Rupiah Mau Melemah lagi, Deflasi Kota Bima 0,02 Persen -->

Iklan Semua Halaman

.

Rupiah Mau Melemah lagi, Deflasi Kota Bima 0,02 Persen

Tuesday, October 13, 2020
Aktivitas Pedagang di Pasar Amahami Kota Bima sebelum Pandemi Covid-19. Foto Berita11.com.


Bima, Berita11.com— Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukan melemah di perdagangan spot. Adapun tanda-tanda depresiasi rupiah sudah terlihat di pasar Non-Deliverable Market (NDF). Sebagaimana data Refinitif kurs dolar AS di pasar NDF, untuk satu pekan, pada 12 Oktober (16.11 Wita) yakni Rp14.689,88, sedangkan kurs 13 Oktober (08.19 Wita) Rp14.765.

Di luar nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang menunjukan depresiasi, Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bima mencatat adanya deflasi di Kota Bima pada September 2020 sebesar 0,02 persen atau terjadi penurunan nilai Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 104,34 pada bulan Agustus 2020 menjadi 104,32 pada September 2020. Angka ini searah dengan kondisi nasional yang mengalami deflasi sebesar 0,05 persen pada September 2020.

Kepala BPS Kota Bima, Joko Pitoyo Novarudin SST, M.Si menjelaskan, pada September 2020 beberapa kelompok komoditas tercatat mengalami inflasi, yaitu transportasi sebesar 1,05 persen dan perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,01 persen.

Sementara itu, kelompok komoditas kesehatan, perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga, perawatan pribadi dan jasa lainnya, dan makanan, minuman dan tembakau masing-masing sebesar 0,03 persen, 0,03 persen, 0,02 persen, 0,37 persen, dan 0,38 persen. Kelompok komoditas pakaian dan alas kaki, informasi, komunikasi, dan jasa keuangan, rekreasi, olahraga, dan budaya, pendidikan, dan penyediaan makanan dan minuman,restoran tercatat tidak mengalami perubahan selama periode pemantauan di bulan September 2020.

Adapun laju inflasi Kota Bima tahun kalender September 2020 sebesar 0,14 persen, lebih rendah dibandingkan inflasi tahun kalender September 2019 sebesar 1,09 persen, sedangkan laju inflasi “tahun ke tahun” YoY September 2020 sebesar 1,15 persen, lebih rendah dibandingkan dengan laju inflasi “tahun ke tahun” di bulan September 2019 sebesar 2,74 persen.

Grafik Inflasi Bulanan di Kota Bima.


Sebagaimana diketahui sebelumnya, pemerintah telah mengumumkan masuknya resesi di akhir September 2020. Indonesia memasuki gerbang perlambatan ekonomi dan ancaman melambungnya harga.

Beberapa poin yang mesti menjadi atensi pemerintah, yaitu nilai tukar rupiah masih sangat labil dan nilai harga emas molorot tajam dalam enam pekan sebelumnya. Selain itu dihadapkan ancaman krisis pangan dan melambungnya harga. Cukai rokok akan naik 30 persen. Hal itu sebagaimana diingatkan praktisi ekenomi Kawasan Timur Indonesia.

Meskipun saat ini harga pangan relative stabil, beberapa jenis kebutuhan bahan pokok mulai merangkak naik, di antaranya ayam potong karena adanya penurunan stok bibit, sehingga memicu kenaikan tidak wajar.

Sejumlah bahan pangan lain yang terutama dipengaruhi musim seperti bawang merah, bawang putih, cabai merah, cabai keriting, cabai besar, serta telur menunjukan gejala yang sama.

Sebelumnya, pada Agustus 2020 lalu, BPS Kota Bima juga mencatat adanya deflasi 0,12. Namun BPS belum melakukan penelusuran dan survei lebih lanjut korelasi penurunan daya beli masyarakat pada kondisi pandemic Covid-19 sebagai faktor penyumbang deflasi di Kota Bima yang juga menjadi rujukan pencatatan deflasi di Kabupaten Bima.

“Secara teori penurunan daya beli masyarakat memang bisa menyebabkan deflasi, namun untuk wilayah Kota Bima, kami belum pernah melakukan kajian terkait hal ini. Belum bisa dipastikan fenomenanya,” kata Joko Pitoyo kepada Berita11.com, belum lama ini.

Sementara itu, pantauan langsung di sejumlah pasar di Kabupaten Bima seperti di Pasar Tradisional Sila Kecamatan Bolo, sejumlah jenis bahan pokok mengalami kenaikan seperti harga beras kualitas super paling mahal dijual Rp12.500/ Kg.  [B-11]