Vonis Mati untuk Terdakwa Kasus Pencabulan Anak di Bawah Umur di Bima -->

Iklan Semua Halaman

.

Vonis Mati untuk Terdakwa Kasus Pencabulan Anak di Bawah Umur di Bima

Monday, March 22, 2021
Ketua Majelis Hakim PN Bima, Harris Tewa SH MH Menjatuhkan Vonis Mati Terhadap Pelaku Kasus Pencabulan dan Pembunuhan Terhadap Putri, Anak di Bawah Umur yang Terjadi di Kota Bima. Pembacaan Putusan yang Digelar di PN Bima Dihadiri Kerabat Korban, Senin (22/3/2021).


Bima, Berita11.com— Ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri Bima Harris Tewa SH MH menjatuhkan vonis mati terhadap Padelius Asman, pelaku perkosaan dan pembunuhan terhadap Putri, siswi kelas III SD (10 tahun) yang terjadi di kos-kosan di Kelurahan Tanjung Kota Bima, tahun 2020 lalu.

Putusan tersebut dibacakan langsung Ketua Majelis Hakim PN Bima yang juga ketua PN setempat dalam persidangan yang berlangsung di kantor Pengadilan Negeri Bima, Senin (22/3/2021).

“Perbuatan terdakwa terhadap korban telah terbukti secara sah dan meyakinkan. Tak ada pertimbangan yang meringankan terhadap terdakwa. Dari seluruh rangkaian penanganan kasus ini mulai dari kepolisian, kejaksaan hingga beberapa kali persidangan dilakukan menjelaskan bahwa terdakwa merupakan pelaku persetubuhan hingga membunuh korban yang masih berusia 10 tahun itu,” ucap Ketua Majelis Hakim Harris Tewa SH MH.

“Oleh karena itu, terdakwa divonis pidana mati dan membayar denda selama persidangan berlangsung sebesar Rp5ribu,” kata Ketua Majelis Hakim didampingi dua hakim anggota seraya menetuk palu sidang.

Putusan hakim disambut gembira oleh peserta sidang, termasuk kerabat korban. Usai menjatuhkan vonis mati terhadap Padelius Asman, Ketua Majelis Hakim memberi kesempatan kepada terdakwa untuk menyampaikan tanggapanya.

Menanggapi putusan hakim, Padelius Asman menyataka menyerahkan semua jawaban kepada dua penasehat hukumnya.

Panasehat Hukum Padelius Asman yakni Agus Hartawan SH yang didampingi Fadilah SH menyatakan akan berpikir-pikir dulu sebelum melakukan upaya hukum berkaitan pidana mati terhadap klienya itu.

Sidang pembacaan putusan diikuti pihak JPU yakni Syahrul Rahman SH dan Farhan SH. Sidang juga dihadiri Ketua LPA Kota Bima Juhriati SH MH dan jajaran, Ketua FLOBAMORA NTT Laurenz, kedua orang tua kandung korban dan Stein, saksi kunci yang merupakan adik kandung korban.

Pembacaan putusan juga dihadiri Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Bima Suroto SH MH. Sidang dikawal ketat aparat keamanan Polres Bima Kota.

Ketua LPA Kota Bima Juhriati SH MH menyatakan apresiasi atas putusan majelis Majelis Hakim PN yang dimpimpin Harris Tewa SH MH menjatuhkan vonis mati terhadap terpidana Padelius Asman.

“Seribu jempol dari kami untuk Pak Harris Tewa dan dua hakim anggotanya. Putusan ini merupakan jawaban dari doa dan harapan serta kerja keras kita semua selama ini. Pidana mati ini adalah yang pertama dalam sejarah peradilan di Bima. Selama ini belum pernah ada terdakwa dalam kasus apapun yang divonis mati oleh Majelis Hakim PN Raba-Bima,” ujar Juhriati.

Selain itu, wanita yang juga akademisi STIH Muhammadiyah Bima ini menyampaikan apresiasi terhadap LPA NTB, ahli piskologi Unram, pihak kepolisian, Kejari Bima, pekerja sosial anak, KPAI, FLOBAMORA-NTT, Paguyuban Manggarai karena telah bekerja keras dalam mendorong tegaknya supermasi hukum dalam kasus yang dialami Putri.

“Semoga pidana mati terhadap Padelius Asman ini menjadi pelajaran bagi yang lainya, dengan harapan dapat menghentikan kasus kejahatan terhadap anak di bawah umur khususnya di Bima,” harapnya.

Juhriati juga mengimbau para orang tua tetap menjaga, mengawasi dan mengontrol secara ketat ruang gerak anak. Karena timbulnya kasus kejahatan terhadap anak di bawah umur salah satunya disebabkan besarnya ruang yang diciptakan oleh para orang tua.

“Keluarga dan kebebasan bersifat bablas dari anak-anak itu sendiri. Sekali lagi, mari secara bersama-sama menyelamatkan nasib dan masa depan anak,” ajaknya.

Enji, ayah kandung Putri menyampaikan terima kasih atas putusan Majelis Hakim PN Bima yang telah memvonis mati Padelius Asman.

“Nyawa dibalas dengan nyawa. Terima kasih kepada semua pihak termasuk wartawan yang telah membantu kami dalam mendorong tegaknya supremasi hukum terkait kasus ini. Doa, harapan dan kerja keras kita semua sudah dijawab oleh palu hakim, Padelius telah divonis mati. Terima kasih kami kepada Ketua Majelis Hakim PN Raba-Bima dan dua orang hakim anggotanya,” ungkapnya.

Ungkapan yang sama juga disampaikan Ketua FLOBAMORA-NTT, Lorenz. “Saya tidak bisa berkomentar banyak. Terima kasih kepada semua pihak yang telah bekerja keras dalam menndorong tegaknya supermasi hukum terkait kasus ini. Ungkapan terima kasih, apresiasi, bangga dan penghormatan yang setinggi-tingginya kami sampaikan kepada Ketua Majelis Hakim PN Raba-Bima, Harris Tewa dan dua orang hakim anggota karena telah mevonis mati Padelius Asma,” ucapnya.


Warning untuk Predator Anak

Sementara itu, Ketua Majelis Hakim Harris Tewa SH mengatakan pidana mati terhadap pelaku kejahatan pada anak di bawah umur kemungkinan belum pernah terjadi atau kemungkinan telah terjadi di Indonesia.

“Khusus peradilan terhadap kasus kejahatan terhadap anak di bawah umur, mungkin ini yang pertama kali terjadi dan mungkin saja jarang terjadi di Indonesia. Biasanya, selama ini vonis penjara terhadap para pelakunya hanya 18 -20 tahun penjara,” katanya.

“Kalau hukuman mati terhadap pelaku kejahatan terhadap anak dalam sejarah peradilan di Bima memang tidak pernah terjadi, kacuali kepada Padelius Asman ini,” ujarnya.

Harris menjelaskan beberapa pertimbangan Majelis Hakim PN Bima menjatuhkan vonis mati terhadap Padelius Asman. “Pertimbangan kami untuk mempidana mati yang bersangkutan bukan saja karena dia terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindakan tak manusiawi terhadap Putri. Tetapi, tiga orang Majelis Hakim termasuk saya menyatakan sepakat untuk memvonis mati Padelius Asman,” ujar hakim yang juga Ketua PN Bima ini.

Menurut Harris, kejahatan yang dilakukan oleh Padelius Asman terhadap Putri merupakan peristiwa sadis. Karena korban terlebih dahulu dipaksa, disetubuhi, dibunuh dan kemudian digantung di depan pintu kamar kosnya. Pelaku menggantung korban korban di depan pintu kamar kosnya dan dibuat seolah-olah bunuh diri.

Dikatakannya, pada sisi lain, kasus kejahatan terhadap anak di bawah umur khususnya di Bima semakin marak terjadi. Jumlah korban dari kasus kejahatan terhadap anak di Bima grafiknya cenderung meningkat.

“Bisa bayangkan, dalam satu minggu ada empat laporan polisi terkait kasus kejahatan terhadap anak di bawah umur. Pidana mati yang telah dijatuhkan kepada Padelius Asman tersebut, diharapkan dapat memberi efek jera kepada yang lain. Soal Padelius Asman akan mengajukan banding atau upaya hukum lain atas putusan ini, itu soal lain. Tetapi pidana mati telah dijatuhkan kepadanya,” ujarnya. [B-12]