Tak Terwujud Miliki Motor, Remaja di Pekat Nekat Akhiri Hidup dengan Cara Gantung Diri -->

Iklan Semua Halaman

.

Tak Terwujud Miliki Motor, Remaja di Pekat Nekat Akhiri Hidup dengan Cara Gantung Diri

Thursday, February 4, 2021
Jasad remaja Waliadin alias Adeng usai dilepas dari kondisi tergantung di Kamarnya. Foto ist.


Dompu, Berita11.com - Seorang remaja Waliadin alias Adeng, warga Dusun Suka Jaya, Desa Kadindi, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu NTB ditemukan sudah tak bernyawa di kamarnya dengan kondisi dililit tali nylon, Rabu (3/2/21) malam.


Kisah pilu dialami remaja berusia 14 tahun ini, diduga lantaran keinginannya dibelikan sepeda motor tidak bisa terwujud atau dipenuhi oleh ibu dan neneknya, karena faktor ekonomi yang tidak mencukupi. 


Selain itu, korban juga sangat ingin bertemu dengan ayahnya, hal itu sering ia pertanyakan kepada ibunya dan selalu dijawab tidak tahu, akibatnya korban mengalami depresi dan memilih mengakhiri hidupnya dengan cara menggantung diri.


Menurut Kapolsek Pekat Ipda Muhammad Sofiyan Hidayat, S.Sos melalui Paur Subbag Humas Polres Dompu Aiptu Hujaifah, jasad korban pertama kali diketahui neneknya Sahri atau Ina Fajri (65) yang tinggal seatap dengan korban.


Saat itu, Ina Fajri sedang masak, tiba-tiba ia mendengar suara sesuatu yang jatuh di dalam rumah, akibat penasaran dengan suara itu, sang nenek pun menuju sumber suara.

Korban dan keluarga di rumahnya. Foto ist.

"Nenek korban sangat terkejut dikala melihat cucunya dalam keadaan tidak bernyawa yang masih terlilit seutas tali nylon yang sudah putus, nenek berteriak histeris dan menangis sehingga didengar warga," jelasnya.


"Mendengar teriakan itu, warga setempat segera datang dan membantu melepaskan ikatan tali dan mengangkat korban ke tempat tidur," sambung Hujaifah.


Korban selama ini tinggal bersama neneknya lantaran kedua orang tuanya bercerai saat korban berusia 5 tahun dan sejak saat itu, korban tak pernah lagi bertemu dengan sang ayahnya.


"Beberapa hari terakhir sebelum kejadian, keluarga sering melihat korban duduk murung seorang diri dan terkadang lebih banyak mengurung diri di dalam rumah," cetusnya.


Kapolsek Pekat bersama anggota berupaya melakukan koordinasi dengan pihak keluarga serta melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) 


Hasil koordinasi, pihak keluarga mengikhlaskan insiden tersebut sebagai musibah dan menolak untuk dilakukan visum Et Repertum [B-10]