Volatile Food Pemicu Ketidakstabilan Harga dan Inflasi, Tahun 2021 Ekonomi NTB Diyakini Rebound -->

Iklan Semua Halaman

.

Volatile Food Pemicu Ketidakstabilan Harga dan Inflasi, Tahun 2021 Ekonomi NTB Diyakini Rebound

Tuesday, December 15, 2020
Ilustrasi Inflasi.


Mataram, Berita11.com—Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi NTB yang dipimpin Sekretaris Daerah Provinsi NTB, Drs H Lalu Gita Aryadi M.Si menggelar rapat di Ruang Serba Guna Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Selasa (15/12/2020). Salah satu yang mengemuka dalam rapat itu, sumbangan inflasi paling sering dari kelompok volatile food sebagai pemicu ketidakstabilan harga dan optimisme Pemrov NTB terhadap perekonomian pada tahun 2021 akan mengalami rebound.

Saat memimpin rapat, Sekda NTB yang juga Ketua Harian TPID Provinsi NTB menyampaikan bahwa risiko penyebaran COVID-19 masih perlu diwaspadai hingga 14 Desember 2020. dikemukakannnya terdapat 5.102 kasus positif Covid-19 di Provinsi NTB dengan dua kabupaten/kota yang masih berada di zona merah yaitu Kabupaten Sumbawa dan Kota Bima.

“Kunci utama untuk memutus mata rantai penularan Covid-19 adalah dengan disiplin penerapan protokol kesehatan oleh seluruh lapisan masyarakat,” ujar Gita Aryadi.

Menurut Aryadi, pandemi Covid-19 turut memberikan dampak penurunan kondisi perekonomian di tahun 2020. Namun demikian, pihaknya optimis perekonomian pada tahun 2021 akan mengalami rebound. Sejalan dengan ekspektasi pemulihan ekonomi tersebut, dia meminta agar potensi peningkatan tekanan inflasi dapat diantisipasi terutama pada event-event hari besar keagamaan serta persiapan penyelenggaraan event Moto GP Mandalika tahun 2021.

Pada kesempatan tersebut, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Heru Saptaji, menyampaikan perkembangan perekonomian NTB sepanjang tahun 2020 dan tantangan pengendalian inflasi pada tahun 2021. Secara tahunan perekonomian NTB membaik tercermin dari berkurangnya kontraksi pertumbuhan dari sebelumnya sebesar -1,40% (yoy) di triwulan 11-2020, menjadi -1,11% pada triwulan III-2020. Secara triwulanan, perekonomian NTB tumbuh positif dari 0,48% menjadi 3,01 % di triwulan III-2020.

Dikatakannya, inflasi NTB pada November 2020 masih dalam koridor yang baik, yakni 0,51 % (yoy), lebih rendah dibandi ng i nflasi nasional 1,50% (yoy) dan lebih rendah dibanding i nflasi NTB pada November 2019 sebesar 1,74% (yoy). lnflasi yang terjaga terutama bersumber dari menurunnya permintaan bahan makanan serta tarif angkutan penumpang akibat pembatasan mobilisasi masyarakat di masa pandemi.

Di tengah menurunnya permintaan bahan makanan, kelompok volatile food menunjukkan ketidakstabilan harga. Hingga November 2020, kelompok volatile food yang paIi ng sering menjadi penyumbang i nflasi pada tahun 2020 di antaranya bawang merah, minyak goreng, beras, jeruk, dan jagung manis. Sementara itu, dilihat secara historis dari tahun 2016 sampai dengan November 2020, komoditas beras menjadi penyumbang inflasi volatile food utama, dii kuti oleh daging ayam ras, bawang putih, cabai merah, telur ayam ras. Untuk menanggapi ketidakstabilan harga, berbagai upaya pengendalian infIasi dalam kerangka 4K (ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, keterjangkauan harga, dan komun i kasi efektif) telah dilakukan oleh TPID NTB sepanjang tahun 2020.

Dalam menjapa ketersediaan pasokan di masa pandemi, terdapat program JPS Gemilang pemberian paket bantuan berupa beras dan komoditi kebutuhan pokok lainnya yanp memberdayakan 4.673 UKM/IKM dan kelompok usaha kecil di Provinsi NTB, program intensifikasi sapi potong dan kampung ungpas terpadu (Dinas Peternakan), program Samsat perizinan kapal perikanan (Dinas Kelautan dan Perikanan), serta optimalisasi teknolopi pertanian yang didukung Bank Indonesia melalui klaster binaannya seperti teknologi double chromosome untuk peningkatan produktifitas bawang putih dan teknolopi plasma ozon untuk memperpanjang masa simpan bawang merah.

Untuk menjamin kelancaran distribusi, pengawasan dan sidak jalur IaIu lintas logistik rutin dilakukan anggota TPID dan Satgas Pangan baik provinsi, maupun kabupaten/kota. Untuk menjaga keterjangkauan harga, TPID telah membentuk berbagai wadah seperti Gelar Pangan Murah (Dinas Ketahanan Pangan) dan Operasi Pasar (Dinas Perdagangan). Dalam upaya pengendalian harga, komunikasi yang efektif juga sudah dilakukan oleh TPID di antaranya Kajian Online Ramadan bersama Dinas Perdagangan Provinsi NTB dan tokoh agama setempat, kerja sama antardaerah antara TPID Lombok Barat dan TPID Kabupaten Bangli, Provinsi Bali serta rapat koordinasi dan juga high level meeting.

Sementara itu, Kepala Bidang Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik Provinsi NTB Drs M Saphoan yang memaparkan perkembangan inflasi tahun 2020, menyebutkan, pada November 2020, inflasi Provinsi NTB tercatat sebesar 0,03 % (mtm) atau 0,17% (ytd). Tekanan inflasi terutama bersumber dari kenaikan harga subsektor hortikultura seperti bawang merah, cabai rawit, dan tomat. Secara umum permintaan komoditas dominan penyumbang inflasi di Provinsi NTB masih sering dipengaruhi oleh faktor musim serta penyelenggaraan event-event besar.

Adapun Kepala Seksi Data dan Informasi Stasiun Klimatologi Lombok Barat (BMKG) menyampaikan, Provinsi NTB telah memasuki awal musim penghujan pada November dan Desember 2020. Puncak musim penghujan diperkirakan Januari-Maret 2021 sejalan dengan prediksi akan adanya pengaruh La Nina kuat di periode tersebut. Pengaruh La Nina diperkirakan akan mulai melemah pada periode April-Mei 2021.

Menindaklanjuti pemaparan dari seluruh narasumber serta diskusi dengan peserta rapat, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Heru Saptaji, menyampaikan bahwa tantangan pengendalian inflasi di tahun 2021 di antaranya peninpkatan permintaan sejalan denpan recovery ekonomi yang diperkirakan akan tumbuh pada kisaran 3,8% 4,2% (yoy) pada tahun 2021, tantangan kesinambungan pasokan distribusi panpan antardaerah dan antarwaktu, serta tendensi perdapangan bahan pangan keluar Provinsi NTB.

Secara khusus, untuk kelompok volatile food juga perlu diperhatikan mengingat fluktuasi harga yang cukup tinggi dari kelompok ini. Pada saat panen raya, harga cenderung jatuh karena pasokan melimpah, namun pada saat off-season (tidak musim) pasokan cenderung langka sehingga harga melambung. Tantangan pasokan pada tahun 2021 juga semakin meningkat dengan adanya risiko La Nina kuat di sepanjang triwulan 1-2021.

Lebih lanjut, Heru Saptaji mengemukakan beberapa strategi yang dapat diupayakan oleh TPID Provinsi NTB maupun kabupaten/kota di NTB untuk menghadapi tantangan-tantangan pengendalian inflasi di tahun 2021. Untuk mengantisipasi gejolak harga dan ketersediaan pasokan komoditas- komoditas bahan makanan utama, masing-masing daerah dapat menyusun kalender produksi yang memuat informasi mengenai estimasi produksi dan/atau ketersediaan pasokan, serta jadwal tanam. 

Selanjutnya, untuk mendukung kegiatan TPID secara multisektoral serta mengantisipasi potensi kenaikan harga di tingkat distributor dan pedagang di tengah intensifikasi pelaksanaan event-event di masa pemulihan ekonomi, perlu disusun Roadmap Pengendalian lnflasi TPID Provinsi NTB yang sesuai dengan Roadmap Pengendalian Inflasi TPIN. Roadmap ini yang nantinya akan menjadi acuan pelaksanaan kegiatan TPID untuk optimalisasi pengendalian inflasi ke depan.

Dalam kegiatan tersebut juga dilaksanakan penyerahan PSBI Pendidikan oleh Sekretaris Daerah Provinsi NTB, Drs H Lalu Gita Aryadi M.Si dan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Heru Saptaji, kepada 15 sekolah dan universitas di Provinsi NTB yaitu MI Nurul Islam, MI AI Mujahidin, SDN 13 Ampenan, MI Nurul Jannah, MTS Nurul Islam, SMPN 15 Mataram, MTS Selaparang Putra, SMKN 1 Sekotong, SMAN 5 Mataram, SMAN 7 Mataram, MAN 1 Mataram, Universitas Muhammadiyah Mataram, Universitas Mandalika Mataram, Universitas NW Mataram, dan IAI NW Mataram. [B-11]