Part I, Sejarah Syekh Nurdin Hadirkan Islam dan Tujuh Buku Kitab Suci Al-Qur'an di Dompu -->

Iklan Semua Halaman

.

Part I, Sejarah Syekh Nurdin Hadirkan Islam dan Tujuh Buku Kitab Suci Al-Qur'an di Dompu

Sunday, January 3, 2021
H. Raden M. Agoes Soeryanto, S.Sos. Foto ist.


Syekh Nurdin dan Tiga Ulama dari Negeri Seberang

Sejarah di Dana (Bumi) Dompu mencatat, ketika Syekh Nurdin seorang ulama terkemuka keturunan Arab Magribi menginjakan kakinya di Bumi Dompu sekitar tahun 1528 Masehi untuk menyebarkan Islam sambil berdagang.

Saat itu Dompu di bawah Pemerintahan Raja Bumi Luma Na’e yang bergelar Dewa Mawa’a Taho (Saat itu Dompu belum mengenal Islam atau masih menganut ajaran Hindhu).

Sebab saat itu, Kerajaan Dompu masih di bawah kekuasaan kerajaan Majapahit (Raja Hayam Wuruk) dengan Mahapatih Sang Gajah Mada Amurwa Bumi.

Kehadiran Syekh Nurdin, di Kerajaan Dompu tampaknya mendapat simpatik dari rakyat Dompu terutama Raja Dompu saat itu. 

Bahkan lambat laun ajaran Islam yang di bawa oleh Syekh Nurdin, dengan cepat dapat diterima oleh rakyat Kerajaan Dompu termasuk dari para kalangan Istana (Bangsawan).

Konon cerita, salah seorang putri dari keluarga Kerajaan Dompu tertarik terhadap ajaran Islam yang di bawa oleh Syekh Nurdin. 

Sang Putripun akhirnya belajar dan memeluk Islam di hadapan Syekh Nurdin, bukan itu saja, sang putri Raja itupun akhirnya menaruh hati dan menikah dengan Syekh Nurdin.

Putri Raja yang tidak diketahui nama aslinya itupun akhirnya mengganti namannya setelah menikah dengan Syekh Nurdin, dengan nama Islam yakni St. Hadijah. 

Dari pernikahan dengan Syekh Nurdin, mereka dikaruniai tiga orang anak, dua orang putra dan satu orang perempuan masing-masing bernama Syekh Abdul Salam, Syekh Abdullah dan Joharmani.

Pada saat Syekh Nurdin dan keluarganya berangkat ibadah haji ke tanah suci Makkah AL Mukarrahmah sambil belajar untuk memperdalam ilmu Agama Islam.

Namun Syekh Nurdin dan salah seorang putranya yakni Syekh Abdullah, tidak kembali ke Dompu karena keduanya meninggal di tanah Makkah. 

Hanya Syekh Abdul Salam dan ibundanya St. Hadijah serta adik perempuannya yakni Joharmani yang kembali ke Dompu. 

Isteri Syekh Nurdin dan kedua anaknya yang sudah menyandang gelar Haji kembali pulang ke Dompu dengan membawa oleh-oleh berupa kitab suci Al-Qur'an sebanyak tujuh buah.

Di dompu dikenal dengan istilah Karo'a Pidu. Konon tujuh buah kitab suci Al-Qur'an yang dibawa dari Makkah tersebut saat ini masih tersimpan dengan baik di rumah kediaman (Asi Mpasa) Ruma Siwe (Hj. St. Hadijah Isteri Almarhum Sultan Muhammad Tajul Arifin Siradjuddindin, Sultan Dompu terakhir).

Islam menjadi Agama resmi Kerajaan Dompu ketika putra pertama Raja Dompu yakni La Bata Na'e naik Tahta menggantikan Ayahandannya. 

Untuk memperdalam ilmu Agama Islam, La Bata Na'e pergi meninggalkan Dompu untuk menimba Ilmu mulai dari Kerajaan Bima, Makassar (GOA) bahkan sampai ke tanah Jawa (Jawa Timur).  

Setelah menguasai berbagai macam ilmu Agama Islam, La Bata Na'e akhirnya kembali ke Kerajaan Dompu untuk meneruskan memimpin pemerintahaan warisan sang Ayahandanya Raja Dompu Bumi Luwu Na'e. 

Pada tahun 1545, La Bata Na'e resmi naik Tahta menggantikan Ayahnya. La Bata Na,e selanjutnya mengubah sistim pemerintahaan di Dompu dari Kerajaan menjadi Kesultanan dan bergelar Sultan Syamsuddin.

Bersambung.

Oleh : H. Raden M. Agoes Soeryanto, S.Sos