Soal Penolakan Wartawan, Kejari Dompu Akui tak Kenal Wartawan karena tidak Seragam -->

Iklan Semua Halaman

.

Soal Penolakan Wartawan, Kejari Dompu Akui tak Kenal Wartawan karena tidak Seragam

Thursday, April 22, 2021
Dari kanan, Kasi Pidum Islamiyyah S.H., M.H, tengah, Kepala Kejari Dompu Mei Abeto Harahap, S.H., M.H dan ujung kiri Kadi Intel Indra, SH. Foto Poris Berita11.com.


Dompu, Berita11.com - Terkait penolakan wartawan sebagaimana yang diberitakan sebelumnya, Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Dompu Mei Abeto Harahap, S.H., M.H mengaku tidak kenal wartawan.


Hal itu disampaikannya saat menggelar konferensi pers didampingi Kasi Pidum Islamiyyah S.H., M.H dan Kasi Intel Indra, SH di kantor Kejari Dompu pada Rabu (21/4/2021) sore.


Menurut Mei Abeto, sejumlah wartawan yang hendak konfirmasi terkait tuntutan JPU Kejari Dompu terhadap terdakwa Alfian saat itu tidak mengenakan baju seragam, layaknya pakaian kedinasan seperti baju yang dikenakannya, sehingga ia tidak mengenal wartawan.


Apalagi dalam waktu bersamaan pihak keluarga korban Gajali orangtua dari IPN ingin ketemu dengannya guna mempertanyakan terkait tuntutan JPU yang dinilai telah merugikan pihak korban.


"Yang nama Gajali ini siapa, yang lain ini saya nggak tahu, mohon maaf teman-teman pers tidak berseragam seperti saya jadi identitasnya yang jelas, jadi saya nggak tahu mana teman-teman pers dan mana pak Gajali," ungkapnya.


Padahal, saat terjadi penolakan terhadap sejumlah wartawan sebagaiman yang diberitakan sebelumnya, Mei Abeto menyarankan wartawan untuk tidak meliput di Kejari dan mengarahkan untuk meliput di Pengadilan dan jika meliput di Kejari, wartawan sudah salah kamar.


Kendati demikian, Mei Abeto menjelaskan bahwa pihaknya dengan wartawan terjadi miskomunikasi dan ia mengaku tidak pernah menolak apalagi menghalangi pekerjaan pers.


"Sekali lagi, miskomunikasi ini tolong dipahami tidak ada maksud kami untuk menolak wartawan apalagi saya sebagai kepala Kantor di sini tidak pernah menghalangi teman-teman wartawan," bebernya.


Terlepas dari hal itu, lanjut Kajari, apabila sikapnya dianggap tidak baik menurut wartawan yang saat itu hadir di kantor Kejari Dompu, pihaknya pun meminta maaf.


Karena sesungguhnya apa yang dilakukannya itu sudah sesuai dengan ketentuan dengan memberitahukan kepada para wartawan untuk meliput di Pengadilan Negeri. 


"Kalau wartawan mengganggap sikap saya tidak baik, saya minta maaf," ucapnya.


Berangkat dari tuntutan JPU terhadap Alfian satu bulan penjara, pihaknya tidak bisa berkomentar soal itu karena sepengetahuan dia pers belum tercatat di dalam sistym Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) padahal pers terlebih dahulu mendaftarkan diri di pelayanan PTSP.


"Saya tidak punya kapasitas untuk klarifikasi soal itu, tapi yang terklarifikasi adalah yang tercatat di dalam sistym PTSP kita, sekali lagi mohon maaf ya, monggo-monggo saja kapan pun sepanjang tercatat karena memang sistym kita setiap tamu, siapapun yang ingin berkunjung menemui kasi Pidum, Kasi Pidsus bahkan ingin menemui saya supaya dicatat," katanya.


"Itu menunjukan bahwa kita ingin supaya ada transparansi ada tolak ukur satu hari ini berapa tamu saya ini dalam rangka mewujudkan kita dalam pelayanan publik," sambungnya.


Mei Abeto mengakui, usai pertemuan dengan keluarga korban pihaknya pun keluar dan tidak melihat satupun anggota pers dan pihaknya pun merasa kebingungan.


"Terkait bahwa saya menghalangi, wah, saya pikir itu keliru, mungkin belum kenal saya juga, tapi nggak apa-apa lah saya juga memahami dan memaklumi karena situasinya," tuturnya. [B-10]