BI NTB Catat Pertumbuhan Penggunaan Kartu Debit dan Kredit hingga Mei Capai 2,5 Juta Kartu -->

Iklan Semua Halaman

.

BI NTB Catat Pertumbuhan Penggunaan Kartu Debit dan Kredit hingga Mei Capai 2,5 Juta Kartu

Friday, June 5, 2020
Ilustrasi.


Mataram, Berita11.com— Bank Indonesia mendukung kebijakan penerapan new normal dalam mendorong penggunaan transaksi nontunai yang aman, sehat dan produktif. BI Provinsi NTB mencatat adanya pertumbuhan penggunaan kartu debit dan kredit hingga Mei 2020 mencapai 2,5 juta kartu.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Barat, Achris Sarwani mengatakan, new normal dalam pandangan pemerintah adalah tatanan, kebiasaan, dan perilaku yang baru berbasis pada adaptasi untuk membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat. Namun demikian, penerapan new normal tersebut tetap memerhatikan sisi protokol kesehatan sebagaimana yang sudah diimplementasikan saat ini.

“Bank Indonesia turut mendukung kebijakan penerapan new normal dengan mendorong penggunaan transaksi nontunai yang aman, sehat, dan produktif,” ujarnya, Jumat (5/6/2020).

Ia menjelaskan, dukungan transaksi nontunai aman diartikan keamanan transaksi nontunai dapat menghindari pengguna dari potensi risiko penyebaran uang palsu. Pencatatan transaksi dilakukan secara akurat dan mudah untuk ditelusuri kembali. Tersedianya fitur keamanan seperti penggunaan password, PIN, serta OTP (one time password) semakin meningkatkan kenyamanan dalam bertransaksi. Pengguna turut terhindar dari risiko kriminal lainnya akibat pembawaan uang tunai secara pribadi. Risiko yang dimaksud antara lain uang tercecer, tidak ada uang kembalian, kejahatan pencopetan, dan jenis lain.

Adapun dukungan transaksi nontunai sehat diartikan transaksi nontunai selaras dengan penerapan protokol kesehatan karena dapat dilakukan pada jarak aman (nir-sentuh). Perangkat yang digunakan adalah perangkat yang dimiliki secara pribadi dan tidak berpindah tangan kepada orang lain pada saat transaksi dilakukan. dengan demikian, risiko transmisi virus yang dapat terjadi pada penggunaan uang tunai dapat dihindari.

Sementara dukungan produktif produktif berarti penggunaan transaksi nontunai dapat meningkatkan produktifitas baik penjual maupun pembeli. Dari sisi pembeli, waktu yang digunakan dalam bertransaksi menjadi lebih cepat dan akurat. Transaksi juga dapat dilakukan dari mana saja serta menggunakan berbagai instrumen yang sesuai dengan kebutuhan. Hal yang sama pada sisi penjual, keakuratan transaksi memudahkan pemantauan terhadap alur kas dan bahkan dapat menghasilkan sebuah kumpulan data komoditas yang bergerak di dalam bidang usahanya.

Data tersebut dapat digunakan untuk melihat perilaku transaksi yang terjadi, sehingga perencanaan bisnis ke depan dapat dilakukan dengan lebih akurat. Satu hal yang utama, transaksi terjadi secara real-time dan seketika, sehingga tidak ada keterlambatan dalam perpindahan nominal transaksi.

Dia menjelaskan, adapun perkembangan data nontunai di Provinsi Nusa Tenggara Barat dari sisi merchant, sampai dengan akhir bulan Mei 2020 pertumbuhannya mencapai 54,1% (ytd), dibandingkan dengan data merchant di bulan Desember 2019. Sementara pada transaksi dengan menggunakan APMK (Alat Pembayaran Menggunakan Kartu) yang terdiri dari kartu ATM/debit dan kartu kredit, jumlah pengguna kartu pada Mei 2020 tercatat sejumlah 2,5 juta kartu, meningkat 2,31% (ytd) dibandingkan dengan bulan Desember yang hanya s2,4 juta kartu.

Sementara pada instrumen uang elektronik, terdapat peningkatan yang cukup signifikan, di mana total jumlah uang elektronik pada bulan April sejumlah 282.918 akun atau tumbuh 77,52% (ytd) dibandingkan dengan jumlah akun uang elektronik pada Desember 2019.

“Peningkatan tersebut didominasi oleh pertumbuhan uang elektronik server based atau yang digunakan melalui smartphone,” kata Achris Sarwani.

“Kami mengharapkan seluruh masyarakat dapat bekerja sama untuk meningkatkan kenyamanan dalam bertransaksi secara non tunai” lanjut Achris.

Kenyamanan tersebut membutuhkan beberapa hal yang harus dipersiapkan seperti kesiapan infrastruktur, kesiapan pelaku ekonomi, serta peningkatan dalam pemahaman masyarakat akan transaksi secara nontunai. [B-11]