Part II, Sejarah Kepemimpinan Sultan Syamsuddin di Masa Kesultanan Dompu -->

Iklan Semua Halaman

.

Part II, Sejarah Kepemimpinan Sultan Syamsuddin di Masa Kesultanan Dompu

Monday, January 4, 2021
Makam Sultan Syamsuddin yang terletak di atas bukit yang ada di lingkungan Dorompana Kelurahan Kandai Satu. Dompu. Foto Poris Berita11.com.


La Bata Na'e atau Sultan Syamsuddin merupakan Sultan Dompu yang pertama setelah masa kerajaan, sekaligus salah satu Sultan yang pertama kali memeluk Agama Islam di Dompu


Selanjutnya Agama Islam saat itu resmi menjadi Agama di wilayah Kesultanan Dompu.


Untuk mendampingi dalam memimpin pemerintahaan di Kesultanan Dompu, Sultan Syamsuddin menikah dengan Joharmani putri bungsu almarhum Syekh Nurdin atau saudara kandung Syeh Abdul Salam pada tahun yang sama (1545). 


Pada saat kepemimpinannya, Sultan Syamsuddin mengangkat iparnya yakni Syeh Abdul Salam sebagai ketua ulama di Istana Kesultanan Dompu. 


Namun beberapa tahun kedepan, Syekh Abdul Salam meninggal dunia (wafat) dan dikuburkan di sekitar Lingkungan Raba Laju, Kelurahan Potu. 


Makam Syekh Abdul Salam ini, warga sekitar menyebutnya makam keramat yang saat ini pemerintah telah dijadikan salah satu situs purbakala.


Bahkan untuk mengenang nama Syekh Abdul Salam, di dekat makam Syekh Abdul Salam terdapat pemakaman umum yang sekarang dinamakan RADE SALA yang artinya Kuburan Abdul Salam.


Kemudian sekitar tahun 1585, datanglah tiga orang saudagar atau pedagang sekaligus ulama Islam dari berbagai penjuru.


Ketiga para ulama ini masing-masing Syekh Hasanuddin dari Sumatera, kemudian Seykh Abdullah dari Makassar dan Sykeh Umar Al Bantani dari Madiun Jawa Timur.


Ketiganya akhirnya sepakat untuk menetap di Dompu dengan tujuan membawa Syi’ar Agama Islam.


Kedatangan ketiga ulama ini rupanya mendapatkan sambutan yang baik dan simpatik dari Sultan Dompu beserta masyarakat di wilayah Kesultanan Dompu. 


Untuk membuktikan rasa simpatik sekaligus penghormatan terhadap ketiga orang ulama tersebut, Sultan Syamsuddin memberikan masing masing kedudukan.


Syekh Hasanuddin menduduki salah satu jabatan yakni QADI (setingkat menteri Agama di kesultanan) dan selanjutnya bergelar WARU KALI. 


Sedangkan Syekh Abdullah dan Syekh Umar AL Bantani diberi kepercayaan sebagai Imam Masjid di Kesultanan Dompu. 


Syekh Hasanuddin bertempat tinggal di Kandai I hingga meninggal dunia dan dimakamkan di tempat itu pula. Oleh masyarakat Dompu, lokasi atau komplek pemakaman tersebut kini dikenal dengan sebutan makam WARU KALI. 


Pada masa pemerintahaan Bupati Dompu H. Abubakar Ahmad, SH periode (2000-2005), situs Waru Kali pernah dilakukan penelitian oleh tim Arkelogi dan Purbakala yang dipimpin Dr. Haris Sukandar dan Dra. Ayu Kusumawati.


Dalam penelitiannya, ditariklah kesimpulan bahwa lokasi Waru Kali merupakan peninggal bersejarah tinggi di Dompu ribuan tahun yang lalu.   


Akhirnya komplek tersebut ditetapakan sebagai salah satu situs peninggalan Purbakala yang bernilai sejarah tinggi. 


Situs Waru Kali berdekatan dengan Komplek situs Doro Bata yang berlokasi di Kelurahan Kandai Satu, Kecamatan Dompu. 


Menurut cerita, di Dana (Bumi) Dompu, Syekh Umar Al Bantani dan Syekh Abdullah membangun sebuah tempat ibadah (Masjid atau Mushola) yang berukuran kurang lebih 4 x 4 meter.


Bangunan tersebut bertempat di dekat perkampungan yang diberi nama Karijawa, dan tempat ibadah itu konon, merupakan satu-satunya Masjid Kesultanan Dompu. 


Menurut riwayat, bekas tempat bangunan Masjid yang dibangun oleh dua orang ulama terkenal itu, kini tempatnya sudah berubah fungsi menjadi komplek kantor Kelurahan Karijawa. 


Sedangkan Masjid Agung Baiturahman Dompu dahulu kala lokasi tersebut merupakan tempat atau bekas Istana Kesultanan Dompu. 


Bersambung


Oleh : H. Raden M. Agoes Soeryanto, S.Sos