Hasil Forensik: Polisi Temukan Tanda Kekerasan dan Cairan di Bagian Sensitif Tubuh Korban Tewas Tergantung

Iklan Semua Halaman

.

Hasil Forensik: Polisi Temukan Tanda Kekerasan dan Cairan di Bagian Sensitif Tubuh Korban Tewas Tergantung

Sabtu, 16 Mei 2020
Kapolres Bima Kota, AKBP Haryo Tejo Wicaksono S.I.K SH Menyampaikan Penjelasan Terkait Kasus Pembunuhan kepada Wartawan di Mako Polres Bima Kota, Sabtu (16/5/2020) Malam. Foto Marshel Putra/ Berita11.com.

Kota Bima, Berita11.com— Aparat kepolisian melakukan visum mendalam di Rumah Sakit Bhayangkara Mataram terhadap tubuh korban, bocah perempuan 10 tahun berinisial HS yang ditemukan tewas tergantung di tali depan kamar kos-kosan di Tanjung Kota Bima, pada Kamis, 14 Mei 2020 lalu. Hasil forensik, polisi menemukan tanda-tanda kekerasan di bagian sangat sensitif tubuh korban dan kulit yang tertinggal di kuku korban.

Hal tersebut diungkapkan oleh Kapolres Bima Kota, AKBP Haryo Tejo Wicaksono, S.I.K SH pada konferensi pers yang berlangsung di Mako Polres Bima Kota, Jalan Soekarno Hatta Kota Bima, Sabtu (16/5/2020) malam.

“Hasil olah TKP sementara yang bersangkutan dibunuh dengan sengaja. Kejadian pada hari Kami 14 Mei 2020, diketahui sektiar jam 12. Adapun yang mengetahui, juga tinggal di kos-kosan. Ada empat pintu, terisi tiga, satunya kosong, kos-kosan korban berada di ujung,” ujar AKBP Haryo Tejo Wicaksono.

Dikatakannya, sesuai hasil olah TKP, korban digantung menggunakan seutas tali jemuran dan kain. Sesuai visum awal, ditemukan beberapa luka di tangan, kaki, punggung dan sekitar muka korban, sehingga polisi menyimpulkan telah terjadinya tindak pidana penganiayaan.

“Visum awalnya pun ditemukan luka pada sekitar kemaluan, sehingga untuk memperdalam tersebut, kita membawa korban ke rumah sakit Bhayangkara di Mataram untuk dilakukan visum lebih lanjut, supaya lebih jelasnya dan kemarin Jumat yang bersangkutan kita bawa dan tadi siang sudah keluar hasilnya,” ungkap Kapolres.

Dijelaskannya, sesuai indikasi awal memang betul telah terjadi persetubuhan ataupun perkosaan. Hal itu juga sesuai keterangan sembilan saksi, yang mana terduga pelaku mengarah pada satu orang, yang tinggal di kos-kosan itu. Terduga pelaku juga berasal dari Manggarai Provinsi NTT, satu kampung dengan korban.

“Awal pun keluarga korban ini kos di sana juga dan setelah berjalan tiga bulan, orang tua dari korban mengajak untuk kos bersama di sana. Jadi tersangka ini, baru kos di sana kurang lebih 2-3 bulan, sedangkan ortu korban sudah 5-6 bulan kos di sana,” jelas Kapolres.



Hubungaan terduga pelaku dengan orang tua korban sangat dekat. Kos-kosan satu atap dan terdapat beberapa pintu. “Jadi kronologi berdasarkan rekonstruksi, korban dilakukan perkosaan terlebih dahulu. (Kemudian) terjadi perlawanan, kemudian dianiaya dan ketika terjadi penggantungan tersebut, korban masih hidup, cuma masih pingsan,” kata Kapolres.

Selain terdapat luka di bagian sangat sensitif tubuh korban, polisi akan melakukan serangkaian pemeriksaan forensik, karena terdapat cairan di bagian sangat sensitif dari tubuh korban.

“Ini dicek dulu dengan forensik, karena ada cairan di V (bagian sensitif korban), apakah merupakan sperma atau cairan lain, sehingga menunggu kering dulu untuk dipastikan. Ada beberapa bukti juga yang mengarah kepada pelaku, semoga buktinya dapat diperkuat, karena saat ini (keterangan) yang diduga pelaku masih meningkari semua,” ucap Kapolres.

Sesuai keterangan sejumlah saksi, dalam rentang waktu hingga ditemukan tergantung di tali jemuran, korban tidak keluar jauh dari kos-kosan tersebut hanya keluar sebentar di dekat kos untuk membeli snack.

“Dugaan kuat terkait keterlibatan pelaku, indikasi awalnya pelaku tinggal dengan jarak jauh dengan istrinya di kampung, kemudian diduga tersangka saat kejadian ada di dalam rumah kos-kosan. Karena kos kosan itu satu gerbang. Saat orang keluar masuk pasti gerbang dibuka tutup. Keterangan saksi tidak melihat gerbang itu dibuka dan tidak ada orang asing masuk,” ujar Haryo Tejo.

Sebelum peristiwa itu, korban terlihat berada di kos-kosan, termasuk hingga orang tuanya berangkat bekerja di toko yang ada di pasar. “Hasil forensik awal, karena ada kemungkinan perlawanan korban, ada bukti-bukti lain kulit yang tertinggal di kuku korban. Ada bukti-bukti lain yang diamankan, yang nanti kita cek DNA-nya,” pungkas Kapolres. 


Berkaitan kasus tersebut, terduga pelaku akan dikenakan pasal berlapis berkaitan pembunuhan berencana dan pasal tentang perkosaan.
[B-12]