Wagub NTB Tegaskan Stigma Terorisme Dikaitkan dengan Agama Menyesatkan -->

Iklan Semua Halaman

.

Wagub NTB Tegaskan Stigma Terorisme Dikaitkan dengan Agama Menyesatkan

Thursday, November 19, 2020
Wagub NTB, Sitti Rohmi Djalilah saat Membuka Forum Koordinasi Pelaksanaan Kebijakan Perlindungan Anak Korban Stigmatisasi dan Jaringan Terorisme di Daerah yang Digelar di Golden Palace Hotel Mataram, Kamis (19/11/2020).



Mataram, Berita11.com— Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat, Hj Sitti Rohmi Djalilah menegaskan stigmatisasi terorisme yang dikaitkan dengan agama merupakan hal menyesatkan. Apalagi jika dikaitkan dengan Islam yang merupakan agama Rahmatan Lil Alamin (pembawa rahmat bagi seluruh alam).

Hal tersebut disampaikan Rohmi saat membuka Forum Koordinasi Pelaksanaan Kebijakan Perlindungan Anak Korban Stigmatisasi dan Jaringan Terorisme di Daerah, yang digelar di Golden Palace Hotel Mataram, Kamis (19/11/2020).

“Islam tidak membenarkan ajaran kebencian apalagi kekerasan. Islam adalah agama Rahmatal Lil Alamin, pembawa rahmat bagi seluruh alam,” jelas Rohmi.

Rohmi meyakini, ketahanan keluarga sangat berperan dalam pembentukan karakter anggota keluarga yang kuat dan tangguh. Ketahanan keluarga yang di dalamnya ada unsur pendidikan, kesehatan, agama, hingga nilai-nilai mulia, yang dinilai mampu efektif mencegah stigmatisasi masyarakat pada anak yang selama ini kerap terjadi, khususnya pada kasus terorisme.

“Dengan ketahanan keluarga yang kuat dan tangguh akan lahir generasi-generasi yang kuat pula, selalu menghargai sesama, berpikir positif, cerdas, kreatif. Insya Allah setiap persoalan yang dihadapi daerah ini, negeri ini bisa diatasi dengan baik pula,” katanya.

Rohmi berharap, pemahaman terorisme yang dikaitkan dengan agama agar dibuang jauh-jauh. Stigma terorisme yang disandang kepada anak-anak harus menjadi tanggung jawab bersama pula untuk dilepas dan diselesaikan.

Pada kesempatan tersebut, Rohmi juga menyinggung program unggulan Posyandu Keluarga. Di mana menurutnya, revitalisasi Posyandu yang tengah digalakkan pemerintah juga menjadi media edukasi efektif bagi masyarakat. Tidak hanya bermanfaat untuk edukasi pendidikan kesehatan, namun juga dapat dijadikan sarana bimbingan dan pemahaman nilai-nilai agama bagi anak.

“Karena itu sinergi antara desa hingga Provinsi harus tetap dilakukan untuk bisa bersama-sama mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, terutama pemahaman terhadap ajaran-ajaran yang keliru dan tidak dibenarkan ,” tutup Rohmi. 

Wagub NTB Bersama Stakel Holder di NTB.



Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempaun Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan keluarga Berencana (DP3AP2KB) Provinsi NTB, Ir Hj Husnanidiaty Nurdin MM menyampaikan, tujuan forum ini adalah untuk menyamakan persepsi antar lembaga serta meningkatkan komitmen pelaksanaan kebijakan tentang perlindungan anak korban stigmasisasi dan jaringan terorisme.

Kegiatan dihadiri 140 orang peserta dari unsur Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, perangkat daerah Pemprov NTB, aparat penegak hukum, Kanwil Agama, pegiat anak, forum anak, Majelis Adat Sasak (MAS) dan stake holder berkaitan lain. [B-12]