Sinergi Pengendalian Inflasi, Heru: Kontraksi Ekonomi NTB -0,64%, hanya Pertambangan yang Normal -->

Iklan Semua Halaman

.

Sinergi Pengendalian Inflasi, Heru: Kontraksi Ekonomi NTB -0,64%, hanya Pertambangan yang Normal

Wednesday, April 14, 2021

High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah Provinsi NTB di Kantor Gubernur NTB di Mataram, Rabu (14/4/2021).


Mataram, Berita11.com— Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Barat, Heru Saptaji menyebut secara keseluruhan ekonomi NTB di tengah pandemic Covid-19 tahun 2020 terkontraksi sebesar -0,64% (yoy), menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang tumbuh sebesar 3,90% (yoy). Kondisi tidak normal tersebut memberikan dampak kontraksi pada hampir seluruh lapangan usaha, kecuali lapangan usaha pertambangan selama tahun 2020.

Untuk tahun 2021, proyeksi Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) NTB berada di kisaran 4,3- 4,7% (yoy) dengan potensi bias bawah akibat proyeksi penurunan produksi pertambangan, recovery pertanian yang terhambat karena faktor cuaca ekstrem, penundaan event besar MotoGP ke bulan Maret 2022 dan proses vaksinasi yang masih terbatas.

Menurut Heru, pengupayaan pencapaian kuota ekspor 2021 di sektor pertambangan dari 373.000 ton menjadi 579.000 ton, peningkatan proses vaksinasi dan penggalian potensi sektor nontambang antara lain kopi, lobster, vanili, kerajinan ketak, sarang burung wallet, teripang, tenun, dan sebagainya sebagai new source engine of growth dapat menjadi strategi percepatan pemulihan ekonomi.

Hal itu disampaikannya pada High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi NTB yang dipimpin Gubernur NTB, Dr H Zulkieflimansyah SE M.Sc di ruang rapat utama kantor Gubernur NTB, Rabu (14/4/2021).

Heru menyampaikan berdasarkan data perkembangan inflasi 10 tahun terakhir, inflasi di Provinsi Provinsi NTB cenderung berada di bawah atau berdempetan dengan inflasi nasional. Memasuki Maret 2021 inflasi sebesar 1,56% (yoy) tercatat lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang sebesar 1,37% (yoy), walau masih dalam kisaran target sebesar 3±1%.

“Komoditas penyumbang inflasi berdasarkan frekuensinya selama lima tahun terakhir untuk volatile food yaitu beras, daging ayam ras, bawang merah, telur ayam ras, dan daging sapi,” ujarnya.

Berdasarkan diskusi dan pendalaman yang dilakukan, terdapat langkah pengendalian inflasi dan stabilisasi harga pada tahun 2021 dengan mengacu pada strategi 4K yaitu, ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif). Sementara rekomendasi program dan kegiatan pengendalian inflasi 2021 dalam jangan pendek yaitu operasi pasar murah untuk menjaga keterjangkauan harga di lokasi strategis selama Ramadan dan menjelang Idul Fitri, koordinasi terkait ketersediaan pasokan dan inspeksi pasar dan distributor untuk memastikan ketersediaan pasokan dan mencegah praktik penimbunan.

Adapun untuk jangka menengah hingga jangka panjang meliputi upaya menyiapkan ketersediaan pasokan melalui penguatan klaster pangan penyumbang inflasi volatile food, pengembangan urban farming di kawasan perkotaan, peningkatan infrastruktur pendukung seperti drying house, gudang dan milling rice di beberapa lokasi sentra produksi, penguatan kerja sama perdagangan antardaerah (KAD), penyelesaian infrastruktur pendukung seperti bendungan dalam rangka intensifikasi pertanian dan pengendalian banjir, sehingga buffer ketersediaan pasokan semakin kuat.

Selain itu, keterjangkauan harga melalui kerja sama dengan mitra strategis sebagai off taker yang bersinergi dengan BUMD, mewujudkan kelancaran distribusi melalui pemetaan jalur distribusi pasokan bahan pokok dan data terkait TPID yang terintegrasi dan akurat, serta menjaga jalur distribusi tetap lancar dan aman, mewujudkan komunikasi efektif melalui imbauan kepada masyarakat untuk cerdas dan bijak dalam belanja, mendorong diversifikasi pola konsumsi masayarakat dan komunikasi kebijakan lainnya.




Dalam sambutannya, Gubernur NTB yang juga Ketua TPID Provinsi NTB, Dr HZulkieflimansyah, S.E M.Sc menyampaikan arahan agar sinergi dalam pengendalian inflasi yang sudah terjalin selama ini dipertahankan dan ditingkatkan, khususnya menghadapi Ramadan dan Idul Fitri 2021.

“Karena hal tersebut merupakan kunci TPID Provinsi NTB untuk mampu mengendalikan inflasi secara stabil,” kata Doktor Zul.

Selain itu, katanya, sinergi dalam menghadapi hari besar keagamaan nasional (HBKN), penerapan industrialisasi dapat menjadi salah satu strategi pengendalian inflasi untuk jangka panjang yang saat ini telah diinisiasi di NTB. Pelaku usaha diharapkan tidak hanya menjual bahan baku mentah, namun berani untuk melakukan pendalaman struktur pada komoditas-komoditas yang memiliki nilai tambah.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi NTB yang juga Pelaksana Harian Tim Pengendalian Inflasi Daerah Provinsi NTB, Drs H Lalu Gita Aryadi M.Si menginstruksikan kepada seluruh OPD berkaitan agar bersinergi dan langsung mengerjakan hasil rekomendasi dari pertemuan hari ini.

HLM TPID Provinsi NTB dipimpin langsung oleh Gubernur Provinsi NTB, Dr H ZulkieflimansyahM.Sc. kegiatan juga dihadiri oleh Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Heru Saptaji dan Sekretaris Daerah Provinsi NTB, Drs. H. Lalu Gita Aryadi, M.Si serta anggota TPID Provinsi NTB, TPID kota dan kabupaten di Provinsi NTB.

Kegiatan diakhiri inspeksi mendadak ke sejumlah pasar di Kota Mataram untuk memantau perkembangan harga beberapa komoditas secara langsung dengan pedagang dan diskusi dengan masyarakat. [B-11]