Setubuhi Anak di Bawah Umur di WC Pasar saat Bulan Puasa, Pemuda ini Ditahan

Iklan Semua Halaman

.

Setubuhi Anak di Bawah Umur di WC Pasar saat Bulan Puasa, Pemuda ini Ditahan

Jumat, 15 Mei 2020
Tersangka Persetubuhan Anak di Bawah Umur. Foto Polres Bima Kota.

Bima, Berita11.com— Polisi menahan pemuda 25 tahun berinisial AB alias ND atas kasus persetubuhan terhadap Mawar (bukan nama sebenarnya), anak 14 tahun yang dilakukan di WC Pasar Rompo, Kecamatan Langgudu, Kabupaten Bima pada Jumat, 8 Mei 2020 lalu.

Dalam perkembangannya, penetapan status tersangka dan penahanan terhadap AB alias ND setelah gelar perkara diwarnai dinamika protes sejumlah pemuda dan masyarakat Rompo yang dikoordinir pria berinisial LN dan Silos.

Hal tersebut diungkapkan Kapolres Bima Kota melalui Kasubbag Humas AKP Hasnun. Penetapan tersangka dan penahanan terhadap AB alias ND dilakukan berdasarkan Laporan Polisi Nomor : LP/K/127/V/2020/NTB/Res Bima Kota, adanya dugaan persetubuhan atau pencabulan terhadap anak.

Dijelaskannya, kronologi dugaan persetubuhan terhadap anak di bawah umur sebagaiman laporan yang diterima polisi terjadi pada Jumat, 8 Mei 2020 sekira pukul 14.00 Wita. Awalnya korban memarkirkan sepeda motornya di depan jalan raya pasar, setelah itu korban menelpon sambil mencari terlapor di dalam pasar. Setelah bertemu dengan terlapor, korban masuk ke dalam pasar dan duduk bersama, hingga akhirnya terlapor mengajak korban untuk menuju ke WC umum Pasar Rompo untuk melakukan persetubuhan.

“Setelah melakukan persetubuhan terlapor dan korban keluar dari WC umum tersebut, namun tiba-tiba saat korban akan pulang, korban bertemu dengan pelapor (orang tua korban), kemudian korban langsung berlari ke arah terlapor diikuti dari belakang,” kata AKP Hasnun.

Setelah itu lanjut Hasnun, pelapor memukul terlapor, kemudian pelapor membawa korban pulang. Setelah itu korban memberitahukan bahwa terlapor melakukan persetubuhan terhadap korban.

“Selanjutnya Sabtu, 09 Mei 2020 pihak keluarga korban tiba di Mako Polres Bima Kota untuk melaporkan kasus persetubuhan yang dialami oleh anaknya tersebut,” ujar AKP Hasnun.

Dikatakannya, berdasarkan laporan pengaduan: Aduan/K/221/V/2020/NTB/Res Bima Kota, tanggal 09 Mei 2020, personil SPKT yang didampingi penyidik Unit PPA melakukan visum terhadap korban, kemudian anggota unit PPA melakukan pemeriksaan terhadap pelapor dan korban.

Pada Senin 11 Mei 2020 personil Polsek Langgudu mendapatkan informasi bahwa pihak keluarga korban telah berkumpul lantaran mengetahui keluarganya telah disetubuhi. “Mengingat situasi memanas dari pihak keluarga korban di TKP, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan sehingga terduga pelaku diamankan di Mako Polsek Langgudu,” katanya.

Selanjutnya terduga pelaku dievakuasi menuju Mako Polres Bima Kota untuk diamankan. Pada Selasa, 12 Mei 2020, pukul 13.00 Wita, penyidik Unit PPA beserta Unit Identifikasi Polres Bima Kota didampingi personil Polsek Langgudu melakukan olah TKP.

“Penyidik melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi yang ada di TKP. Selanjutnya penyidik mengggelar perkara untuk menetapkan tersangka, kemudian penyidik melakukan pemeriksaan terhadap tersangka berdasarkan Surat Perintah Penyidikan Nomor: SP.Sidik /56/V/2020 Reskrim, tanggal 12 Mei 2020, sehingga setelah dilakukan pemeriksaan sebagai tersangka,” ujar Hasnun.

Penyidik melakukan penahanan berdasarkan gelar perkara dan Surat Perintah Penahanan Nomor: SP.Han /50/V/ 2020/ Reskrim tanggal 12 Mei 2020.

Dalam perkembangannya, pada Kamis 14 Mei 2020 sekira pukul 14.00 Wita, 40 orang kelompok pemuda dan masyarakat Rompo yang dikoordinir LN dan Silos, berkumpul menuntut Polsek Langgudu mengembalikan pelaku kepada keluarganya di Desa Rompo.Aksi tersebut sangat tidak sesuai aturan yang berlaku, terlebih lagi Maklumat Kapolri dengan adanya wabah pandemic Covid-19.

“Kaitan dengan tuntutan yang sangat melanggar hukum, perwakilan Polsek Langgudu menyampaikan, apabila penangkapan oleh Polri tidak sesuai prosedur agar dipraperadilankan,” jelas AKP Hasnun.

Kasus tersebut ditangani Unit PPA Satuan Reskrim Polres Bima Kota. Jika masyarakat atau kelompok pemuda ingin mengetahui perkembangan penanganannya, bisa menanyakan ke Unit PPA Polres Bima Kota.

“Sampai dengan saat ini, tidak ada satupun baik perwakilan kelompok pemuda, masyarakat Rompo maupun pihak keluarga pelaku mendatangi baik Kasat Reskrim maupun Kanit PPA Polres Bima Kota,” pungkasnya. [B-12]