Bappeda dan Pokja AMPL Dompu Bakal Lakukan Studi EHRA -->

Iklan Semua Halaman

.

Bappeda dan Pokja AMPL Dompu Bakal Lakukan Studi EHRA

Wednesday, February 3, 2021
Plh Bappeda dan Litbang Muhammad Syahroni, SP, MM. Foto ist.


Dompu, Berita11.com - Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) dan Litbang beserta Kelompok Kerja (Pokja) Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) Kabupaten Dompu, bakal melakukan studi Environmental Health Risk Assesment (EHRA) atau penilaian risiko kesehatan. 


Namun sebelum itu, AMPL Kabupaten Dompu terlebih dahulu dilakukan Bimbingan tekhnik (Bimtek) dalam jaringan (Daring) study EHRA bersama tim Pokja AMPL Provinsi NTB yang akan dilaksanakan pada Kamis (4/2/2021) besok, di aula Bappeda setempat.


Kegiatan study penilaian risiko kesehatan AMPL Kabupaten Dompu guna mengetahui resiko penyehatan lingkungan yang meliputi seluruh wilayah kajian pada 72 desa dan sembilan kelurahan yang ada di delapan Kecamatan.


Pada kegiatan studi EHRA besok, akan menghadirkan Dinas Kesehatan di bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) dan Bidang Sosial dan Budaya Bappeda dan Litbang.


Kepala Pelaksana Tugas Harian (Plh) Bappeda Kabupaten Dompu Muhammad Syahroni, SP, MM menjelaskan, studi EHRA merupakan salah satu dari beberapa studi primer yang harus dilakukan Pokja Sanitasi Kabupaten atau Kota.


"Untuk menyusun SSK (Strategi Sanitasi Kabupaten) berdasarkan pendekatan PPSP (Program Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman)

Tahun 2020 harus dilakukan berbagai penyesuaian terhadap studi EHRA terdahulu," kata Muhammad Syahroni, Rabu (3/2) siang.


Penyesuaian tersebut, kata dia, dilakukan berdasarkan pengalaman pelaksanaan studi EHRA sebelumnya dan mengikuti perkembangan program PPSP terkini.


"Secara substansi hasil studi EHRA memberi data ilmiah dan faktual tentang ketersediaan layanan sanitasi di tingkat rumah tangga dalam skala Kabupaten atau Kota," ujarnya.


Menurut Muhammad Syahroni, komponen sanitasi yang menjadi objek studi meliputi lima pilar Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) diantaranya limbah cair domestik, persampahan dan drainase lingkungan serta perilaku higiene dan sanitasi. 


Sedangkan pengorganisasian pertanyaan dalam kuesioner dan lembar pengamatan dan penomorannya dibuat sedemikian rupa sehingga mempermudah pelaksanaan studi, entri data maupun analisa data hasil studinya.


"Berdasarkan metode pelaksanaan studi EHRA yang baru ini Pokja Sanitasi Kabupaten atau Kota mengambil seluruh desa atau kelurahan sebagai target area studi," bebernya. 


Di samping itu, lanjut dia, harus dilakukan stratifikasi desa atau kelurahan

berdasarkan empat kriteria yakni kepadatan penduduk, angka kemiskinan, daerah atau wilayah terkena banjir serta dinilai mengganggu ketentraman masyarakat. 


"Studi EHRA ini diharapkan dapat memberikan fleksibilitas, alokasi biaya dan yang lebih penting adalah meningkatkan kemandirian Pokja Sanitasi Kabupaten atau Kota sehingga dapat mengoptimalisasi sumber daya yang dimiliki," pungkasnya. [B-10]