Pendapatan Nyaris Nihil Selama Covid-19, Sebagian Besar Media di Bima Terancam Gulung Tikar -->

Iklan Semua Halaman

.

Pendapatan Nyaris Nihil Selama Covid-19, Sebagian Besar Media di Bima Terancam Gulung Tikar

Wednesday, August 19, 2020
Ilustrasi Depresi Ekonomi. Sumber: Kompas.Com.

Bima, Berita11.com— Media adalah salah kelompok usaha (industri) yang sangat terdampak adanya Covid-19, termasuk di Bima dan Dompu. Betapa tidak, sejak awal pandemi corona, pendapatan media lokal menurun drastis, bahkan nyaris nihil.

Pendapatan utama media-media online lokal di Bima dan Dompu umumnya bersumber dari kerja sama advetorial dan iklan, sementara pada aspek hasil monotisasi dan adsense yang mengandalkan RPM, belum begitu ramah bagi media-media lokal di Bima. Belum lagi soal sistem delevery konten yang masih mengandalkan media sosial dan masih kalah di Search Engine Optimization (SEO).

Kondisi ini diakui Direktur Gerbang NTB, media lokal Bima-Dompu, Sukriyadin. Ia mengatakan, sejak awal Covid-19 pendapatan media online lokal menurun drastis, bahkan nyaris tidak ada, terutama untuk beberapa waktu terakhir.

“Kondisi semakin runyam, terutama untuk beberapa bulan terakhir ini. Nyaris tidak ada pendapatan dari iklan lokal maupun advetorial,” ujar pria yang akrab disapa Ori Mbojo ini.

Menurut dia, selamai ini pendapatan media bersumber dari kerja sama dengan instansi lokal di Bima dan Dompu maupun institusi. Namun sejak Covid-19 melanda, hampir semua kliennya beralasan terdampak Covid-19, sehingga alokasi anggaran untuk advetorial maupun iklan dipangkas habis, bahkan tidak ada.

“Sementara pendapatan media-media itu dari kerja sama (advetorial) maupun iklan,” katanya.

Dikatakannya, pada aspek lain, media mendapatkan pasokan konten-konten melalui press release, namun tidak terikat dalam bentuk advetorial, sehingga dari aspek operasional belum mendukung untuk kegiatan media.

Hal yang sama diakui Direktur Media Nusantara di Kabupaten Bima, Suryadin. Ia mengakui pendapatan media-media lokal seperti Media Nusantara menurun, bahkan hingga 90 persen. “Pendapatan iklan dan advetorial menurun drastis,” ujarnya.

Seementara itu, pengelola PeloporNTB.com, Arif Rahman mengakui dampak yang sama dirasakan media yang dikelolanya. Selama ini media-media lokal mendapatkan konten melalui press release.

“Tapi untuk konten-konten yang menyangkut kegiatan atau seremonial (press release), yang nilai berita (news value) rendah biasanya kita seleksi. Nyaris tidak pernah kita muat, mungkin kecuali ada akad kerja samanya. Beda kalau nilai beritanya tinggi seperti kriminal,” ujarnya.

Adapun Social Media Marketing and Strategist Berita11.com, Syarif H mengatakan, pihaknya menerapkan seleksi ketat terhadap konten yang bukan hasil liputan langsung jurnalis, khususnya konten-konten seromonial. “Media itu adalah dua sisi, yaitu bisnis dan jurnalisme. Untuk mempertahankan keberlangsungan usaha, butuh sirkulasi, butuh pemasukan yang sumber utamanya dari iklan dan advetorial,” ujar dia.

Menurutnya, sebenarnya ada beberapa pilihan media lokal seperti Berita11.com untuk mempertahankan eksistensi, yaitu dengan dana hibah (funding) luar negeri maupun mengkreasikan dalam proses penyediaan konten.

Diakuinya, sebenarnya umumnya media online lokal sudah berupaya berkreasi dengan membangun komunitas pembaca dan engagement, namun sulit mengembangkan mendapatkan adsense maupun monetisasi yang masih mengandalkan sistem CPC maupun RPM. “Ya, nyaris sebagian besar media lokal mengandalkan pendapatan dari advetorial dan iklan di luar pendapatan dari google dan mitra publisher lainnya,” ujarnya.

Pada sisi lain, Berita11.com, berupa berinovasi dan membiasakan pembaca untuk konten premiun melalui pembatasan akses, yang mana konten dibuat lebih mendalam (indept), berbeda dengan media lokal lainnya dan koran digital (e-paper) yang sistem pembayarannya dilakukan melalui form yang disediakan melalui website.

“Tapi ini dalam taraf pengembangan dan uji coba. Kita juga tetap berupaya bertahan dengan mencoba mendorong channel you tube. Memang ada beberapa pilihan bagi jurnalis di tengah pandemi, salah satunya misalnya menjual konten keluar negeri dan lain sebagainya,” katanya.

Menurut Syarif, problem yang dihadapi media di tengah pandemi Covid-19 adalah masalah runyam. Pada sisi lain, sebagian jurnalis dan media dengan idealismenya, tetap berupaya indepeden dan tetap pada jalurnya. Salah satunya dengan tidak ikut menerima bantuan sosial (Bansos) maupun stimulus lain. Sesuai hasil survei kecil Berita11.com, belum ada satupun media maupun wartawan yang menerima Bansos atas dampak dari Covid-19.

“Harapan kita semua Covid1-9 segera berlalu, sehingga paling tidak media bisa bertahan. Dari internal Berita11.com pun sedang mengevaluasi keberlangsungan kegiatan media pada tahun 2021, apakah berlanjut atau tidak di tengah dampak Covid-19 yang belum berakhir ini. Jika iklimnya tidak sehat, maka akan sulit untuk melanjutkan usaha yang sama,” katanya.

Menurut Syarif, walaupun sebaran informasi di media sosial dan media mainstream yang dibutuhkan masyarakat terkadang proposional, masyarakat tetap membutuhkan akses ke media massa. Karena umumnya, media mainstream yang dapat menyuguhkan informasi lengkap (utuh) dan melalui proses verifikasi (cover both side).

“Walaupun penetrasinya sama-sama, tapi media arus utama tetap menjadi rujukan informasi. Kita tidak bisa menjust ketika ada praktik oknum wartawan yang tidak independen, partisan dan lain-lain, bahwa rusak lah semua media,” ujarnya.

Ia mengatakan, tumbuh suburnya media, di luar praktiknya yang belum standar, juga tidak terlepas dari problem lapangan pekerja yang tersedia di Bima. Hal itu ibarat hukum sebab-akibat maupun hukum dalam teori ekonomi.

Hal yang sama juga diakui pemilik Koranlensapos.com, Abdul Syukur. Menurut dia, pendapatan media di tengah pandemi Covid-19 menurun drastis. Bahkan yang dia dengar, akibat Covid-19 banyak media yang merampingkan jumlah pekerjanya dan bukan hanya terjadi Bima Dompu atau NTB pada umumnya, namun isu umum pada level nasional.

“Karena hanya iklan dan advetorial pendapatan resmi dari kegiatan media. Untuk gaji pekerja dan operasional. Media juga adalah bisnis, di luar idealisme jurnalismenya,” katanya.

Dampak Covid-19 terhadap industri kecil dan sektor jasa 


Pada bagian lain, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Bima, H Nasrullah S.Sos menyebutkan, sebagian besar kegiatan usaha di Bima sangat terdampak Covid-19 yang telah berlangsung lama. Beberapa jenis usaha yang terdampak seperti jasa penginapan atau akomodasi seperti perhotelan, warung makan kecil dan beberapa kegiatan IKM lainnya.

Akibat Covid-19, pihaknya juga mendapatkan gambaran umum adanya pemutusan hubungan kerja (PHK) untuk jenis usaha kuliner dan akomodasi. Namun untuk detail total keseluruhan jumlah PHK di Kabupaten Bima, pihaknya belum melakukan survei dan pendataan terhadap badan usaha.

“Hampir sebagian besar terdampak, apalagi usaha kuliner,” katanya.

Nasrullah mengaku, pihaknya masih menunggu realisasi upaya pemerintah pusat memberikan stimulus terhadap kegiatan usaha dan pencari kerja di Kabupaten Bima. Jumah pencari kerja di Kabupaten Bima yang mendaftarkan diri dalam program kartu pra-kerja lebih dari 15.000 orang.

“Kita tunggu realiasi dari janji presiden, upaya pemerintah pusat. Karena sudah banyak yang mendaftar untuk pra-kerja,” ujarnya di Disnakertrans Kabupaten Bima.

Diakui Nasrullah, sebagian karyawan besar badan usaha di Kabupaten Bima belum terdaftar dalam peserta BPJS Ketenagakerjaan, sehingga untuk mendapatkan Bansos pekerja akan sulit diperoleh UKM.

Pada sisi lain, belum banyak investasi yang tertanam di Kabupaten Bima, sehingga belum dapat menyuplai sektor-sektor lokal atau menggerakan kegiatan lain seperti industri media lokal. “Bahkan ada beberapa perusahaan yang menarik investasinya atau relokasi dari Kabupaten Bima seperti perusahaan mutiara di Sanggar, di Langgudu dan juga di Sape Lambu, mereka sudah ada surat pemberitahuan kepada kami,” kata Nasrullah.

Sebagaimana data Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Bima dan data Bagian Perekonomian Setda Kabupaten Bima, yang diperoleh Berita11.com, beberapa kegaitan investasi skala sedang dan menengah ke atas yang sebagiannya masih beroperasi dan sebagian pra operasi yaitu kategori Penanaman Modal Asing (PMA) PT Sumbawa Timur Mining, dengan status perpanjangan studi kelayakan. Lokasi proyek Desa Lere Kecamatan Parado, dengan realisasi investasi tahun 2017 sebesar 87.971.167,00 dollar. Perusahaan ini juga mengantungi izin rencana penggunaan tenaga kerja asing (RPTKA).

Selain itu, PT Tirta Mas Mutiara (PMA), bidang budidaya kerang dan budidaya mutiara, dengan lokasi proyek Dusun Tenggani Desa Rupe Kecamatan Langgudu. Sesuai data, dengan investasi Rp47.000.000.000 dan realisasi investasi tahun 2015 sebesar Rp38.199.804.000.

PT Sumbawa Point Lodge, bidang usaha cottage dan wisata tirta di Dusun Woro Desa Paradowane Kecamatan Parado Kabupaten Bima. Rencana investasi $1.200.000 dan $800.000, realisasi invetasi tahun 2016 sebesar $20.000. kemudian PT Labianca Rosa Beach KLBI cottage setara hotel bintang 3 di Dusun Kalo Utara, RT 09 RW 05 Desa Pai Kecamatan Wera Kabupaten Bima, dengan investasi $2.100.000 dan realisasi invetasi tahun 2017 sebesar $304.185.

Selain sejumlah perusahaan tersebut, terdapat investasi dengan kisaran nilai ratusan juta hingga puluhan miliar seperti PT Santosa Utama bidang usaha pengeringan jagung yang berlokasi di Desa Bolo Kecamatan Madapangga dengan nilai investasi Rp64.483.175.600.

Sebelumnya, Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata Kabupaten Bima, Drs Abdul Haris menyebut, akibat dampak covid-19, perusahaan akomodasi seperti Tenggara Poin Loudge merumahkan 48 karyawan.

Dispar Kabupaten Bima mencatat 28 jenis tempat usaha kuliner dan warung kecil yang terdampak covid-19, dengan rata-rata jumlah karyawan 2-5 orang setiap usaha.

Sebelumnya, Ketua Kamar Dagang Indonesia (KADIN) Bima, Zulkifli Maman yang dihubungi Berita11.com, beberapa waktu lalu menyebutkan, pihaknya bersama sejumlah asosiasi pengusaha berupaya memberikan input kepada pemerintah berkaitan solusi menghadapi kenormalan baru untuk memastikan kegiatan usaha berbagai sektor kembali tumbuh dan memastikan perekonomian daerah kembali normal.

Menurut dia, hampir semua sektor dan berbagai jenis kegiatan usaha merasakan dampak dari Covid-19. Demikian yang berhubungan langsung dengan masyarakat bawah. [B-11]