Total Inflow ke BI NTB Menurun 8,66 yoy, Perbankan Pastikan tak ada Rush Money

Iklan Semua Halaman

.

Total Inflow ke BI NTB Menurun 8,66 yoy, Perbankan Pastikan tak ada Rush Money

Jumat, 17 Juli 2020
Ilustrasi. Foto Timlo.

Mataram, Berita11.com— Total inflow (uang masuk dari perbankan ke Bank Indonesia di Provinsi NTB) secara agregat untuk semester I tahun 2020 sebesar Rp5,00 triliun atau mengalami penurunan sebesar 8,66% (yoy) dibandingkan dengan inflow semester I tahun 2019. Inflow UPB (Uang Pecahan Besar) mengalami penurunan sebesar 9,47%, sementara inflow UPK (Uang Pecahan Kecil) mengalami peningkatan sebesar 14,82% yang merupakan setoran Uang Tidak Layak Edar (UTLE).

Penurunan total inflow tersebut disebabkan oleh turunnya jumlah setoran Perbankan yang tengah berupaya untuk memaksimalkan Posisi Kas untuk memenuhi kegiatan operasional menuju era New Normal. Dalam sudut pandang Iain, penurunan total inflow dapat diartikan sebagai penurunan penerimaan uang dari masyarakat. Hal tersebut tampak pada tren penurunan Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan terutama dari tabungan. Penurunan aktifitas ekonomi berdampak kepada penurunan pendapatan pengusaha, yang diatasi dengan menghentikan sementara operasional produksi.

Kepala BI Provinsi NTB, Achris Sarwani menjelaskan, total outflow (uang keluar dari Bank Indonesia kepada perbankan di Provinsi NTB) secara agregat untuk semester I tahun 2020 sebesar Rp4,29 triliun atau turun sebesar 26,50% (yoy) dibandingkan dengan total outflow semester I tahun sebelumnya. Penurunan tersebut terjadi baik pada UPB yang turun sebesar 25,31% dan UPK yang turun sebesar 44,29%.

Dikatakannya, penurunan jumlah outflow disebabkan oleh intensitas penarikan oleh perbankan ke Bank Indonesia yang mengalami penurunan. Penurunan outflow mengindikasikan transaksi keuangan dan kebutuhan akan uang tunai masyarakat masih rendah. Keberadaan uang tunai tersebut identik dengan transaksi ritel, di mana penurunan kebutuhan uang tunai dapat diartikan sebagai turunnya aktivitas transaksi ritel masyarakat akibat penyebaran Covid-19. 


"Sementara dari sisi pengusaha, penurunan aktivitas ekonomi berdampak kepada pengurangan produksi bahkan penghentian sementara kegiatan usaha, dan berdampak lanjutan kepada penurunan pendapatan di kalangan pekerja," ujar Achris, Jumat (17/7/2020).

Menurutnya, untuk menjaga kondusifitas perputaran ekonomi di Provinsi NTB, dibutuhkan pemberdayaan UMKM yang menjamin adanya keterhubungan antara UMKM denpan pasar terutama pasar lokal. Dengan demikian, terdapat jaminan pergerakan aktivitas ekonomi UMKM yanp berdampak kepada jaminan penghasilan bagi tenapa kerja serta jaminan atas repayment capacity untuk berbagai kredit UMKM. 


Adapun keterhubungan antara pelaku UMKM denpan pasar, dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai jenis platform digital yanp tersedia saat ini. Penggunaan platform dan pembayaran digital berdampak kepada data transaksi UMKM yang terdokumentasi denpan baik. Data tersebut dapat dijadikan dasar oleh perbankan dalam hal pertimbangan untuk pemberian pinjaman modal kepada pelaku usaha. 

"Berdasarkan kajian yang kami lakukan pada bulan Mei 2020, kegiatan e-commerce NTB mengalami pertumbuhan 14% (yoy), melambat dibandinpkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya yaitu 28% (yoy). Jumlah penjual tumbuh stabil sebesar 52% (yoy), sedangkan jumlah pembeli tumbuh melambat sebesar 9% (yoy)," ujarnya.

Achris menambahkan, dari sisi pengolahan uang, setiap uang yang masuk (infow) ke Bank Indonesia, wajib untuk dilakukan proses karantina selama 14 hari dan dilakukan penyemprotan cairan disinfektan sebelum uang tersebut dapat diolah maupun dibayarkan kembali kepada Perbankan. Jumlah uang Karantina per tanggal 10 Juli 2020 sebesar Rp.171,09 milyar dalam bentuk setoran ULE (Uang Layak Edar) dan Rp129,2 1 milyar dalam bentuk setoran UTLE.

Sementara itu, Branch Manager Bank NTB Syariah Kantor Cabang Bima, Abdul Hafith memastikan tidak ada pola penarikan dalam jumlah besar (rush money) yang terjadi di perbankan sehingga mengarah pada potensi likuiditas atau collaps, sehingga pihaknya memastikan kondisi transaksi outcash money di bank setempat masih wajar. Namun sebaliknya jumlah uang masuk lebih banyak, yang ditunjang kondisi masyarakat pasca panen, sehingga kegiatan kredit bank kembali lancar.

“Yang terjadi sekarang banyak nasabah yang menyetor uangnya di bank karena baru saja panen. Artinya uang yang beredar sedang banyak karena adanya hasil panen, sehingga pembayaran kredit kembali masuk,” ujar Hafith. [B-11]