Tak Digaji, Puluhan Pekerja "Tambang Hu'u" Meratap, Wahyudin: Kontrak Kami dengan STM hanya 4 Miliar -->

Iklan Semua Halaman

.

Tak Digaji, Puluhan Pekerja "Tambang Hu'u" Meratap, Wahyudin: Kontrak Kami dengan STM hanya 4 Miliar

Tuesday, March 2, 2021


Dompu, Berita11.com-- Puluhan pekerja tambang Hu'u project Sumbawa Timur Mining (STM) meratapi nasib karena sudah lebih dari sebulan tidak menerima gaji. Ironisnya, PT Dompu Gutama Wisata (DGW), subkontraktor yang memperkerjakan 40 karyawan di perusahaan tersebut "angkat tangan" karena tidak memiliki uang untuk membayar gaji karyawan.


Karyawan PT DGW,  Ramdhani mengaku, sudah lebih dari sebulan tidak menerima gaji. Padahal dia sudah melaksanakan kewajiban sebagai pekerja tambang di wilayah tambang STM.


Akibat kondisi tersebut, dia tidak mampu menafkahi kebutuhan rutin anak istrinya dan terpaksa mengambil hutang pada sejumlah orang. "Saya sudah sering menagih kepada bos, kapan gaji saya dan teman teman lain akan digaji. Tapi tidak ada jawaban jelas. Padahal saya sudah jelaskan anak istri saya nggak makan dan saya dihantui penagih hutang karena gaji belum dibayar, " ujarnya di Dompu, Selasa (2/3/2021).


Sejumlah pekerja tambang Hu'u sempat melakukan aksi mogok dan berunjuk rasa. Bahkan sepekan lalu 8, dari 11 pekerja melakukan long march turun dari site project tambang Hu'u tanpa schedule copter.


Selain masalah gaji yang belum dibayar,  pihak perusahaan tidak melaksanakan kewajiban hak jaminan sosial pekerja (BPJS Kesehatan). Padahal setiap bulan karyawan tetap membayar iuran BPJS kepada perusahaan.


Buntut persoalan tersebut, Ramdhani dan bersama pekerja tambang Hu'u lainnya akan menyampaikan pengaduan resmi terkait kasus Hubungan Industrial tersebut kepada Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Dompu.


Dirinya tidak mengetahui bagaimana proses seleksi oleh perusahaan induk atau PT STM terhadap kelayakan perusahaan mitra atau subkontraktor khususnya terhadap PT DGW yang bermasalah kesehatan keuangan sebelum kontrak perjanjian kerja di lingkungan tambang PT STM.


Secara terpisah, Direktur PT DGW, Wahyudin  mengakui perusahaan setempat menunggak   hak gaji karyawan. Bahkan yang belum digaji utuh seluruh karyawan sebanyak 40 orang, termasuk Ramdhani dan kawan kawannya.


Menurut dia, hal tersebut bukan karena kesengajaan perusahaan. Namun karena saat ini PT DGW tidak memiliki uang untuk menggaji karyawan yang sudah terlanjur bekerja. "Bukan tidak mau digaji, tetap saya laksanakan kewajiban saya. Tapi kondisi kami sekarang tidak ada uang," katanya.


Dia mengaku memperoleh kontrak pekerjaan di dalam project tambang Hu'u dari PT STM sebesar Rp4 miliar lebih untuk pekerjaan selama 6 bulan. Sisa pekerjaan oleh PT DGW yang belum dibayar sesuai nota tagihan (invoice) kepada STM tersisa Rp1 miliar.


"Saya tidak punya uang. Kalau wartawan punya uang silakan berikan uang untuk kami. Kalau STM mau bisa menambah pekejaan untuk kami agar bisa membayar gaji karyawan," katanya.


Wahyudin mengaku merugi dalam melaksanakan project di tambang Hu'u. Menurutnya hal itu karena kesalahan dari internal manajemen lama PT DGW sendiri yang tidak melakukan analisis terhadap kesesuaian anggaran dengan durasi pekerjaan atau kemampuan perusahaan setempat membayar gaji karyawan.


Dia mengaku karena adanya masalah keuangan PT DGW, pihaknya terpaksa melakukan perampingan pekerja, sehingga kini yang tersisa 40 pekerja. Sesuai surat, kontrak PT DGW dengan STM tersisa hingga 14 Maret 2021.


Secara terpisah, Kepala Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Dompu, Abdul Syahid SH mengisyaratkan akan menangani serius persoalan hubungan industrial yang dialami pekerja tambang Hu'u.


Dia menyarankan agar para pekerja menyampaikan laporan resmi agar pihaknya dapat menangani perselisihan HI tersebut.


Sebagaimana diketahui, tambang Hu'u PT STM adalah project patungan saham dari 
Eastern Star Resources Pty Ltd (80%), 100% milik Vale SA dan PT Antam Tbk (20%). [B-10/B-11]