Hasil Rapid Tes Seorang Wanita Hamil di Dorongao Dinyatakan Reaktif -->

Iklan Semua Halaman

.

Hasil Rapid Tes Seorang Wanita Hamil di Dorongao Dinyatakan Reaktif

Wednesday, July 15, 2020
Kepala Puskesmas Dompu Kota didampingi Sekretaris dan dua awak media saat konfirmasi pasien yang hasilnya reaktif. Dok. Berita11.com.

Dompu, Berita11.com - Seorang wanita yang tengah berbadan dua (hamil muda) warga Lingkungan Dorongao Kelurahan Kandai Satu Kecamatan Dompu, berinisial NB 25 tahun, dinyatakan reaktif setelah jalani rapid tes di Puskesmas Dompu Kota, Rabu (15/7/2020) pagi.

Hal tersebut dikemukakan Kepala Puskesmas Dompu Kota, Dewi Laila Mahligai Putri, S.St, M.Kes saat ditemui di kantornya.

Dewi menerangkan, pasien mendatangi Puskesmas sekira pukul 07.00 Wita dengan keluhan keluar darahnya dan pasien tersebut sedang mengandung bayinya sudah berjalan 39 Minggu.

"Kandungan pasien mamang sudah lebih satu Minggu, tadi jam 10 dilakukan rapid tes dan hasilnya diperiksa oleh dokter dinyatakan reaktif," ungkap Dewi.

Menurutnya, pasien tersebut saat ini sudah dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dompu guna dilakukan karantina dan perawatan khusus. "Pasiennya sudah kami antar tadi sekira pukul 11.00 Wita," terangnya.

Dewi memaparkan tentang aturan pelayanan di Puskesmas Dompu Kota selama pandami Covid-19 berdasarkan Standar Operasional Prosedur (SOP), salah satunya, semua pasien yang akan bersalin baik normal maupun operasi wajib dilakukan rapid, sehingga pasien asal warga lingkungan Dorongao tersebut dilakukan rapid tes.

"Pasien tadi tuh sebenarnya tidak ada indikasi khusus untuk dilakukan rapid tes, tetapi pasien itu termasuk salah satu SOP yang harus dilakukan rapid tes, sehingga diketahui reaktif," terang Dewi. 

Ia menegaskan, pasien yang dinyatakan reaktif bukan berarti positif terjangkit virus Corona atau Covid-19 akan tetapi virus yang ada dalam tubuh manusia sudah pasti ada, baik virus influenza atau virus lain. Apalagi virus influenza sangat mudah terkontaminasi kepada wanita yang hamil.

"Pasien tadi memang hasilnya reaktif, bukan berarti kita menjastifikasi bahwa Pasian barusan positif terkontaminasi Covid-19, karena, untuk memastikan Covid-19 ini harus melalui swab test," tegasnya.

Di tempat yang sama, Kepala Bidang Pengembangan RSUD Dompu, Nurwahidah Raffik, A.Mk menjelaskan, sesuai SOP protap Covid-19 bahwa pasien yang reaktif itu akan dilakukan pemeriksaan sebelum tindakan.

"Kami akan melakukan rontgen dulu dan laboratoriumnya tetap, kemudian, kami akan membawa ke ruang khusus isolasi untuk dilakukan penanganannya," ungkap Nurwahidah.

Swab test khusus pasien ini, Nurwahidah belum bisa memastikan, karena masih ada tahap yang harus dilakukan. Dan terkait kandungan pasien, Nurwahidah belum bisa menyimpulkan, karena hal itu hanya dokter yang mengetahuinya.

"Itu tergantung operatornya yang mengetahui lebih jelas, apakah pasien ini segera dilakukan tindakan atau bagaimana, kalau pun nanti harus segera dilakukan sesuai penyakitnya kami akan melakukan tindakan cepat, dan swab test nya juga dilakukan di rumah sakit," beber Nurwahidah.

Dikatakannya, pasien serupa yang dinyatakan reaktif setelah dirapid tes, ketika dilakukan swab test, banyak yang hasilnya negatif, meski demikian, pertolongan persalinan pasien, tetap diutamakan, dan pertolongannya sesuai protokoler Covid-19, meskipun pasien yang dimaksud hasil swab test nya negatif.

"Banyak pasien yang hamil hasil rapidnya reaktif, namun setelah dilakukan swab test hasilnya negatif, dan swab test nya dilakukan tiga kali," terangnya.

Terpisah, Lurah Kandai Satu Dedy Arsyik, S.Sos kepada Berita11.com menyikapi dengan adanya kasus yang dialami warganya, ia menghimbau kepada warganya untuk tidak perlu khawatir dan memprovokasi yang berlebihan.

"Saya mengharapkan terhadap warga agar tidak terlalu berlebihan dalam merespon masalah ini, apalagi, pasien ini sedang dalam keadaan hamil, jadi reaktif itu hal yang biasa," imbuhnya.

Selain itu, Dedy juga berharap terhadap petugas kesehatan yang telah dipercaya untuk melayani warga, baik di tingkat desa maupun kelurahan. Hal itu dilakukan agar lebih mudah warga mendapatkan akses kesehatan dan lebih cepat bertindak ketika dihadapkan masalah seperti itu.

"Para petugas kesehatan, dalam hal ini bidan desa maupun kelurahan bisa meningkatkan pelayanannya dalam melayani ibu-ibu hamil supaya tidak terjadi hal-hal seperti itu di kemudian hari," harapnya. [B-10]