Bertemu MUI, Korban Makanan Mengandung Babi Desak Permohonan Maaf Ritel -->

Iklan Semua Halaman

.

Bertemu MUI, Korban Makanan Mengandung Babi Desak Permohonan Maaf Ritel

Friday, September 18, 2020
Suasana Pertemuan Anissa Puspitasari Didampingi Persaudaraan 212 Bima Raya di Kantor MUI Kota Bima, Kamis (18/09/2020). Foto B-12/ Berita11.com.

Kota Bima, Berita11.com— Warga Kota Bima, Anissa Puspitasari, korban mekanan nonhalal yang dijual Marina Mart di Lingkungan Soncotengge Kota Bima mendesak pihak ritel menyampaikan permohonan maaf kepada dirinya dan masyarakat umum. Hal itu disampaikannya saat pertemuan di Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bima, Kamis (17/09/2020) siang.

Saat bertemu dan menyampaikan pengaduan kepada MUI Kota Bima, Anissa didampingi kakaknya Ratna Mukhlisa dan Yadin alias Abu Ukasyah dan empat orang Persaudaraan 212 Bima Raya. Mereka kemudian diterima oleh Wakil Ketua 2 Bidang Fatwa MUI Kota Bima, Drs Lukman SH MH dan Wakil Ketua 1 MUI Kota Bima Drs H Anwar.

Anissa Puspitasari menyampaikan, kedatangannya ke kantor MUI Kota Bima menindaklanjuti yang dialaminya produk makanan mengandung babi yang secara tidak sengaja dibeli oleh dirinya di Marina Mart karena digabung dengan sejumlah produk makanan lain yang tidak mengandung babi.

“Produk tersebut saya beli pada saat saya dan anak saya berbelanja di toko tersebut dan makanan yang mengandung babi diambil oleh anak saya di rak makanan toko Marina Mart bercampur dengan produk makanan lainnya,” ujarnya.

Dijelaskannya, pagi hari setelah mengonsumsi makanan itu, dirinya baru mengetahui jika makanan merek Oreo yang dibeli di ritel itu mengandung babi. “Dari anak saya yang yang besar setelah membaca di kotak makanan tertera mengandung babi, karena makanan tersebut sudah saya dan ketiga anak saya makan, sehingga saya berinisiatif mendatangi Toko Marina tersebut sambil membawa kotak sisa makanan tersebut dan struk pembelian,” ujarnya.

Anissa mengaku kecewa, karena saat bertemu pihak manager ritel hanya mengucapkan agar dirinya kalembo ade (bersabar).

“Saya sangat kecewa manajer toko tersebut tidak meminta maaf kepada saya atas apa yang saya alami yang telah memakan makanan yang mengandung babi, yang saya beli di toko miliknya dan kecewaan tersebut saya posting di akun facebook saya,” ujarnya.

Anissa menegaskan, hingga kini belum ada permohonan maaf pihak ritel kepada dirinya dan masyarakat Kota Bima pada umumnya.

“Dari semua itu sehingga saya dan kakak saya mendatangi Kantor MUI ini, kerena MUI termasuk yang memfatwakan halal dan haramnya makanan tersebuf dan kami memohon kepada MUI Kota Bima agar menindaklanjuti permasalahan ini,” harapnya.

Wakil Ketua II Bidang Fatwa MUI Kota Bima Drs Lukman SH MH mengisyaratkan, setelah pertemuan tersebut, secepatnya pihaknya akan merespon karena karena Bima adalah mayoritas muslim, sehingga dirinya sependapat tidak boleh ada barang yang haram yang masuk di Kota Bima 


Anissa Puspitasari Bersama Kakaknya dan Persaudaraan 212 Bima Raya. Foto B-12/ Berita11.com.


“Kami juga sudah mencoba kontak ke MUI Provinsi apa yang perlu kami lakukan dan kami akan secepatnya koordinasi dengan pihak BPOM kesehatan dan pihak Kepolisian sejauh mana yang sudah ditangani masalah ini,” katanya.

Pihaknya menyampaikan rasa prihatin atas apa yang menimpa Anissa Puspitasari dan anak-anaknya.”Kami mengucapan terima kasih atas kadatangannya dan kami juga ikut prihatin atas kejadian ini,” katanya.

Adapun Ustadz Yadin alias Abu Ukasyah menyampaikan, karena persoalan tersebut masalah aqidah umat Islam, sehingga pihaknya meminta kepada MUI Kota Bima segera mengambil langkah-langkah penanganan agar jangan sampai masalah itu memanas.

“Kalau sampai telat menangani permasalahan ini, bisa berbahaya. Sekali lagi persoalan ini persoalan aqidah yang tidak mestinya makanan yang mengandung babi bisa beredar bebas di Kota Bima tanpa pengawasan,” katanya.

Diingatkannya, jangan sampai melihat permasalah tersebut sebagaim masalah kecil. “MUI segera melakukan pengecekan, jangan saja di supermarket dan toko toko saja. Bila perlu telusuri ke distributor-distributor yang menyuplay barang barang tersebut. Karena saat ini di luaran sedang menunggu sampai sejauh mana tindakan yang dilakukan pihak MUI dan pihak kepolisian atas persoalan ini,” katanya. [B-12]