Keluarga Korban KDRT Tuding, Statemen Kejari Dompu Diduga tidak Benar -->

Iklan Semua Halaman

.

Keluarga Korban KDRT Tuding, Statemen Kejari Dompu Diduga tidak Benar

Thursday, April 22, 2021
Orangtua korban kasus KDRT Gajali Abakar. Foto ist.


Dompu, Berita11.com - Gajali Abakar ayah dari korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) inisial IPN menuding atas statemen Kepala Kejari Dompu Mei Abeto Harahap, S.H., M.H saat menggelar konferensi pers pada Rabu (21/4/2021) sore yang menyatakan terdakwa Alfian Putra Setia dan IPN sudah damai.


"Memang pada saat itu hari Selasa (23/3) kita dipanggil untuk dimediasi dan kita pun datang, saat mediasi di ruang Pidum yang ada saat itu, Saya, anak saya (Korban, red), Kasi Pidum, Kejari dan Kasi Pidsus, tidak ada kita damai, statemen Kejari di Berita itu tidak benar," tuding Gajali, Kamis (22/4) malam.


Ia mengaku, saat ditanya Kasi Pidsus Muhammad Isa Ansyori, SH terkait masalah damai atau tidak, pihaknya malah menjawab dengan tegas bahwa masalah yang menimpa anaknya itu tidak ada kata damai dan pihaknya harus melanjutkan ke meja hijau atau pengadilan.


Andaikan saja ada kata damai, lanjut Gajali, tentu kedua belah pihak harus memiliki pegangan masing-masing atas surat yang disepakati itu, anaknya saat ketika ditanya Kasi Pidsus terkait persoalan itu anaknya memang memaafkan itu pun secara lisan, bukan untuk dijadikan rujukan dalam persidangan. 


"Surat yang ditandatangani anak saya itu bukan surat damai melainkan surat bahwa untuk melanjutkan proses hukum hingga ke meja persidangan, dan tekat itu telah ditulis tangan anak saya sendiri di bawah ujung surat itu," tegasnya.


Gajali kembali menegaskan, saat mediasi berlangsung, tidak ada kata damai malah yang ada adalah saling baku cek cok dan terdakwa diduga malah menghina dan mencaci maki anaknya bahkan terdakwa menuduh anaknya selingkuh dengan pria lain.


"Saat mediasi itu, jangankan kata damai, kata maaf saja, mana bisa muncul, karena suasananya genting dan memanas. Apalagi anak saya di hina dan dituduh selingkuh, hingga saya menunjuk muka terdakwa saat itu karena saya kesal," terang Gajali.


Hal serupa disampaikan korban KDRT IPN, ia mengaku dan menegaskan tidak ada kata damai hanya ia memaafkan secara lisan atas perbuatan terdakwa dan bertekad akan teruskan persoalan yang menimpanya itu ke pengadilan saat ditanyakan Muhammad Isa Ansyori, S.H kepadanya.


"Tidak ada kata damai saat itu, saya tekad untuk lanjut sampai ke persidangan, bahkan hal itu saya menulis dalam surat itu bahwa saya tidak sanggup lagi hidup sama dia (terdakwa, red) ujarnya. [B-10]