Pilkada Rawan ini, Ustadz Zainuddin MY Ingatkan Dosa Vote Buying dan Membuka Aib -->

Iklan Semua Halaman

.

Pilkada Rawan ini, Ustadz Zainuddin MY Ingatkan Dosa Vote Buying dan Membuka Aib

Friday, September 11, 2020
Ustadz Zainuddin MY S.Pd.I.

Bima, Berita11.com— Pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Usman bin Affan (UBA) Dompu, Ustadz Zainuddin Muhamad Yakub S.Pd.I mengingatkan calon kontenstan Pilkada 2020 dan masyarakat Bima-Dompu agar menghindari politik transaksional (money politics) dan upaya saling menjatuhkan, termasuk membuka aib (ghibah).

Menurut ustadz berdarah asli Talabiu Woha, Kabupaten Bima ini, kondisi masyarakat yang sedang dilanda Covid-19 (potensi resesi dan depresi ekonomi) menyebabkan masyarakat membutuhkan uang, sehingga suara dalam Pilkada dapat dibeli (vote buying) dan tidak heran akan diwarnai politik uang (money politics).

Dikatakannya, hal penting yang mesti menjadi atensi bersama, tak sekadar implementasi undang-undang dan regulasi yang mengatur money politics. Namun lebih dari itu, para pemilih (masyarakat) harus digiring ke alam sadar tentang bahaya politik transaksional, yang juga diatur dalam Islam. Bahwa suap menyuap dilarang Rasulllah SAW, sebagaimana Riwayat Ibnu Majjah dari Abdullah bin Amr’ RA: laknatullah ‘ala rosyi wal murstsy bahwa laknat Allah SWT atas pemberi risywah (yang menyuap) dan penerima atau peminta risywah (yang disuap).

“Rawan sekarang memang kondisi masyarakat sedang dalam kondisi butuh uang, apalagi bisa dibeli suara. Sebenarnya pemerintah sudah punya undang-undang tentang larangan money politics, saya lebih cenderung penyadaran, bukan sekadar menekan dengan aturan. Siapa yang pakai money poltics akan dihukum, itu sebenarnya akan bisa kucing-kucingan nanti,” katanya.

“Tapi kalau penyadaran, misalnya Anda mengambil uang orang hanya Rp500 ribu, kemudian habis uang itu, tentu orang yang ana (saya) ambil uangnya nanti akan (berupaya) mendapatkan modal yang telah hilang. Berarti berpeluang mengangkat pemimpin yang berpeluang korupsi, begitu saja penyadarannya. Buat apa sih uang Rp500 ribu akan merusak nasib kita lima tahun yang akan mendatang,” ujar Ustadz Zainuddin usai khutbah di Masjid Sudirman kampus STKIP Taman Siswa Bima, Jumat (4/09/2020) lalu.

Menurutnya, berkaitan politik uang, tak bisa semata menyalahkan Paslon. Namun masyarakat yang menerima suap (uang) akan dilaknat Allah SWT. Oleh karenanya, dirinya mengajak masyarakat untuk menghindari segala bentuk pemberian saat tahapan Pilkada dengan maksud calon untuk meraih suara, karena merupakan bagian dari politik uang.

“Rizki itu sesuatu yang sudah pasti diberi oleh Allah SWT, mengambil atau menerima dengan cara suap tadi, maka rizki yang lain akan tertutup. Kalau kita sabar, tidak menerima uang suap itu, ada saja (rizki) nanti. Sumber rezki yang diberikan oleh Allah ada hadisnya. Mantarakal haram (barang siapa yang meninggalkan rizki dengan cara yang haram), itu yuafidullah (Allah akan mengganti dengan yang lebih baik. Bahkan sama saja jumlahnya, insya Allah,” ujarnya.

Wakil Ketua Forum Umat Islam (FUI) Dompu ini juga mengingatkan, selain politik uang, semua pihak harus berupaya mencegah munculnya arogansi para pendukng.

“Orang lain yang jadi enak dapat jabatan, kok kita yang sampai gontok-gontokan dengan keluarga sendiri sampai ada suami istri cekcok, kakak beradik nggak ngomong, ini menurut ana (saya) cara berpikir yang keliru, yang sangat sangat salah. Nggak apa-apa memilih itu hak kita. Pilihlah orang yang sesuai. Berbicara paslon, kalau ana berbicara objektif, Paslon itu pasti ada kekurangan dan kelebihannya, siapapun dia,” ujarnya.

Ustadz Zainuddin juga menilai, tiga bakal Paslon Bupati dan Wakil Bupati Bima peserta Pilkada 2020 memiliki kekurangan dan kelebihan. Oleh karenanya dirinya mengajak masyarakat agar dewasa, tidak saling menyikut serta mengikuti, melaksanakan Pilkada secara fair (sportif), jujur dan bersih (akuntabel).

“Saya berharap kepada teman-teman Paslon, baik Dinda yang umurnya di bawah sy, kemudian dokter Irfan, kemudian H Syafruddin. Tolong kalau Bapak, Ibu, Anda, kalau menjadi pemimpin jangan menjadi penguasa, karena pemimpin itu pada hekakatnya pelayan,” ujarnya.

“Kalau dalam buku Tata Negara Islam yang pernah ana pelajari bahwa, diangkatnya seorang pemimpin dua hal, yaitu pertama lihiro sati din (hifz al din), untuk menjaga agama dan keyakinan masyarakat yang di bawahnya, ini yang pertama dan kedua yang mungkin sudah dipahami semua pemimpin, dia diangkat sebagai pemimpin untuk menjamin kemaslahatan dunia bagi seluruh masyarakat, air minum bersih, pendapatan per kapita sesuai dengan kebutuhan,” lanjutnya.

Dikatakannya juga, bahwa pemimpin diberikan gaji banyak dan fasilitas enak, kerjanya bukan untuk arogan. Misalnya melalui politik balas jasa untuk pendukung meski tidak didasari kemampuan (kompetensi jabatan) dan sebaliknya yang melawan dilindas walaupun memiliki kompetensi.

“Kalau kita mau adil dan objektif, boleh memilih siapapun, tapi siapapun yang diangkat dan terangkat adalah pemimpin kita bersama. Demikian juga dengan masyarakat, bahwa pemimpin siapapun masyarakat itu adalah masyarakat Anda (jangan dipilah-pilah),” katanya.

Mengamati fenomena tingginya suhu persaingan (rivalitas) antarbakal calon dan para pendukung serta simpatisan bakal calon peserta Pilkada serentak 2020 termasuk melalui jaringan media sosial (Medsos), politik hitam (black campign) menghalalkan segala cara, termasuk mengumbar aib, Ustadz Zainuddin MY mengingatkan masyarakat tentang dosa membuka aib.

Hal itu diingatkan oleh Rasulullah SAW, sebaigamana hadist:

وَمَنْ سَتَرَ عَلَى مُسْلِمٍ فِي الدُّنْيَا سَتَرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ


“Dan barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim sewaktu di dunia, maka Allah akan menutup (aibnya) di dunia dan akhirat” (Hadits Riwayat Imam at-Tirmidzi).

“Nggak boleh apalagi membuka aib. Tentang membuka aib diingatkan oleh Rasulullah SAW, mankasafal muslimin, kasalahu Allahu duniya wal akhirat. Barang siapa yang suka membuka aib saudara yang masih beragama Islam. Kan tiga-tiganya Islam, maka Allah akan membuka aib orang yang suka membuka aib temannya, baik aibnya dibuka di dunia maupun dibuka di akhirat. Kalau islah boleh, menasihatinya juga ada tata caranya, nggak boleh diumbar di depan umum, dipanggil dengan baik baik dan diberi masukan,” ujarnya.

Ditambahkannya, siapapun orang Islam adalah saudara. Tidak boleh dibedakan karena beda pemahaman, beda ikhwan sehinga dibeda-bedakan. Jika sudah terpenuhi tiga hal, sebaigamana Firman Allah QS At Taubah: 10  fa in tabu wa aqamus salat wa atawuz zakata fa ikhwanukum. Maka dia saudara se-Islam, tidak boleh karena beda pendapat maupun beda pemahaman dan dianggap berbeda organisasi, sehingga dibeda-bedakan.

“Karena kita diikat tiga hal. Yang ana paham konsep persaudaraan dalam Islam, kalau orang itu sudah bersyahadat, orang itu sudah salat, orang sudah keluarkan zakat, minimal zakat fitri di bulan Ramadan. Kan keluar (zakat) semua orang-orang itu. Maka orang-orang itu adalah saudara kita. Nah, ini adalah kekuatan besar umat Islam yang hampir 2 miliar manusia yang beragama Islam, jaga keutuhan dan kebersamaan. Apalagi di musim Pilkada ini,” imbaunya. [B-11]