Valentine Day tidak Penting dan tak Sesuai Kultur Budaya Bima -->

Iklan Semua Halaman

.

Valentine Day tidak Penting dan tak Sesuai Kultur Budaya Bima

Saturday, February 13, 2021
Ustadz Imam Mujahid (Baju Hitam) Bersama Ustadz Hasan (Tengah) LDK Muhajirin Masjid Sudirman STKIP Taman Siswa Bima dan Dosen STKIP TSB (Kiri). Foto Ist.


Bima, Berita11.com— Pada umumnya setiap 14 Februari diperingati sebagai valentine day atau populernya hari kasih saying di seluruh dunia. Budaya itu diadopsi dan ditiru hingga Indonesia, tak terkecuali di Bima khusunya oleh generasi muda tanpa mengetahui seluk beluk budaya itu.

Ketua Gerakan Anti Maksiat (GAMIS) Bima, Ustadz Imanuddin M.Psi, mengingatkan generasi muda bahwa perayaan valentine day tidak penting dan tidak mendidik, karena melanggar nilai-nilai kebudayaan dan kultur budaya Bima.

Oleh karenanya, pria yang juga akademisi STKIP Taman Siswa Bima ini menyerukan kepada para pemuda dan pemudi, terutama umat Islam agar tidak merayakan valentine day.

Perayaan valentine day tidak penting dan tidak mendidik karna melanggar nilai-nilai pendidikan dan kultur budaya kebimaan. “Valentine day merupakan budaya barat yang berhasil diselundupkan ke berbagai negara, termasuk Indonesia yang tentu tujuannya adalah untuk merusak akhlak dan moral para remaja,” ujar pria yang akrab disapa Ustadz Imam Mujahid ini, Sabtu (13/2/2021).

Dikatakannya, semula valentine day hanya dilakukan oleh remaja-remaja Kristen, karena itu merupakan tradisi dan budaya dalam agama itu, sebagai ungkapan dan ekspresi kasih sayang di antara mereka. Namun, belakangan ini, perayaan valentine day sudah diikuti oleh seluruh remaja di Indonesia termasuk anak-anak remaja muslim di Bima.

Jika tiba saatnya, hampir di seluruh wilayah Indonesia, berbagai kota ramai-ramai merayakan valentine day dengan ekspresi dan cara yang berbeda-beda, mulai dari sekadar memberikan bunga, saling berpelukkan, cium-ciuman hingga melakukan seks bebas dan mabuk bersama sebagai eksepsi kasih sayang di kalangan remaja.

“Perayaan valentine day tidak penting dan tidak mendidik karena melanggar nilai-nilai pendidikan dan kultur budaya kebimaan. Peradaban Bima sangat mulia. Jadi, jangan sampai dirusak dengan dengan meniru peradaban barat yang bebas nilai dan sekuler,” kata alumnus Magister Psikologi ini.

Atas latar belakang historis itu, pihaknya mengajak umat Islam di Bima tidak melakukan perayaan valentine day dalam bentuk apapun. Karena budaya itu merusak ahlak.

“Kita orang Bima dikenal dengan masyarakat yang agamais sehingga budaya seperti ini tidak patut ditiru. Nabi kita melarang meniru budaya dan tradisi orang-orang kafir,” ujarnya.

Sebagaimana hadis riwayat Abud Daud yang disahihkan Ibnu Hibban: barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk di antaraya mereka. مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ, فَهُوَ مِنْهُمْ

Diisyaratkannya, imbauan tak merayakan valentine day akan disampaikan Gamis dalam kegiatan salat subuh berjemaah di Masjid Lara Desa Tambe, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima, Ahad (14/2/2021).

“InshaAllah ada, kami kemas dalam kegiatan salat subuh berjamaah. Pada momen ini kami akan sampaikan tentang bahaya valentine day bagi remaja dan umat Islam pada umumnya,” pungkas Ustadz Imam Mujahid. 

Sebelumnya, tokoh muda inspirator di Bima sekaligus pimpinan komunitas Babuju, Zulhaidin SE alias Rangga Babuju sering mengingatkan pentingnya perhatian stake holder terhadap potensi degradasi generasi muda di Bima saat malam perayaan valentine. Bahkan Rangga pernah melakukan riset kecil terhadap sejumlah apotik dan mini market di Kota Bima dan menemukan fenomena kondom laris terjual saat malam valentine day, sebagai early warning degradasi moral generasi di Bima.  [B-11]