HLM dengan TPID, Gubernur NTB Pastikan Ketersediaan Bapok dan Jalur Distribusi Jelang Idul Fitri

Iklan Semua Halaman

.

HLM dengan TPID, Gubernur NTB Pastikan Ketersediaan Bapok dan Jalur Distribusi Jelang Idul Fitri

Kamis, 21 Mei 2020
Suasana High Level Meeting TPID NTB Bersama TPID Kota dan Kabupaten di NTB.

Mataram, Berita11.com— Gubernur NTB, Dr H Zulkieflimansyah memastikan ketersediaan bahan pokok (Bapok) dan kelancaran jalur distribusinya menjelang Idul Fitri 1441 Hijriah. Khusus berkaitan masalah harga gula pasir yang melonjak hingga Rp18 ribu/ Kg, Pemrov NTB melalui Disperindag akan menggelar operasi pasar 1.500-2.000 ton gula pasir yang dialokasikan pemerintah pusat.

Kebijakan OP gula pasir tersebut diharapkan mendorong penurunan harga gula pasir yang secara nasional harganya masih di atas HET 12.500/ Kg. Sebagaimana hasil pemantauan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Provinsi NTB dan kabupaten/ kota, menjelang perayaan Idul Fitri tahun 2020, harga bahan pokok tercatat normal, terutama untuk komoditas beras dan cabai yang sedang memasuki masa panen.

Berkaitan kepastian ketersediaan Bapok dan jalur distribusinya disampaikan Gubernur NTB dalam kegiatan High Level Meeting (HLM) TPID Provinsi NTB, yang berlangsung di Kantor Gubernur Nusa Tenggara Barat, Selasa (19/5/2020) lalu.

Rapat dipimpin Gubernur Provinsi NTB, Dr Zulkieflimansyah, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Barat, Achris Sarwani, anggota TPID Provinsi NTB dan kabupaten/ kota di Provinsi NTB yang dilaksanakan melalui layanan telekonferensi.

Gubernur mengatakana, pengendalian inflasi merupakan hal yang harus diusahakan oleh Pemrov NTB bersama Pemkab dan Pemkot di NTB. “Ketersediaan bahan pokok di Provinsi NTB tetap aman, baik menjelang hari raya Idul Fitri 2020, maupun selama pandemi COVID-19. Pemerintah akan memastikan jalur distribusi untuk pangan tetap lancar dan aman ditengah pembatasan sosial masyarakat, sehingga kestabilan harga dan daya beli masyarakat tetap terjaga,” ujar Dr Zulkieflimansyah.

Gubernur menyampaikan bahwa adanya potensi penurunan PDRB pada tahun 2020 akibat pandemi COVID-19, pemerintah daerah terus mencari sektor-sektor ekonomi yang mampu menjadi pendorong roda ekonomi di Provinsi NTB. Salah satu cara yang telah dilakukan oleh Pemerintah Provinsi NTB dengan menggunakan produk-produk UMKM di NTB pada penyaluran bantuan bahan pokok pada program Jaring Pengaman Sosial (JPS) Gemilang.

Selain itu, Pemrov NTB bersama dengan Bank Indonesia turut mendorong pengembangan UMKM di sektor pertanian khususnya pada komoditas bawang merah dan bawang putih dengan memanfaatkan teknologi dibidang produksi pertanian. Tujuannya untuk menjaga daya tahan komoditas tersebut lebih lama, sehingga dapat menjaga stabilitas harga komoditas dimaksud yang merupakan salah satu penyumbang inflasi di Provinsi NTB.

Mantan anggota DPR RI ini menambahkan agar penerapan teknologi di sektor pertanian dapat dikembangkan lebih luas pada berbagai produk sehingga komoditas pangan di NTB akan lebih stabil. Hal itu mengingat penyumbang inflasi di NTB utamanya bersumber dari komoditas pangan (volatile food).

Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Achris Sarwani menyampaikan potensi PDRB Provinsi NTB tahun 2020 akibat pandemi COVID-19, yang dinilai masih lebih baik ketimbang saat terjadi bencana gempa bumi pada tahun 2018.

“Untuk itu, TPID NTB saat ini akan fokus dalam menjaga ketersediaan pasokan dengan memperkuat ketahanan pangan serta menjaga kelancaran distribusi untuk memastikan kestabilan harga di tengah pandemi ini,” katanya.

Dikatakannya, TPID NTB akan memastikan jalur distribusi pangan akan tetap lancar di tengah adanya pembatasan sosial masyarakat. [B-24/*]