Harga Terus Anjlok, 500 Petani Jagung di Dompu Gelar Aksi Blokade Jalan Negara

Iklan Semua Halaman

.

Harga Terus Anjlok, 500 Petani Jagung di Dompu Gelar Aksi Blokade Jalan Negara

Rabu, 06 Mei 2020
Massa saat menggelar aksi blokade jalan. Foto Poris Berita11.com

Dompu, Berita11.com - Sebanyak 500 massa dari petani jagung yang tergabung dalam Aliansi Serikat Tani (AST) Kabupaten Dompu menggelar aksi blokade jalan Negara lintas Sumbawa-Bima tepatnya di Desa Madaparama Kecamatan Woja, Rabu (6/5/20) pagi.

Massa gabungan dari perwakilan tiap-tiap kecamatan ini melakukan aksi blokade jalan akibat bentuk kekecewaan mereka terhadap harga jagung yang terus anjlok dan kian morosot merugikan para petani.

Massa mendesak Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Dompu untuk mengoptimalkan kembali harga komoditi jagung dari harga semula, berkisar dari harga Rp 3.950.

Kemudian mendesak Pemda untuk melakukan investigasi industry komoditi jagung yang diduga telah melakuakan monopoli bisnis dan eksploitasi pasar dalam penentuan harga yang tidak wajar dan mencekik petani.

Selain itu, mereka juga menuntut Pemda Dompu untuk bertanggungjawab dalam melakukan proses pembelian jagung tingkat petani melalui perusahan daerah (Perusda) dan mendesak Pemda untuk dibuatkan regulasi tetap Perda.

Sekira pukul 09.40 Wita massa aksi dari Kecamatan Woja, Pajo dan Dompu berkumpul di cabang Madaparama dan melakukan aksi diwarnai dengan pembakaran ban bekas ditengah ruas jalan.

Sedangkan, sekelompok masa aksi dari Kecamatan Manggelewa, Kempo, Pekat dan Kilo, titik kumpul di Cabang Manggelewa sembari berorasi mengajak dan menghimbau kepada warga agar melakukan aksi menuntut kenaikan harga jagung, sambil membagikan selebaran kepada pengguna jalan.

Aksi blokade jalan menggunakan kayu serta membuat barisan menutup ruas jalan dari massa Kecamatan Manggelewa, Kempo, Pekat dan Kilo tidak berlangsung lama.

Sekira pukul 10.35 Wita massa tersebut bergerak menuju titik kumpul utama untuk bergabung dengan massa aksi dari Kecamatan Woja, Pajo dan Dompu di cabang Desa Madaparama dengan menggunakan kendaraan roda 4 dan sepeda motor.

Masa aksi melakukan aksi blokade jalan sambil berorasi secara bergantian, meminta kepada pemerintah agar segera menemui masa aksi untuk memberikan tanggapan kepada masyarakat tani tentang turunnya harga jagung.

"Mari kita sama-sama perjuangkan keterpurukan dan ketertindasan ini dan kami membantah pernyataan pemerintah Kabupaten Dompu melalui media sosial selama ini bahwa warga dompu telah sejahtera, itu tidak benar," ujar Idhar salah satu perwakilan dari Desa Serakapi Kecamatan Dompu.

"Jangan jadikan musibah Covid-19 ini sebagai alasan turunnya harga beli hasil tani, harga nasional Rp7.500 rupiah," sambungnya.

Sementara, orasi yang disampaikan dari perwakilan Desa O'o yakni Winda Astari yang merupakan Mahasiswi dari Mataram, menurut dia sangat miris, harga pokok lainnya malah semakin naik sedangkan harga jagung semakin turun.

"Saat ini, sistem jual beli dan pasar yang merupakan rantai reproduksi yang tidak seimbang. Hari ini semua harga bahan pokok naik hal ini dikarenakan musibah virus Corona sementara harga panen para petani sangat rendah," teriak Winda di atas mimbar orasi.

Penuturan senada disampaikan salah satu orator dari perwakilan Kecamatan Pekat, Darwin yang tidak puas dengan pemerintah setempat, yang seolah-olah tutup mata atas apa yang dirasakan oleh para petani jagung.

"Hari ini, kami kembali turun ke jalan, karena permasalahan yang sangat serius yaitu turunnya harga jual hasil tani terutama harga jual jagung yang saat ini merosot sampai 3000, Pemerintah harus bertindak jangan hanya berdiam diri dan tidak mau dengar jeritan rakyat tani," kesalnya.

Orasi dilanjutkan salah satu orator perwakilan dari Desa Taropo Kecamatan Kilo, Iskandar, dalam orasinya, ia mengajak seluruh warga tani agar memperjuangkan keadilan merata. Apalagi, jagung adalah bagian dari program unggulan Pemda Dompu.

"Mari kita perjuangkan kebenaran dan keadilan. Kita semua tau bahwa program unggulan Kabupaten Dompu adalah program TERPIJAR (Tebu Rakyat, Sapi, Jagung dan Rumput Laut) yang dimana program ini sangat mencekik para petani jagung," imbuhnya di atas mimbar orasi.

Pantauan Berita11.com, sekira pukul 12.15 Apkam Polres Sat Brimobda dipimpin Kapolres Dompu AKBP Syarif Hidayat, SH, S.IK tiba di Tempat Kejadian Perkara (TKP) guna melakukan upaya persuasif dengan Korlap dan melakukan mediasi.

Usai mediasi, akhirnya, Kapolres Dompu berupaya menghubungi Pemda Kabupaten Dompu dan Dewan Perwakilan Rakyat di lokasi guna menyampaikan tentang apa yang menjadi tujuan massa aksi.

Sekira pukul 12.35 Wita, pasukan dari Personel Penanggulangan Huru-hara (PHH) dan water canon menghalau massa aksi serta membuka kembali jalan serta memadamkan api serta menyingkirkan kayu yang dijadikan untuk blokade jalan.

Sekira pukul 13.30 Wita, Bupati Dompu Drs H. Bambang M. Yasin (HBY) tiba di TKP menemui massa aksi selanjutnya melakukan dialog bersama ratusan massa aksi.

Dalam dialognya, HBY menuturkan, harga jagung Rp3.150 per kilo gram (Kg) itu berdasarkan kesepakatan Presiden RI Ir. Joko Widodo. Hal itu diketahui melalui Camat Manggelewa.

"Beberapa hari lalu, Camat Manggelewa Drs. Ismail menghubungi saya tentang permintaan warga bahwa harga jagung saat ini Rp3.150 per Kg itu yang ditandatangani oleh Presiden," jelas HBY.

Dikatakannya, saat ini, jagung yang telah dipanen seluas 50 ribu heaktar dan sisa yang belum di panen seluas 20 ribu heaktar.

Menurut HBY, beberapa hari terakhir ini pihaknya telah melakukan koordinasi dangan Pemerintah Pusat yang hingga saat ini, belum ada jawaban dalam menyikapi atas persoalan tersebut.

"Pemkab Dompu tidak memiliki uang untuk membeli jagung, Pemerintah Pusat yang menentukan HPP (Harga Pokok Penjualan) jagung," bebernya.

"Jika digunakan uang Daerah, harus disetujui oleh Pemerintah Pusat. Menteri perdagangan berbicara otonomi daerah sudah jelas," sambung HBY.

Lanjut HBY, pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan para bulog sebagai komponen penyangga. Dan HBY berjanji bakal berkoordinasi dengan Pemerintah Pusat terkait harga jagung yang kian merosot.

"Hari ini juga, kami akan berusaha bersurat ke Presiden, tentang bagaimana agar bulog mau melakukan pembelian jagung sepeti tahun lalu," terang HBY.

Usai berdialog, sekira pukul 14.30 Wita, massa melanjutkan aksi penyegelan terhadap beberapa gudang penampung jagung. Hal itu dilakukan sebagai bentuk kekecewaan mereka dan merasa tidak puas atas tanggapan disampaikan HBY. [B-10]