Bima Sering Diwarnai Peristiwa Berdarah, ini Solusi dari Akademisi -->

Iklan Semua Halaman

.

Bima Sering Diwarnai Peristiwa Berdarah, ini Solusi dari Akademisi

Thursday, August 6, 2020
Akademisi STKIP Taman Siswa Bima, Imanuddin M.Psi. Foto Ist.

Bima, Berita11.com— Beberapa waktu terkahir, kanvas dana Mbojo sering diwarnai berbagai peristiwa berdarah, mulai dari kasus pembacakon, bentrok antarkampung dan sejumlah jenis kekerasan lainnya. Teranyar adalah penusukan perawat oleh oknum pengajar di perguruan tinggi di Kota Bima.

Berbagai dinamika dan aroma kekerasan yang kian menyeruak di tengah masyarakat dan ruang media sosial, yang memberikan sinyal adanya gejala akut. Hal ini tentu saja membuat sebagaian besar masyarakat dilanda rasa kekhawatiran, bagiamana cara keluar dari “zona merah” tersebut.

Soal sejumlah fenomena kasus kekerasan yang menyeruak di tengah masyarakat, Akademisi Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Taman Siswa Bima, Imanudin M.Psi mengusulkan penguatan pendidikan karakter, yang mana tidak sekadar simbol, namun diimplementasikan secara mengakar. Karena persoalan utama penyakit sosial dan konflik sosial tak semata ditimbulkan persoalan ekonomi, namun dipicu hilangnya adab di tengah generasi masa kini.

“Konflik itu terjadi merupakan produk sosial itu sendiri. Jadi, terjadinya gesekan dan benturan ini juga tentu dipicu oleh cara pandang anggapan yang berbeda. Karena dalam teori psikolgi, manusia berbuat tergantung sungguh anggapan. Maka dengan anggapan bahwa dengan dia memakan daging manusia, dia akan mendapatkan kekebalan tubuh, ini adalah asumsi,” ujarnya ketika dihubungi Berita11.com, belum lama ini.

Menurut pengajar Ponpes Al Madinah yang juga Ketua Gerakan Anti Maksiat (GAMIS) Kecamatan Bolo ini, pergeseran cara pandang dan asumsi juga mengubah sudut pandang tentang realitas dan kebenaran (Islamic Worldviews).

“Karena kita begitu jauh dari agama, karena begitu sekuler. Makanya program kita (DDII) kemarin keumatan yang kita hadapi saat ini tidak saja terjadi di Bima, tapi juga terjadi hampir di seluruh dunia. Begitu jauh manusia dari agama atau pemikiran sudah sangat sekuler sekali, sehingga faktor agama menjadi benteng terakhir dari manusia itu sendiri,” ujar alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ini.

Dikatakannya, semua agama mengajarkan pada kebaikan, sehingga benang merah konflik yang sering tereplikasi beberapa waktu terakhir di Bima yaitu dengan kembali ke jalan agama (Ad Din). 


“Kembali kepada anggapan pemahaman yang benar menurut agama. Karena setiap agama itu mengajarkan kepada kebaikan, tentang kebenaran. Kemudian banyak hal lain seperti maslaah ekonomi, tapi saya tidak berani menyentuh wilayah itu,” ujar alumnus SMPN 1 Donggo ini.

Dirinya melihat, masalah yang dihadapi di Bima saat ini adalah hilangnya adab atau salah arah pendidikan (lose of adab). Padahal pendidikan menjadi unsur terpenting dalam membangun peradaban.

“Menjadi bermasalah karena pendidikan kita yang sangat sekuler, karena hanya berpikir manusia bicara mencari makan dan bagaimana bekerja. Itu tujuan pendidikan kita sekarang, bagaimana memenuhi kepentingan atau kebutuhan para koorporasi atau pemilik modal,” ujarnya.

“Anak-anak kita yang selesai tamat sekolah atau kuliah, hanya diarahkan bagiamana cara menjadi bekerja di sebuah perusahan untuk kepentingan para koorporasi atau pemilik modal. Tapi pendidikan kita hari ini tidak berbicara tentang moral (adab) anak, sehingga jauhnya anak dari adab menjadi problema masalah kini dan ini akan menjadi masalah tersendiri bagi orang tua,” ujar dosen Psikologi pendidikan yang akrab disapa Ustadz Imam Mujahid ini.

Imanudn mengatakan, di kota kota besar seperti Jakarta sebagaimana survei ilmiah, para orang tua sekarang banyak yang mengalami kecemasan psikis. Hal itu terjadi karena anak-anak mereka sudah susah diatur, sulit diarahkan meski hidup serumah. Umumnya anak lebih dekat dengan gawai canggih (android) atau laptop mereka. Era informasi, juga membawa dampak luar biasa, yang salah satu problem besarnya anak-anak apatis.

“Di Jakarta saat ini, bahwa 11.164 kasus kriminal yang melibatkan anak usia remaja atau sekolah, dominasi faktor perkosaan yang semua variabel yang mempngaruhinya menonton video porno dan Medsos. Tentu ini menjadi teror atau ancaman bagi orang tua,” katanya.

Lantas bagaimana solusinya? “Saya sebagai akademisi, (solusinya) kembali pada pendidikan yang berbasis islam, yang berbasis agama atau berbabsis adab. Karena saya tidak menyebutnya krisis ekonomi, tapi krisis adab atau hilangnya adab. Jadi, perlu diajarkan nilai-nilai adab. Kita sekarang sebut nilai-nilai karakter,” ujar Ustadz Imanuddin.

Dia menambahkan, pendidikan saat ini harus diigenjot, karena belum ada indikator yang menunjukan pendidikan karakter sekarang telah berhasil diimplementasikan.

“Jadi pendidikan karakter saat ini belum berjalan sesuai harapan kita. Bahkan masih banyak PR bagi akademisi dan praktisi pendidikan dan lebih besar itu, tugas pemerintah karena inidikator keberhasilan pendidikan karakter paling tidak akan mempengaruhi rendahnya (atau) menurunya angka kriminalitas,” ujarnya.

Hal tersebut lanjutnya, terlepas korelasinya dengan kinerja aparat. “Saya melihat dan meneropongnya dari perspektif sebagai akademisi. Bagaimana pemerintah menggenjot psikologi atau hukum. Bahkan kalau saya bisa kritik, bagiamana saat ujian nasional, diajarkan oleh gurunya sendiri kunci jawabannya dan gurunya diperintahkan oleh kepala sekolah (kunci jawaban) dan Kasek diperintahkan oleh gubernur, karena ini dianggap aib bagi daerah, sehingga belum berjalan atas kesadaran,” pungkasnya. [B-11]