Desak Kepala Puskesmas Woha Dicopot, FPMPMTM Kembali Mendobrak Gerbag Bupati Bima -->

Iklan Semua Halaman

.

Desak Kepala Puskesmas Woha Dicopot, FPMPMTM Kembali Mendobrak Gerbag Bupati Bima

Tuesday, August 25, 2020
Serang orator wanita Nur Atika saat berorasi di atas mimbar. Foto ist.

Bima, Berita11.com - Puluhan massa dari Forum Pemuda dan Mahasiswa Peduli Masyarakat Tidak Mampu (FPMPMTM) kembali mendobrak pintu gerbang Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Bima, Selasa (25/8/20) siang.

Massa mendesak Bupati Bima Hj Indah Damayanti Putri, SE agar segera mencopot jabatan dr. Dewi Puspaningsih sebagai kepala Puskesmas di Kecamatan Woha, karena dinilai gagal paham terkait pelayanan BPJS tidak mampu.

Aksi yang yang dilakukan massa FPMPMTM ini merupakan bagian ketiga (Jilid III) setelah menggelar aksi dua kali dengan tuntutan yang sama.

Menurut koordinator lapangan (Korlap) Esti Putri Komalasari, sesuai dengan surat tanggapan pada point keempat pada aksi sebelumnya (Jilid II) beberapa hari lalu, yang ditanda tangani kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bima dan dr. Dewi Puspaningsih bakal ditindaklanjut atas tuntutan massa.

"Ketika tuntutan kami tidak dipenuhi maka kami akan menduduki kantor Bupati Bima dengan mendirikan tenda dan berkemah di luar Kantor Bupati," ujarnya.

Sebelumnya, sekira pukul 09.55 Wita, massa aksi tiba di pertigaan Telkom Desa Tente dan melakukan orasi secara bergantian sambil turun ke jalan sebagai simbol perlawan atas ketidak adilan.

Usai melakukan orasi di cabang Telkom Desa Tente, sekira pukul 10.35 Wita, massa aksi bergegas menuju kantor Bupati Bima, tiba di depan pintu timur massa aksi melanjutkan orasi.

Salah seorang orator perempuan Nur Atika dalam orasinya, meminta Bupati Bima segera memberikan ilmu pencerahan atau pengethuan atas ketidak pahaman dengan tugas dan fungsinya sebagai kepala Puskesmas Woha.
Ikha saat berorasi. Foto ist

"Hadirnya kami di sini tidak bukan dan tidak lain hanya untuk memberikan sebuah refolusi pikiran untuk para mepimpin yang akal sehatnya tidak dipergunakan dengan baik," teriak Ikha di atas mimbar orasinya.

Wanita yang tengah menyelesaikan Strata 1 Hukum di Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Muhammadiyah Bima ini, menyuarakan tentang keadilan bagi warga yang tidak mampu sebagaimana yang tertuang dalam sila kelima Pancasila.

"Harus sampai kapan kami mengkonsumsi kedunguan? harus sampai kapan kami menyaksikan pesta pesta drama yang diperankan para pemangku kebijakan yang mena'ifkan diri dari keadilan," seruannya.

Setelah berorasi secara bergantian, massa tidak mendapati tanggapan dari Pemda dan apabila tuntuta massa aksi tidak diindahkan, maka massa aksi bakal melakukan blokade jalan dan menduduki kantor Pemda dengan mendirikan tenda depan pintu gerbang kantor Bupati Bima.

Hingga sekira pukul 20.30 Wita, massa aksi mendatangi kediaman Wakil Bupati Bima Dahlan di Kampung Toko Desa Tente guna melakukan dialog.

Dalam dialognya, Wakil Bupati Bima belum bisa mengambil kebijakan sesuai tuntutan massa aksi berhubung saat ini dalam masa politik tentunya ada prosedur yang harus dijalani.

"Kami belum bisa menggeser atau mencopot jabatan Kepala Puskesmas Wawo, karena saat ini dalam kondisi Pilkada, baru bisa kami lakukan, sesudah atau sebelum pilkada dalam 6 bulan, tapi yang pasti kami akan melakukan pembinaan, namun sebelumnya kami akan melakukan pemeriksaan terhadap kepala Puskesmas," jelas Wakil Bupati Bima.

Usai berdialog dengan Wakil Bupati Bima selama beberapa jam, massa aksi membubarkan diri dan kembali ke kampung halamannya. [B-10]