Begini Tanggapan Fasilitator, Kasi PLP Cipta Karya dan Kasi Intel Kejari Dompu soal Bangunan Septic Tank -->

Iklan Semua Halaman

.

Begini Tanggapan Fasilitator, Kasi PLP Cipta Karya dan Kasi Intel Kejari Dompu soal Bangunan Septic Tank

Wednesday, October 14, 2020
Kasi PLP Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Dompu, Epin Perdana Putra, ST. Foto Poris Berita11.com.


Dompu, Berita11.com - Bangunan septic tank komunal ditempatkan di tempat kegiatan keagamaan yakni di Yayasan Yasmin Desa Dorebara, Kecamtan Dompu, Kabupaten Dompu dipublish amburadur dan bermasalah.


Hal itu kemudian ditanggapi oleh sejumlah pihak, terutama fasilitator Dinas PU PR, Nafis Kutubi, Kepala Seksi Penyehatan Lingkungan Permukiman (Kasi PLP) Cipta karya Dinas Pekerjaan Umum (PU), Epin Perdana Putra, ST dan Kasi Intel Kejaksaan Negeri (Kejari) Dompu Indra, SH.


Kasi PLP Cipta Karya Epin Perdana Putra, saat ditemui di ruang kerjanya menjelaskan, bekaitan persoalan pemindahan lokasi itu, sudah sesuai prosedur dan Juklak Juknis dan dikuatkan pendamping dari Dinas PUPR.


"Aturan ini jelas, ketika ada lokasi yang tidak memenuhi syarat, tidak menjadi masalah kalau masuk di sarana umum. Apalagi ini program bersifat pemberdayaan masyarakat dan ditempatkan di tempat yayasan keagamaan, jadi nggak masalah," ungkap Epin, Selasa (14/10/2020) pagi.


Menurut Epin, septic tank yang saat ini diterapkan, sudah melalui riset dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian PU PR kemudian diaplikasikan.


Dia menjelaskan, skala komunal yaitu 5-10 kepala keluarga (KK) dengan tingkat kepadatan penduduk 150 jiwa per hektar atau 30 % jika dikonversi ke persentase.


"Kalau masalah kemarin, yang di mana pipa yang muncul di atas permukaan tanah ada CCO nya. Jadi, kalau KSM tidak menanam pipa disebabkan kultur tanah yang tidak memungkinkan untuk ditanam, maka, nanti akan dilakukan pengecoran beton dan nilainya lebih tinggi lagi dari pada ditanam," urainya.


Ia mengapresiasi KSM yang telah bekerja maksimal. Apalagi pekerjaan itu baru tahap satu dengan pencairan 25%. Tetapi sudah mampu menyelesaikan di atas standar yang ditentukan.


"Kami bersama tim pendamping ini datang ke lokasi, kita cek di lapangan pekerjaan itu real dan kita hitung berdasarkan acuan RAB itu. Kita datang ke KSM ini melakukan audit sudah tiga kali, malah tidak ada masalah," terangnya.


"Pekerjaan itu malah lebih dari pagu 25 % yang dikeluarkan tahap pertama, bak yang dibuat itu ada tiga, sedangkan dalam aturan itu hanya satu bak setengah, begitu juga dengan galian. Setelah dicek di lapangan malah sebagian sudah melebihi standar," sambungnya.


Ia berpendapat, KSM menggunakan anggaran di luar total alokasi anggaran program septic tank. Awalnya dia diinformasikan ada kejanggalan atas pengerjaan itu, namun setelah dicek kejanggalan itu malah tidak ditemukan.


"Kita diberitahukan bahwa ada temuan di lapangan, setelah kami turun dan cek di lapangan, kami tidak menemukan kejanggalan yang dimaksud, malah menemukan pekerjaan yang lebih dari pagu tahap anggaran pertama," ungkapnya.


Di tempat yang sama, Fasilitator Dinas PUPR Kabupaten Dompu, Nafis Kutubi juga membenarkan atas penolakan warga. Bahkan saat itu pendamping sempat mengkur bersama kepala dusun masing-masing.


"Bahkan kami sudah mengukur di beberapa titik yang dimaksud namun di tengah jalan saya dikabari oleh ketua KSM bahwa terjadi penolakan oleh masyarakat," terang Nafis.


Menurut dia, salah satu pertimbangan karena kebetulan di desa setempat ada sekolah yayasan,  layaknya pondok pesantren tempat penginapan para santri untuk mengikuti kegiatan keagamaan, sehingga kebutuhannya pasti tinggi.


"Kesepakatan itu berdasarkan keinginan masyarakat Dorebara, kebetulan di dalam Juklak Juknis itu memperbolehkan fasilitas seperti itu. Kebetulan program ini ditolak di beberapa titik, apalagi itu yayasan tempat kegiatan keagamaan, bukan sekolah negeri. Jadi, nggak masalah," tandasnya.


Terpisah, Kasi Intel Kejari Dompu Indra, SH menegaskan bahwa pekerjaan septic tank komunal di Desa Dorebara tidak ada masalah dan sengaja dibuatkan masalah. Apalagi pihaknya sudah pernah turun langsung di lokasi.


"Masalahnya di mana, saya pun bingung, pekerjaan itu sudah bagus, dengan dibangunnya di situ (yayasan, red). Muridnya banyak membutuhkan, apa lagi di situ tempat tinggal langsung anak-anak yang mengikuti kegiatan keagamaan di situ ada 40 lebih murid. Jadi tidak kalah pentingnya dengan tempat lain," ujarnya.


Terkait sistem pengawasan yang ditunjuk oleh pemerintah desa, Indra menegaskan, bahwa ketua Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Zulkifli diangkat melalui hasil pemilihan yang tidak bisa diaklamasikan.


"Setelah terbentuk KSM itu, ditentukanlah di mana letak komunal ini dibangun. Sejumlah penerima manfaat awalnya setuju. Dia pikir program itu untuk pribadi dia, di tengah jalan warga setempat menolak," bebernya.


"Lalu di mana titik kesalahannya, kemudian yang ditempatkan di salah satu titik di rumah warga, kami pun bertanya, bagaimana pak keberatan? Lalu yang punya rumah, tidak pak malah kami senang, ya sudah, apalagi yang dipermasalahkan," tanyanya.


Lebih jauh, Indra juga mengungkapkan terkait dengan terciumnya aroma tak sedap bahwa ada seseorang yang meminta uang di balik program tersebut untuk kebutuhan membeli handphone. Bahkan rekaman pembicaraan terkait permintaan oknum yang meminta uang untuk membeli handphone, sudah dikantungi pihaknya.


"Rekaman minta uang itu sudah ada sama saya. Jadi, tidak menutup kemungkinan pekerjaan ini sengaja dihalang-galangi, sebenarnya nggak ada masalah," tegas Indra sembari tersenyum. [B-10]