Merdeka Belajar: Representasi Pendidikan yang Beroiriesntasi pada Anak -->

Iklan Semua Halaman

.

Merdeka Belajar: Representasi Pendidikan yang Beroiriesntasi pada Anak

Saturday, September 12, 2020


By Ruslin HMS, M.Pd 


Pendidik yang ideal adalah pendidik yang cakap secara profesional, padegogik, personal dan sosial. Pendidik yang profesional akan selalu mempunyai rasa memiliki terhadap kualitas pendidikan. Senantiasa mengembangkan diri untuk memenuhi kebutuhan siswa di kelas. Tidak hanya mampu menguasai materi yang diajarkan, tetapi juga mampu membelajarkannya dengan cara dan strategi yang tepat pula. Guru yang baik senantiasa dapat memadupadankan siasat belajar dengan karakteristik materi dan kondisi siswa yang diajarkan. Praktik pembelajaran yang dilaksanakan akan mengasah keterampilan dan kreativitas siswa dalam situasi pembelajaran yang kontekstual. Konsisten melakukan hal-hal produktif dan praktik-praktik baik untuk mengakomodir kebutuhan mereka. Dari sinilah merdeka belajar bagi siswa dimulai.

Pendidikan yang memerdekakan adalah konsep pendidikan yang membangun kecakapan manusia secara holistik untuk keseimbangan dalam tumbuh dan kembangnya. Dasar pijakannya adalah berorientasi pada anak. Pendidikan yang diusahakan harus memiliki azas keadilan yang diperuntukkan bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang strata sosial. Pendidikan ini akan mengahasilkan peserta didik pada pencapaian nilai kemanusiaan dengan tetap menghargai keberagaman. Sebagai Goalsnya dapat mengantarkan masyarakat pada puncak peradaban dan kebudayaaan yang selalu berkembang dan dinamis sesuai kebutuhan zaman.

Pencetus konsep tersebut adalah tokoh Pendidikan Indonesia Bapak Ki Hajar Dewantara. Dalam konsep tersebut, terdapat filosofi 4 olah pendidikan yang bersemayam di dalamnya. Dalam kurikulum 2013 revisi 2017 filosofi 4 olah digunakan untuk memaksimalkan pengembangan produk manusia yang berkualitas dalam setiap mata pelajaran. Filosofi Olah hati yang merupakan domain karakter diletakkan pada mata pelajaran PPKn dan Pendidikan Agama. 

Olah Rasa merupakan proses eksplorasi kecakapan estetika peserta didik yang disemayamkan pada mata pelajaran Seni Budaya dan Prakarya. Olah Pikir yang akan mengasah kemampuan siswa dalam mendapatkan ilmu pengetahuan diletakkan pada mata pelajaran matematika, IPA, IPS dan Bahasa Indonesia. Terakhir olah Raga yang mengakomodir kemampuan peserta didik pada kecakapan kinestetik yang diletakkan pada mata pelajaran Penjaskes. Menurut Bapak Anies Baswedan, untuk menyiapkan manusia Indonesia yang berkompeten yang siap bersaing di abad 21 diperlukan pembelajaran yang sarat dengan kegiatan yang melatih siswa berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi, dan kreativitas(4C). Hal tersebut dapat memaksimalkan ketercapain output yang diharapkan sesuai dengan tuntutan zaman.

Tugas kita sebagai pendidik, bekerjalah dengan menyertakan hati. Tetaplah berusaha mengembangkan diri untuk membersamai mereka di depan kelas. Membangun manusia seutuhnya tidak hanya cukup dengan kompetensi, tetapi juga dengan keikhlasan (*)


*Penulis adalah Instruktur Bimtek KKG Dinas Dibudpora Kab. Bima dan Dosen PGSD STKIP Taman Siswa Bima