Mulai Diburu, Keladi Saingi Harga Janda ini… -->

Iklan Semua Halaman

.

Mulai Diburu, Keladi Saingi Harga Janda ini…

Sunday, October 11, 2020



Bima,Berita11.com— Pandemi Covid-19 dengan sejumlah rentetan peraturan yang menyertainya seperti pembatasan sosial mengalihkan perhatian sebagian warga. Beberapa warga sibuk dengan kesenangan mengoleksi berbagai tanaman baru.

Janda Bolong adalah tanaman yang mulai fenomenal yang berasal dari keluarga Monstera dan memiliki nama lain Monstera andosonii. Yang unik dari Janda Bolong yaitu daun dengan lubang-lubang yang terbentuk alami.

Tren Janda Bolong di antaranya dipicu karena mengikuti desain rumah minimalis. Yang mengherankan, tanaman ini bisa laku hingga Rp100 juta. Dulu, sebelum tanaman ini menjadi tren, masyarakat Indonesia pernah beramai-ramai mengoleksi bunga Gelombang Cinta.

Beberapa waktu terakhir tanamaan keladi juga mulai viral karena banyak yang berburu untuk mendapatkannya. Walaupun bagi masyarakat beberapa daerah di Indonesia seperti di Bima Nusa Tenggara Barat, tanaman keladi sudah familiar dan ditanam pada halaman rumah penduduk, namun di beberapa daerah lain di Indonesia mulai viral dan mendapatkan perhatian. Bahkan di aplikasi Tik Tok keladi disebut warganet mencapai Rp3 juta. Padahal selama ini keladi banyak terdapat di pinggir-pinggir sungai.

Menurut beberapa warganet, harga keladi mencapai jutaan rupiah karena mulai sulit untuk mendapatkannya. Bahkan warga harus rela berburu dan mencarinya hingga ke hutan. Beberapa warganet mengaku rela mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk mendapatkan keladi. Itu juga sejak permintaan semakin besar, sehingga untuk mendapatkannya tergolong sulit.

Nur, warga Kabupaten Bima pengoleksi tanaman hias mengaku belum tertarik untuk mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk memperoleh keladi maupun mengeluarkan uang hingga ratusan juta rupiah untuk mendapatkan Janda Bolong.

“Kalau koleksinya yang masih wajar-wajar saja. Kalua sudah urusan hobi memang apapun akan diupayakan. Tapi kalau hargnya jutaan, puluhan juta atau hingga ratusan juta masih berat untuk kita. Apalagi sekarang semua harus serba hemat karena Covid-19,” katanya di Bolo, Minggu. [B-15]