KPwBI Provinsi NTB Siapkan Rp2,54 Triliun untuk Penuhi Kebutuhan Selama Ramadan dan Idul Fitri -->

Iklan Semua Halaman

.

KPwBI Provinsi NTB Siapkan Rp2,54 Triliun untuk Penuhi Kebutuhan Selama Ramadan dan Idul Fitri

Thursday, April 22, 2021
Kepala KPwBI Provinsi NTB, Heru Saptaji.



Mataram, Berita11.com— Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi NTB telah menyiapkan kebutuhan uang rupiah masyarakat periode Ramadan dan Idul Fitri 1442 H, baik dari segi jumlah maupun jenis pecahan yang dibutuhkan masyarakat NTB dalam kondisi layak edar.

Dalam mendukung pemulihan aktivitas ekonomi, kebutuhan uang rupiah selama periode Ramadan dan Idul Fitri 1442 H diprakirakan mengalami peningkatan sebesar 15% (yoy) menjadi Rp2,34 triliun dibandingkan kebutuhan dari tahun 2020 yang tercatat sebesar Rp2,04 triliun.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Heru Saptaji mengatakan, berdasarkan proyeksi perbankan di NTB, kebutuhan uang selama bulan Ramadan terdiri dari uang pecahan besar (UPB) Rp2,19 triliun dan uang pecahan kecil (UPK) Rp0,15 triliun. 

“Untuk itu, KPwBI Provinsi NTB telah menyiapkan kebutuhan tunai masyarakat Rp2,54 triliun dengan tetap memerhatikan berbagai asumsi makroekonomi terkini dan kondisi terkait penyebaran pandemi Covid-19,” kata Heru, Kamis (22/4/2021).

Dikatakan, dalam rangka memenuhi kebutuhan rupiah di masyarakat, Bank Indonesia bersinergi dengan perbankan yang ada di wilayah NTB untuk memberikan layanan penukaran kepada masyarakat melalui seluruh kantor cabang bank yang tersebar di seluruh wilayah NTB.

Selain itu, BI juga membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mendapatkan uang peringatan kemerdekaan 75 tahun Republik Indonesia (UPK 75 tahun RI) melalui penukaran di perbankan atau melalui aplikasi penukaran PINTAR Bank Indonesia (https://pintar.bi.go.id) dengan mendaftarkan 1 KTP untuk penukaran maksimal 100 (lembar) UPK 75 tahun RI setiap hari dan dapat diulang pada hari berikutnya.

Bank Indonesia menegaskan bahwa UPK 75 tahun RI merupakan alat pembayaran yang sah di seluruh wilayah NKRI.

Adapun dari sisi sistem pembayaran nontunai di Provinsi NTB, transaksi nontunai pada Maret 2021 tercatat 1.720 transaksi melalui RTGS atau tumbuh 19,61% (yoy) dengan nilai transaksi Rp2,6 triliun atau tumbuh 12,82% (yoy). Sementara pada transaksi melalui SKNBI terdapat 24.568 transaksi atau turun 8,13% (yoy) dengan nominal Rp1,2 triliun atau turun 5,98% (yoy).

Berdasarkan data sistem pembayaran secara nasional, jumlah alat pembayaran menggunakan kartu (APMK) 3,1 juta kartu yang terdiri dari kartu kredit dan kartu debit dengan volume 6,1 juta transaksi, meningkat 23,68% (yoy) atau tercatat Rp5,9 triliun atau meningkat 22,95% (yoy) pada Maret 2021.

“Peningkatan juga tercatat pada transaksi uang elektronik, di mana saat ini terdapat 447 ribu akun dengan volume 1,1 juta transaksi, tumbuh 118,81% (yoy) dengan mencapai nominal sebesar Rp113 miliar atau tumbuh 168,28% (yoy) dari tahun sebelumnya,” ujar Heru.

Untuk transaksi nontunai berbasis QRIS, pada awal April 2021 terdapat 63.487 merchant tersebar di seluruh wilayah provinsi NTB dan terus bertambah untuk melayani transaksi menggunakan QRIS. Dalam rangka mendorong akselerasi digitalisasi ekonomi dan keuangan yang inklusif dan efisien, mulai 1 Mei 2021, limit transaksi QRIS ditingkatkan dari Rp2 juta menjadi Rp5 juta per transaksi. Dengan keberadaan transaksi nir-sentuh khususnya QRIS, diharapkan menjadi solusi untuk mendorong kelancaran transaksi pembayaran masyarakat dengan tetap memenuhi protokol Covid-19.

Dalam melaksanakan kegiatan aktivitas ekonomi, khususnya selama Ramadan dan Idul Fitri 1442H, Bank Indonesia mengimbau masyarakat untuk selalu tertib dan mematuhi protokol pencegahan Covid-19 yang berlaku, antara lain, menggunakan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak.

Masyarakat juga diimbau tidak melakukan penukaran uang melalui jasa penukaran uang tidak resmi atau perantara lainnya, mengingat terdapat risiko, antara lain tidak ada jaminan ketepatan jumlah uang yang ditukar, kemungkinan menerima uang palsu, serta adanya pungutan biaya. [B-11]