Ekspor Non-Tambang Tahun 2020 di NTB Menurun jadi Rp392,29 Juta, ini Strategi Akselerasi BI -->

Iklan Semua Halaman

.

Ekspor Non-Tambang Tahun 2020 di NTB Menurun jadi Rp392,29 Juta, ini Strategi Akselerasi BI

Wednesday, March 24, 2021
Suasana FGD Akselerasi Ekspor Komoditas Potensial di Provinsi NTB yang Digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB di Mataram, Selasa (23/3/2021).


Mataram, Berita11.com— Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Barat (BI NTB),Heru Saptaji menyebut pendapatan demostik regional bruto (PDRB) NTB pada tahun 2020 mengalami kontraksi sebesar 5,19%. Hal itu juga tampak dalam kinerja ekspor nontambang berdasarkan devisa, di mana ekspor nontambang Provinsi NTB pada 2020 sebesar Rp392,29 juta, menurun dibandingkan tahun 2019 yang mencapai Rp8,86 miliar.

Menurut Heru, sudah seharusnya ekspor nontambang bangkit dan tidak dibiarkan terus berlanjut. Ekspor nontambang harus didorong secara berkelanjutan, namun tidak cukup melalui program-program yang normative, tapi diperlukan suatu inovasi terobosan baru untuk peningkatan ekspor di tengah pandemi Covid-19 ini.

“Karena ekspor nontambang inilah yang akan langsung berdampak kepada masyarakat secara umum yang pada akhirnya akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif,” ujarnya saat Focus Group Discussion (FGD) dalam konteks percepatan dan penguatan ekspor di wilayah NTB yang digelar Mataram, Selasa (23/3/2021).

Produk unggulan nontambang diharapkan mampu menjadi new engine of growth dari sisi ekspor. FGD diawali dengan pemaparan mengenai kondisi usaha, potensi pasar dan gap tantangan atau kendala yang dihadapi oleh UMKM, yang mana hal itu didengarkan oleh stakeholder berkaitan yang memiliki kewenangan.

Dikatakannya, salah satu terobosan yang dilakukan oleh Bank Indonesia secara periodik sejak awal tahun 2021, telah melakukan beberapa kali kegiatan virtual meeting dalam konteks Regional Investor Relation Unit (RIRU) untuk mengundang investor, baik dalam kontesks investasi bangunan fisik maupun program konektifitas perdagangan luar negeri untuk komoditas unggulan nontambang dari Provinsi NTB.

Berdasarkan diskusi dan pendalaman yang dilakukan dalam FGD, terlihat bahwa potensi pasar luar negeri sangat besar, tetapi terdapat keterbatasan dari sisi suplay produk UMKM. Ada banyak faktor yang mengakibatkan keterbatasan tersebut antara lain faktor masih rendahnya produktifitas UMKM dalam memenuhi kuota pasar luar negeri, masalah perizinan seperti ketidaktahuan atau keengganan untuk mengurus izin ekspor. Oleh karena itu, perlu pendampingan khusus meningkatkan produktifitas dan dibentuk tim (agency) untuk mendampingi atau menjadi perantara proses perizinan yang dilakukan oleh UMKM.

Dia juga mengatakan, hasil tindak lanjut dari FGD ini, akan menjadi rumusan untuk menyusun strategi yang sifatnya dapat memberikan solusi yang berdimensi jangka pendek dan akan menjadi rumusan program yang integrative yang melibatkan para stakeholder terkait sesuai dengan tugas pokok dan fungsi dari masing-masing lembaga yang secara tegas dan jelas.

Kegiatan serupa akan dilaksanakan secara periodik dalam konteks monitoring dan evaluasi progress kinerja ekspor nontambang di NTB. Setelah hal tersebut berhasil dilaksanakan, harapan ke depan para pelaku ekspor akan semakin banyak dan akan muncul kandidat-kandidat baru pelaku ekspor yang diharapkan menjadi cikal bakal dari pengembangan tim percepatan ekspor daerah.

Heru menambahkan, Bank Indonesia siap memberikan dukungan penuh dan menfasilitasi upaya meningkatkan produk unggulan ekspor nontambang demi tercapainya pertumbuhan ekonomi yang lebih berkualitas dan bersifat inklusif.

Focus Group Discussion digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB bersama Pemerintah daerah Provinsi NTB dan stakeholder terkait antara lain Balai Karantina Perikanan, Balai Karantina Pertanian, Kantor Bea dan Cukai Mataram, Garuda Indonesia, PT. Pelindo dan instansi lain. [B-11]