Literasi Adalah Budaya, Bukan Sekadar Wacana -->

Iklan Semua Halaman

.

Literasi Adalah Budaya, Bukan Sekadar Wacana

Friday, July 17, 2020



Oleh : L.M.Baidhawi Ms,S.Pd 


Bukan Hanya Tentang Buku dan Sastra, Kami Hanya Perantara Sumbu Yang Sedang Berusaha Menyulut Api. Lentera itu sangat banyak yang padam, bukan karena terbawa zaman. Alam pun, seperti tidak rela melihatnya renungkan sejenak. Bagaimana lentera bisa menyinari malam jika lentere itu tidak pernah tahu apa fungsi mereka, karena imbas dari kebiasan baik yang hilang.

Membaca adalah suatu cara mendapatkan informasi yang ditulis. Membaca dapat menjadi sesuatu yang dilakukan sendiri maupun dibaca keras-keras. Hal ini dapat menguntungkan pendengar lain, yang juga bisa membangun konsentrasi kita sendiri.

Minat baca adalah keinginan atau kecenderungan hati yang luas untuk membaca. Definisi itu sejalan dengan pendapat seseorang yang menyatakan bahwa minat baca merupakan kecenderungan jiwa yang mendorong untuk berbuat sesuatu terhadap membaca. Minat baca tumbuh dari pribadi masing-masing seseorang, sehingga untuk meningkatkan minat baca perlu kesadaran setiap individu.

Masalah minat baca sampai saat ini masih menjadi tema yang cukup aktual. Tema ini sering dijadikan topik pertemuan ilmiah dan diskusi oleh para pemerhati dan para pakar yang peduli terhadap perkembangan minat baca di Indonesia. Negara-negara maju, adalah Negara yang minat baca masyarakat tinggi. Oleh karena itu minat baca menduduki posisi penting bagi kemajuan suatu bangsa. Dibanding dengan Negara-negara yang tergabung dalam ASEAN dan negara asing lainnya, Indonesia masih menduduki urutan terbawah dalam hal minat baca. Di tingkat internasional, Indonesia memiliki indeks membaca 0,001. Hal itu berarti dalam setiap seribu orang, hanya satu orang yang memiliki minat baca tinggi. Kondisi itu jauh berbeda jika dibanding dengan Amerika yang memiliki indeks membaca,45, dan Singapura 0, 55. Berdasarkan survey UNESCO minat baca masyarakat Indonesia menduduki urutan 38 dari 39 negara yang diteliti.

Rendahnya budaya membaca ini juga dirasakan pada pelajar dan mahasiswa. Perpustakaan di sekolah/kampus yang ada jarang dimanfaatkan secara optimal oleh siswa/mahasiswa. Demikian pula perpustakaan umum yang ada di setiap kota/kabupaten yang tersebar di nusantara ini, pengunjungnya relatif tidak begitu banyak. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia belum mempunyai budaya membaca.

Sehingga wajar apabila Indeks Sumber Daya Manusia bangsa Indonesia juga rendah, Upaya menumbuhkan minat baca bukannya tidak dilakukan. Pemerintah melalui lembaga yang relevan telah mencanangkan program minat baca. Hanya saja yang dilakukan oleh pemerintah maupun institusi swasta untuk menumbuhkan minat baca belum optimal. Oleh karena itu, agar bangsa Indonesia dapat mengejar kemajuan yang telah dicapai oleh negara-negara tetangga, perlu menumbuhkan minat baca sejak dini. Sejak mereka mulai dapat membaca, dengan menumbuhkan minat baca sejak anak-anak masih dini, diharapkan budaya membaca masyarakat Indonesia dapat ditingkatkan.

Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab kondisi rendahnya kemampuan membaca masyarakat Indonesia di antaranya:

Permasalahan di dalam lingkungan sekolah. Sekolah (pendidikan) merupakan sebagai salah satu tempat yang dipercaya untuk melahirkan masyarakat (siswa) yang mampu membaca dan memiliki bermacam pengetahuan, rendahnya minat dan kemampuan membaca siswa akan memberi pengaruh pada kemampuan akademik siswa yang bisa berdampak pada kualitas kelulusan. Oleh sebab itu perlu diketahui beberapa hal yang menjadi penyebab rendahnya kemampuan membaca siswa di sekolah, antara lain yaitu:

1.Terbatasnya sarana dan prasarana membaca, seperti ketersediaan perpustakaan dan buku buku bacaan yang bervariasi.Masih banyak sekolah-sekolah di Indonesia yang masih mengandalkan ketersediaan buku paket saja untuk kegiatan belajar di kelas, padahal ketersediaan buku-buku bacaan penunjang yang menarik dan bermutu akan sangat memotivasi siswa dalam memperluas pengetahuannya.

Di beberapa sekolah yang telah memiliki fasilitas perpustakaan juga belum memiliki pelayanan yang baik. Koleksi buku perpustakaan masih didominasi oleh koleksi buku paket. Bahkan fasilitas beberapa ruang perpustakaan masih sumpek, sempit, kurang ventilasi (gerah), penataan buku tidak teratur dan pada dasarnya belum memberikan kenyamanan, sehingga kegiatan membaca dalam perpustakaan menjadi membosankan, tidak mengasyikkan dan tidak nyaman.

2.Situasi pembelajaran yang kurang memotivasi siswa untuk mempelajari buku-buku tertentu di luar buku-buku paket. Pembelajaran di kelas lebih sering masih berpusat pada guru atau sekedar kegiatan transfer ilmu dimana siswa hanya diberi oleh informasi/pengetahuan dari guru dan jarang diajak berdiskusi atau diberi permasalahan tentang materi yang dibahas untuk diselesaikan bersama sehingga siswa tidak untuk mencari informasi dari sumber yang lain dan tidak terlatih untuk menambah pengetahuan melalui membaca.

3. Kurangnya model (dari kalangan guru) bagi siswa dalam hal membaca. Beberapa guru belum menjadikan membaca sebagai kebutuhan pendidikan, hal ini dapat dilihat dari pemanfaatan waktu luang di sekolah bagi staf dan para guru. siswa lebih sering melihat gurunya main catur, merokok, mengobrol, bersenda gurau, dan sebagainya pada saat waktu luang. Sehingga siswa tidak memiliki panutan dari guru dalam hal gemar membaca

4.Permasalahan di luar lingkungan sekolah. Berkembangnya teknologi ‘jempol’ (handphone, internet) menggeser minat manusia terhadap buku. Munculnya perangkat komunikasi bernama handphone yang menawarkan berbagai program murah berkomunikasi menjadi salah satu penyebab rendahnya kemauan membaca seseorang karena orang lebih sering menghabiskan waktunya untuk mengirim pesan dan mengobrol lewat handphone dari pada menghabiskan waktu untuk membaca, walaupun isi komunikasi tersebut boleh dibilang kurang penting. Demikian juga dengan maraknya program komunikasi yang menggunakan internet seperti Friendster, Facebook dan sebagainya yang ternyata juga mampu mengalihkan perhatian sebagian besar orang dari kebutuhan membaca buku.

5. Banyaknya keluarga yang belum menanamkan tradisi wajib membaca. Untuk membentuk anak-anak yang memiliki kemampuan gemar membaca harus dimulai dari lingkungan terdekat anak yaitu keluarga. Karena dalam keluarga anak akan meniru apa yang telah menjadi kebiasaan anggota keluarganya terutama orangtua. Tapi kenyataan yang banyak terjadi kebanyakan orangtua terutama ibu dari anak-anak indonesia lebih suka menonton televisi dan handphone atau gadget dari pada membacakan buku untuk anak-anaknya di rumah, mereka lebih sering membiarkan anak menonton televisi dan bermain handphone atau gadget dari pada harus repot-repot melatih kebiasaan membaca yang mungkin dapat dimulai dengan membacakan buku cerita, sehingga anak pun lebih akrab dengan televisi dan handphone atau gadget dari pada dengan buku.

6. Demikian juga dengan perilaku orang orangtua yang lebih menyukai nonton televisi dan bermain handphone atau gadget, mengobrol dari pada membaca buku. Masih sangat sedikit orangtua yang mau menyempatkan diri membaca buku saat berada dalam rumah, orangtua lebih sering menyuruh anaknya belajar atau membaca buku, tetapi anak tidak mendapatkan contoh nyata bagaimana orangtuanya juga belajar membaca buku.

7.Minimnya daya beli masyarakat terhadap buku. Selain memang harga buku yang masih terbilang mahal, masyarakat juga belum bisa merasakan secara langsung keuntungan yang bisa didapat dari banyak membaca, terbukti belum ada sosialisasi kalau orang yang banyak membaca hidupnya akan lebih baik dan uangnya banyak. Masyarakat menganggap buku bukan sebagai kebutuhan, harga buku yang melebihi harga sembako dan manfaat membeli buku belum sebanding dengan manfaat dalam membeli sembako, buku masih menjadi barang mewah bagi sebagian besar masyarakat indonesia.

Terlepas dari faktor-faktor yang menjadi penyebab rendahnya minat membaca terutama bagi masyarakat Indonesia, ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mengubah kebiasaan malas membaca menjadi kebiasaan rajin membaca. Upaya untuk membangun kegemaran dan kemampuan membaca masyarakat Indonesia pada umumnya dan siswa pada khususnya, diantaranya :

Meningkatkan layanan perpustakaan di sekolah dan lingkungan masyarakat. Ketersediaan bahan bacaan memungkinkan tiap orang untuk memilih apa yang sesuai dengan minat dan kepentingannya. Dari situlah, tumbuh harapan bahwa masyarakat kita akan semakin mencintai bahan bacaan dan memiliki pengetahuan yang luas sehingga kemampuan berfikir kritis masyarakat akan semakin terasa. Untuk itu, selain perlu dikembangkan perpustakaan di sekolah juga perlu dikembangkan perpustakaan berbasis masyarakat yang dikelola oleh masyarakat dengan anggaran swadaya masyarakat. Hal itu dapat dilakukan melalui:

1.Dibangunnya Perpustakaan Nasional dan perpustakaan daerah (di tingkat propinsi, kecamatan dan desa). Penyadaran pada masyarakat sekolah dan diluar sekolah untuk bahu membahu dalam mengatasi keterbatasan sarana perpustakaan di wilayahnya dengan program “donasi buku” atau “sumbangan buku” atau di bangunnya komunitas-komunitas membaca serta pendanaan sukarela dari donatur tertentu dan dari warga yang lebih mampu untuk biaya operasional perpustakaan tersebut.

2.Penyediaan program “literasi” oleh sekolah dan bahan bacaan bervariasi yang mendukung pembelajaran dan mendorong siswa menyukai buku. Beberapa siswa memiliki minat yang berbeda pada bentuk, cover, tampilan, dan desain buku yang berbeda dari tampilan buku-buku paket pelajaran walaupun tema dan materi yang sama. Karena mungkin juga minat baca siswa tidak hanya pada materi yang tertuang dalam pelajaran tetapi pada pengetahuan lain yang belum dijelaskan dalam pembelajaran di kelas.

3.Peningkatan kinerja kepegawaian perpustakaan, pelayanan perpustakaan seperti kondisi ruangan yang cukup ventilasi, tidak sumpek/gerah, bersih, luas dan rapi dalam penataan indeks buku akan membantu pengunjung merasa nyaman dan bersemangat berkunjung ke perpustakaan. Fasilitas perpustakaan juga sudah berbasis teknologi. Koleksi ilmu pengetahuan tidak hanya dalam bentuk buku dan kertas tetapi telah tersedia dalam berbagai sarana teknologi seperti Compact Disk dan data online yang lebih mudah diakses.

4. Memperbaharui sistem pembelajaran di sekolah, guru perlu memberikan tugas pembelajaran yang menantang dan menarik untuk siswa misalnya dalam proses kegiatan belajar guru memberikan/memunculkan masalah yang dapat diskusikan bersama dengan siswa sehingga dapat mendorong siswa untuk menggali banyak informasi melalui aktivitas membaca. Sekolah juga perlu membuat program membaca setiap pekan melalui pendekatan bahasa seperti suatu pendekatan pengajaran bahasa secara utuh, di mana keterampilan menyimak, membaca, menulis dan berbicara diajarkan secara terpadu.

5.Menumbuhkan minat membaca anak sejak usia dini (pra sekolah), di antaranya adalah: 1) mengenalkan buku-buku bacaan yang menarik perhatian anak seperti buku cerita atau buku bergambar, 2) membawa anak sesering mungkin ke pusat pusat buku, seperti perpustakaan, toko buku, bursa buku atau pameran buku, dan sebagainya, 3) membantu anak merancang kegiatan bermain yang melibatkan buku, seperti bermain peran menjadi pelayan di toko buku, membuat potongan-potongan atau rangkaian bergambar dari buku, majalah atau koran tentang sesuatu misalnya buah-buahan, binatang , dan sebagainya.

6. Mengontrol penggunaan media elektronik (televisi, video game, handphone, internet). Peran orangtua dan guru sangat dibutuhkan dalam upaya ini, dimana guru dan orangtua bekerjasama memberi pemahaman kepada siswa/anak tentang dampak buruk penggunaan media elektronik yang tidak terawasi dapat menyebabkan hilangnya waktu belajar dan menurunnya konsentrasi.

Membaca perlu ditekankan kepada setiap individu sejak dini. Karena, informasi yang paling mudah untuk kita peroleh adalah melalui bacaan, baik koran, majalah tabloid, buku-buku, dan lain lain. Minimnya budaya membaca di kalangan remaja indonesia perlu di perhatikan. Problema tersebut, tidak bisa kita anggap remeh, karena besarnya rasa cinta membaca sama dengan kemajuan. Artinya, suatu tingkatan minat baca seseorang menentukan tingkat kualitas serta wawasanya. Kebiasaan membaca perlu ditingkatkan terutama kepada para remaja indonesia. Dalam proses belajar mengajar, mustahil berhasil tanpa adanya “membaca”.
Suatu asumsi menyatakan budaya membaca lebih penting dari pada sekolah dalam tujuan mencapai kesuksesan. Suka Membaca tanpa bersekolah masih berpeluang dalam mencapai kesuksesan, karena membaca membuat pola pikir kita luas dan taja. Meningkatkan tingkat kreatifitas kita dalam bekerja atau menciptakan lapangan kerja guna mencapai kesuksesan. Sedangkan Tidak suka membaca tapi bersekolah, peluang untuk mencapai kesuksesan lebih kecil. Buakankah banyak lulusan kuliah yang menjadi seorang pengangguran. Kenapa bisa terjadi?? Karena minat bacanya pasti kurang.

Beberapa manfaat membaca adalah, memperluas wawasan, mempertajam gagasan, meningkatkan kreatifitas seseorang.

Bahkan Dr. Aidh bin Abdullah al-Qarni, dalam bukunya, “La Tahzan” mengungkapkan tentang banyaknya manfaat membaca, yaitu di antaranya sebagai berikut:

Membaca menghilangkan kecemasan dan kegundahan. Ketika sibuk membaca, seseorang terhalang masuk ke dalam kebodohan,Kebiasaan membaca membuat orang terlalu sibuk untuk bisa berhubungan dengan orang-orang malas dan tidak mau bekerja.

Dengan sering membaca, orang bisa mengembangkan keluwesan dan kefasihan dalam bertutur kata. Membaca membantu mengembangkan pemikiran dan menjernihkan cara berpikir,Membaca meningkatkan pengetahuan seseorang dan meningkatkan memori dan pemahaman.

Dengan membaca, orang mengambil manfaat dari pengalaman orang lain: kearifan orang bijaksana dan pemahaman para sarjana,Dengan sering membaca, orang mengembangkan kemampuannya; baik untuk mendapat dan memproses ilmu pengetahuan maupun untuk mempelajari berbagai disiplin ilmu dan aplikasinya dalam hidup.

Membaca membantu seseorang untuk menyegarkan pemikirannya dari keruwetan dan menyelamatkan waktunya agar tidak sia-sia,Dengan sering membaca, orang bisa menguasai banyak kata dan mempelajari berbagai tipe dan model kalimat; lebih lanjut lagi ia bisa meningkatkan kemampuannya untuk menyerap konsep dan untuk memahami apa yang tertulis “diantara baris demi baris” (memahami apa yang tersirat).
Pesan saya, jangan menganggap membaca sebagai suatu kewajiban, melainkan menganggapnya sebagai suatu kesempatan yang menyenangkan untuk mengetahui dunia melalui buku-buku yang banyak mengulas berbagai macam peristiwa.

Dari penjelasan di atas, dapat ditarik kesimpulan yakni bahwa kegiatan membaca sangatlah penting untuk masyarakat dan terutamanya pada dunia pendidikan, karena dengan membaca kita dapat mengenal dunia lebih luas serta memberikan banyak manfaat. Namun bagaimanapun juga minat membaca masyarakat Indonesia masih tergolong rendah penyebab utama rendahnya minat membaca masyarakat Indonesia adalah rasa malas dan akibat dari itu semua bukan hanya berdampak buruk bagi kita namun juga bagi bangsa dan Negara. Tentunya hal demikian dapat diubah, kuncinya adalah kesadaran diri kita.

Cintailah membaca. Niscaya engkau berhasil dunia akhirat.

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan”

Penulis adalah Guru MAN 3 Kota Mataram