Hingga Juni 2020, PKH Capai 1.301 Warga Sejahtera Mandiri -->

Iklan Semua Halaman

.

Hingga Juni 2020, PKH Capai 1.301 Warga Sejahtera Mandiri

Sabtu, 11 Juli 2020
Keluarga Penerima Manfaat PKH di Provinsi NTB.

Mataram, Berita11.com— Praktik pendampingan sosial Program Keluarga Harapan (PKH) Kementerian Sosial RI di kabupaten/kota Provinsi NTB menuai hasil. Setidaknya dari Januari hingga Juni 2020, angka capaian Keluarga Penerima Manfaat (KPM) sejahtera mandiri sebanyak 1.301 Warga.

Data tersebut sangat signifikan dari tahun-tahun sebelumnya sejalan dengan visi-misi Pemerintah Provinsi NTB, mencetak generasi sehat, cerdas dan masyarakat seahtera Mandiri.


Kepala Dinas Sosial Provinsi NTB, H. Ahsanul Khalik S.Sos MH mengungkapkan, dari data Penyaluran per Juni 2020 sebanyak 345.899 KPM dengan jumlah bantuan Rp84.793.043.000. Jika dilihat realisasinya, dampak Program PKH sangat signifikan. Data gradeuasi sejahtera mandiri kabupaten/kota di NTB pada tahun 2020 sebanyak 1.301 Keluarga. Data tersebut diambil mulai Januari hingga Juni tahun 2020.

“Angka hasil capaian ini sangat membanggakan, karena banyak penerima manfaat percaya untuk mundur secara sukerala karena merasa diri sudah sejahtera,” ungkapnya melalui press release kepada media, Sabtu (11/7/2020).

Khalik membandingkan capaian tahun ini. Dalam kurung waktu enam bulan (Januari hingga Juni) hasil pendampingan SDM PKH di lapangan sangat menggembirakan. Karena data tersebut belum genap satu tahun dan terkendala poandemi Corona (Covid-19). Pada tahun 2019 dengan data genap satu tahun sebanyak 1.082 warga.

“Jadi, untuk enam bulan selanjutnya (Juli hingga Desember 2020) pada masa new normal, pendamping akan bekerja maksimal untuk menumbuhkan semangat penerima bansos nontunai tersebut bisa sejahtera mandiri,” katanya.

Berdasarkan data sejahtera, rata-rata didominasi KPM yang memiliki usaha kecil (mikro), seperti usaha bakulan dan kios kecil di tengah lingkungan masyarakat. Melalui pendampingan PKH pada pertemuan Peningkatan Kemampuan Kelompok (P2K2) oleh pendamping setiap waktu, sederet pengetahuan diberikan, seperti materi dalam modul pengasuhan anak dan pendidikan, modul kesehatan, modul usaha eonomi serta modul Pelayanan Kesejahteraan Sosial (Kesos), pelayanan Lansia dan Disabilitas Berat.

Menurutnya, dengan pengetahhuan yang diperoleh, percaya diri warga untuk perubahan perilaku dan cara berfikir serta pengembangan usaha, membuahkan hasil.

“Penerima yang sudah lebih awal memiliki usaha, diberikan motivasi dan edukasi pengembangan usaha, melalui modul ekonomi. Ini cara jitu pendampingan program Kemensos tersebut,” tuturnya.

Mantan Plt Bupati Lombok Timur ini menerangkan, PKH Kemensos sejalan dengan visi misi Pemerintah Provinsi NTB. Salah satunya target menciptakan masyarakat sejahtera mandiri. Oleh sebab itu, pendamping PKH tugasnya tidak sekadar memastikan bantuan cair, namun harus punya rencana kerja yang jelas dan terukur, sehingga graduasi mandiri yang terjadi bukan alami, akan atetapi harus by design.

Pendamping harus bisa menggali potensi yang dimiliki KPM sehingga mempunyai target waktu untuk bisa meningkatkan taraf hidup KPM dan mengraduasi mandiri KPM tersebut. “Capaian hari ini sangat memotivasi kita semua selalu sinergis dalam setiap tindakan, dengan melibatkan semua pihak,” katanya.

Menurut dia, capaian sejahtera mandiri tidak cukup dengan adovaksi dan edukasi semata. Program di Provinsi dan daerah-pun harus dapat mengintervensi penerima PKH. Sebab, bantuan PKH adalah bantuan untuk menjamin kebutuhan dasar, kurang cukup untuk penguatan modal usaha. penerima manfaat harus diintervensi dengan bantuan komplementer lainnya agar penerima bisa semangat dalam dunia usaha mikro yang dimilikinya. Apalagi di masa kekinian, hampir semua warga membutuhkan bantuan sosial.

Khalik mengatakan, pendampingan generasi sehat dan cerdas KPM PKH untuk mendekatkan diri pada pelayanan Posyandu. Hal itu sudah sejak dulu, sebagaimana komitmen PKH dalam meningkatkan derajat kesehatan keluarga pra sejahtera. Pendampingan untuk mendapatkan pelayanan Posyandu keluarga merupakan rutinitas pendamping PKH untuk mweujudkan generasi sehat. Demikian juga layanan kesehatan Lansia dan disabilitas berat.

Adapun untuk generasi cerdas, intervensi PKH pada komponen anak usia sekolah dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Komitmen meningkatkan derajat pendidikan sudah menjadi ketentuan dalam pelaksanaannya. Selain itu, saat ini pendamping sosial sedang berupaya mengedukasi dan sosialisasi agar anak KPM yang berpotensi kuliah, dapat mengakses Kartu Indonesia Pintar (KIP) kuliah, sebagai upaya mewujudkan generasi cerdas, generasi gemilang dan generas harapan keluarga.

Ia menjelaskan, mengapa anak PKH perlu diedukasi untuk mengakses KIP kuliah, sebagai salah tanggung jawab pendampingan berkelanjutan bagi keluarag PKH. Karena Bansos PKH hanya mengintervesi hingga jenjang SM/SMK sederajat, tidak sampai pada pembiayaan perguruan tinggi. Maka kelanjutan pendidikan anak harus menjadi prioritas dengan membangun desain yang konstruktif. Pelaksana PKH saat ini sedang berproses menyemangati “gerakan ayo kuliah” untuk anak anak KPM PKH. Di balik keterbatasan kemampuan secara ekonomi, langkah prospektif dan konstruktif digulirkan agar mata rantai kemiskinan antar generasi dapat diretas sedini mungkin.
“Gerakan Ayo Kuliah, cetak generasi cerdas, generasi gemilang dan generasi harapan adalah metode untuk menciptkan semangat anak PKH melenjutkan pendidikan tinggi, dengan mengakses program pemerintah KIP kuliah/bidik misi,” jelas mantan Kepala BPBD Provinsi NTB ini. [B-11]