidak bisa dilihat dan mengancam banyak orang, tentu aksi itu tidak elok dilakukan. Prinsipnya, jangan sampai mengabaikan keselamatan banyak.

“Untuk itu lah, kami selaku kelompok pergerakan mahasiswa meminta semua pihak di Tanah Pariri Lema Bariri dan seluruh wilayah Indonesia pada umumnya, jangan dulu aksi. kalau aksi kemanusia di tengah pandemi ini, itu jauh dibutuhkan oleh masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, jika pun ada hal yang ingin dikritisi berkaitan hak buruh atau berkaitan RUU Omnibus Law, tidak mesti ditempuh dengan cara aksi unjuk rasa. Namun bisa memanfaatkan cara-cara dialogis maupun jalur yang sudah disiapkan dalam Undang-Undang, dengan mengujinya di Mahkamah Konstitusi, atau memberikan input langsung kepada wakil rakyat di DPR RI.

“Manfaatkan duta kita di DPR RI, sampaikan jika ada hal yang kurang tepat. Kalau nanti sesuai mekanisme dan proses di DPR RI justru RUU itu dianggap penting, mau tidak mau kita harus menerima sebagaiman hukum yang berlaku di negara kita ini,” ujarnya.

Ia juga mengimbau para tokoh masyarakat dan tokoh agama, agar terus berikhtiar menyampaikan pemahaman terkait social distancing dan physical distancing untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

“Tidak ada yang lebih penting sekarang ini, terutama untuk kita di daerah yaitu berkaitan penanganan Covid-19. Bersihkan hati dan pikiran, Ramdan di depan mata, ibadah di rumah saja di tengah pandemi ini. jaga jarak, jaga kesehatan dengan cuci tangan dan selalu terapkan PHBS,” pungkasnya. [B-14]