Kontemplasi Ruhiyah: Menakar Nalar Intelektual dalam Bingkai Kritik Berlabel “Ekspektasi Masyarakat” -->

Iklan Semua Halaman

.

Kontemplasi Ruhiyah: Menakar Nalar Intelektual dalam Bingkai Kritik Berlabel “Ekspektasi Masyarakat”

Monday, July 27, 2020

.
Oleh: Zainuddin


Dalam memperjuangkan obsesi melahirkan open society atau masyarakat terbuka yang berbudaya, landasannya adalah emansipasi individu atau kebebasan; dan kebebasan yang di perjuangkan adalah :

1. Kebebasan daya hidup yang melahirkan tanggung jawab.

2. Kebebasan kreasi dan inovasivitas yang melahirkan keanekaragaman Ilmu dan Pengetahuan

3. Kebebasan yang melahirkan nilai tambah kemajuan dan

4. Kebebasan yang memahami dan menempatkan diri pada fokus kultur masa depan.

Merasionalkan kompleksitas daya kritis beberapa waktu belakangan ini, nampaknya tak lagi menemukan ruang logis; betapa tidak, sejatinya daya kritis yang merupakan refleksi nyata dari radiksnya pemikiran yang dibangun dari kerangka –kerangka penguasaan pengetahuan dan kesejajarannya dengan kebenaran objektif mulai dan terus ber-methamorfosis menjadi kelupaan beretika serta kegandrungan menebar kebencian.

Tabiat baru “konon” kaum cendekia yang penuh cinta pada masyarakat” menyuarakan “kecakapan” intelektualitasnya dengan cara umpatan dan cacian; bila ditelisik secara cermat, substansi penyampaiannya sungguh jauh dari jangkauan kompetensi serta haknya untuk menjustifikasi.

Sebuah pertanyaan sederhana pun menggelayuti bathin, “sungguhkah mereka cerdas dan juga cinta pada masyarakat” ?

Bukankah kecerdasan itu bersifat lahir– bathin, mewujud dalam kemampuan konseptual serta kearifan dan kesholehan?

Bukankah kecintaan itu diejawantahkan dalam sikap dan prilaku yang memotivasi untuk membangun, berikhtiar nyata dan berpartisipasi; mengedukasi dan menebalkan optimisme kesuksesan?

Ruang interaksi dan koreksi selalu lebar terbuka, mengkritisi adalah "hak" mengingatkan adalah "kewajiban" tetapi hadirkan kritikan yang logis, berakar kompetensi keilmuan dan kondisi objektif; tunaikan kewajiban "mengingatkan" lakukanlah dengan nawaitu tulus yang tidak dipertanyakan "tujuannya", gunakanlah tata cara yang selaras dengan kaidah-kaidah sosial yang kita junjung tinggi serta taati batasan-batasan yang diridhoi bertakar hikmah.

"Kita tengah berlayar; siapapun yang ada di atas kapal wajib saling membahu, bertanggungjawab melabuhkan kapal menuju pantai cita harapan rakyat.

Masikah tersisa ruang-ruang kebanggaan dalam bilik jiwa kita ? Sementara jutaan pasang mata rakyat telah mampu menatap dengan jelas “betapa kita telah kian jauh dari hakikat nilai dasar perjuangan yang seharusnya terus bersemayam dalam deru nafas dan hentakan nadi kita”

Jika nurani kita tak pernah tersentuh atau tak pernah mau melakukan upaya kontemplasi ruhiyah secara mendalam, maka dapat dipastikan kecendekiaan diri serta kecintaan pada masyarakat yang "melebeli" "sengkarut", akan menjadi sebuah mitos yang hanya cukup untuk terus memperkokoh bangunan kepongahan diri (*)