Kasus Asusila Merebak di Bima-Dompu, ini kata Magister Psikologi -->

Iklan Semua Halaman

.

Kasus Asusila Merebak di Bima-Dompu, ini kata Magister Psikologi

Wednesday, March 3, 2021
Ilustrasi Korban Kejahatan Seksual. Source: Tribunnews.


Bima, Berita11.com— Sebulan terkahir, kanvas maya di Bima-Dompu seperti di facebook dihebohkan kasus asusila seperti perkosaan keponakan oleh paman kandung, pencabulan bocah oleh ibu kandung, kasus mesum hingga kekerasan seksual anak di bawah umur oleh kerabat dan tetangganya.

Berbagai kasus itu memberi isyarat tegas adanya degradasi moral di tanah Bima-Dompu (Mbojo) yang selama ini dikenal kental religious dan menghormati adab Timur seperti halnya yang menjadi motto daerah Maja Labo Dahu, sebagai salah satu semboyang masyarakat Bima. Sejumlah kasus itu mengoyak rasa keprihatinan berbagai lapisan masyarakat. Sudah sedemikian parah kah mental dan moral warga Bima-Dompu hingga melabrak normal sosial dan agama?

Ketua Gerakan Anti Maksiat (GAMIS), Imanuddin M.Psi mengatakan, perlu ada atensi dan kepedulian bersama atas persoalan moral beberapa oknum warga yang sering menyeruak di kanvas media sosial dan pemberitaan media akhir-akhir ini di wilayah Bima dan Dompu.

“Akhir-akhir ini begitu banyak kasus kejahatan seksual yang terjadi di daerah ini, bahkan dalam beberapa kasus, sang korban harus berakhir tragis dengan kematian. Lalu, ada apa dengan para pelaku yang begitu kejamnya, apakah mereka tak punya akal ataukah mereka tak punya nurani dan telah hilang naluri kemanusiaannya atau ada faktor lain sebagai penyebab utama atas maraknya kejahatan seksual,” katanya saat dihubungi Berita11.com, Senin (1/3/2021).

Dikatakan Magister Psikologi ini, pada umumnya kejahatan seksual, baik yang terjadi pada anak-anak maupun orang dewasa selalu melibatkan orang dekat. Seperti ayah, kakak atau adik, tetangga maupun pacar yang sudah mengenal korban.

“Oleh karena itu, pemerintah harus hadir untuk membantu mengatasi maslah sosial yang sangat merusak citra dan nama baik kita orang Bima yang sudah dikenal oleh masyarakat luas sebagai Dou Mbojo yang agamais dan beradab, yang terkenal dengan pencentak qori-qoriah tingkat nasional maupun internasional,” ujar pria yang dikenal sebagai Ustadz Imam Mujahid ini.

Menurut Akademisi STKIP Taman Siswa Bima ini, pemerintah, lembaga sosial kemasyarakatan (LSM) dan seluruh steke holder yang ada bisa mengadakan diskusi atau seminar menghadirkan psikolog, sosiolog, pakar hukum, akademisi maupun tokoh agama.

Hal itu penting untuk melihat masalah itu dari berbagai sudut pandang atau perspektif, sehingga mengetahui apa yang menyebabkan persoalan sosial itu.

“Supaya dicarikan jalan keluar yang konkrit, sehingga tidak memakan banyak korban lagi. Minimal ada langkah pencegahan,” ujarnya.

Ustadz Imam Mujahid juga mengingatkan dan menyarankan orang tua agar tetap terus waspada terhadap kejahatan seksual yang bisa menimpa siapa saja. Salah satunya dengan meningkatkan peran orang tua dalam mengontrol dan mengawasi anak-anak.

Menurutnya, orang tua perlu mengetahui apa yang sedang dilakukan anak, dengan siapa anak-anak bermain maupun di mana anak berada. “Kemudian peran dai dan para tokoh agama untuk tetap membina akhlak masyarakat agar mereka terjaga dari hal-hal yang bisa mengundang azab Allah,” ujarnya.

Ditambahkannya, fenomena kejahatan seksual yang yerjadi saat ini di Bima-Dompu merupakan tanggung jawab bersama. “Seluruh lapisan masyarakat harus terlibat walau hanya sekadar memberikan informasi,” pungkasnya. [B-11]